-82- Diam itu emas?

DSCN1411

Pernah dengar pepatah diam itu emas? Pepatah lama yang kemudian saya tahu butuh waktu untuk benar-benar memahaminya. Sebenarnya lama sekali saya berpendapat bahwa diam bukan berarti emas, karena saya selalu berfikir “utarakanlah!”.

Ambil contoh waktu sekolah dulu. Guru biasanya akan agak kesal ketika kelas di tanya, “ada yang mau ditanyakan? Kelas hening. Kemudian, “sudah mengerti?”, dan kelas masih hening. Guru pening, hehe. Akhirnya beberapa guru saya dengan amat terpaksa bilang gini, “diam adalah emas, emas adalah kuning kuning adalah t*i”, kelas pun akhirnya sedikit mencair. “tidak selamanya diam itu emas ya anak-anak, kalau ada permasalahan ya ditanyakan daripada dipendam nanti tumbuh jerawat”, lanjutnya kemudian. Entahlah, dari dulu kelas yang saya ikuti di sekolah lebih banyak diamnya. Adapun saya yang kadang bertanya, hanya terinspirasi dari buku bacaan, itupun kadang pertanyaannya terasa aneh. Bukan pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan. Mungkin karena jarangnya bertanya, saya pun lupa caranya berkalimat tanya.

Semakin tinggi sekolah, herannya kelas semakin hening dan saya pun semakin pelik mengutarakan tanya. Kadang banyak sekali yang ingin ditayakan tapi tak satu kata pun terucap. Pernah juga terpikir, tidak perlulah bertanya nanti cari tahu sendiri di buku. Mungkin semua anggota kelas berfikir seperti itu jadi tambah hening kelasku dulu itu. Lainnya, saya juga pernah ada rasa malu untuk bertanya, pertanyaan macam itu saja ditanyakan, aduh capek deh! Ini juga saya rasa akibat kurangnya berlatih bertanya sehingga malu yang diada-adakan. Karena, walaupun ada yang berfikir seperti itu harusnya ya tidak apa-apa, kan tidak semua orang diberi kemampuan yang sama dalam memahami sesuatu secepat dia, dia, atau dia (nunjuk acak). Kalau sudah terbiasa bertanya saya rasa hal malu seperti ini tidak seharusnya terjadi.

Semakin tinggi sekolah mungkin sudah pada memahami diam itu emas, entahlah. Apalagi setelah bekerja kok ya diam itu emas semakin membudaya gitu. Hanya segelintir saja orang yang berani bertanya. Terlebih di hadapan pemimpin yang dihormati, disegani apalagi yang ditakuti, sudah deh bungkam.

Perjalanan panjang mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa tidak selamanya diam itu emas. Adakalanya kita harus berani tampil mengutarakan isi kepala. Tidak peduli apa kata orang sebatas apa yang kita utarakan positif dan sejauh pengamatan kita benar ya tidak masalah bertanya atau mengutarakan pendapat. Benar menurut pribadi belum tentu benar menurut orang lain. Tapi, kalau kita yakin benar sudah itu maju, toh kita punya alasan. Sehingga, kalau pun harus berdebat ya sehat karena masing-masing memiliki alasan. Tidak ketemu solusinya ya sudah saling menghormati, itu! Jadi, tidak perlu lagi takut atau malu sebenarnya, sebenaaaaaarnyaaa. Tapi, kebiasaan telah menebalkan rasa malu dan takut. Butuh waktu kembali untuk membiasakannya.

Mencoba kembali berbicara. Ada periode dalam hidup saya di mana saya begitu banyak bicara, banyak omong. Dan saya kadang tidak sadar telah melebihkan dan mengurangkannya. Terjadi kalau perbincangan sudah mulai heboh mengasyikan atau sudah mulai banyak kompor dari sana sini, biasanya perbincangan menjadi tak terkendali. Komentar yang seharusnya tidak keluar bak peluru yang dilepaskan ia sulit sekali ditahan, astagfirulloh.

“Aduh kok salah mulu sih, kan sudah ada panduannya, ini orang malas sekali, buru cepat sekali…”, terus ditanggapi sama yang lain. Bukannya meredam malah tambahannya bak bensin yang sekali siram membesar ke mana-mana. Dan ini terjadi dalam hidup saya. Saya sering sekali terbawa arus perbincangan yang seperti ini.

Ketika pulang ke rumah. Kemudian merenung. Saya tahu perbincangan yang seperti itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Buat apa coba? Lagipula jika kita yang di posisi objek apakah kita rela atau minimal merasa biasa saja? Inilah saatnya seharusnya saya diam. Walaupun ruangan menjadi hening harusnya tidak masalah daripada berbicara hal yang tidak ada manfaatnya. Membicarakan kejelekan seseorang bagaimanapun halusnya ujungnya tetap saja tidak bermanfaat. Cukup tahu saja, sudah. Tapi, kadang kebanyakan kita gatal kalau tidak diuangkapkan. Duh, merasa diri paling bener nih kalau sudah begini, astagfirulloh.

Ada hal-hal yang sebaiknya disimpan, cukup kita saja yang tahu. Karena kalau diutarakan bukan kebaikan yang kita dapat malah sebaliknya, diam itu emas kawan, percaya kamu akan mengetahuinya setelah melakukannya. Dan ada juga yang memang perlu diutarakan agar kita lebih faham. Ketika berfikir kita lebih faham, yakinlah bahwa ada juga teman-teman lain yang ingin difahamkan juga, mungkin mereka bingung bertanya, malu, atau memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Mudah-mudahan pertanyaan kita atau pernyataan kita, omongan kita apapun itu bisa menjadi pelita minimal untuk diri sendiri, aamiin.

Jadi, tidak selamanya diam itu emas pun sebaliknya…

Self reminder.

Advertisements

3 thoughts on “-82- Diam itu emas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s