-80- Catatan Kantor

Berbicara tentang kenaikan gaji selalu menyenangkan di tengah padatnya aktivitas kerja. Selalu saja menjadi oase. Masih hangat, entah masih wacana atau sudah disahkan beredar tabel kenaikan TK. Tak ayal kami lupa dengan semua lelah dan semangat berbincang tentang topik yang selalu mengasyikan dan bahkan jarang sekali menimbulkan perdebatan.

Tidak seperti kenaikan gaji di mana setiap pegawai mengalami kenaikan yang sama sesuai porsinya yang telah dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Maksudnya sesuai dengan masa jabatan dan golongan ruang. Artinya gaji kita sebagai abdi negara secara berkala akan naik setiap dua tahun sekali yang besarannya sama tiap pegawai dalam satu golongan ruang. Begitu pun jika kita naik golongan misal dari IIIa ke IIIb dan seterusnya, ia pun akan mengalami kenaikan gaji dengan nominal yang sama . TK ini kenaikannya tidak bisa diprediksi.

Memang kenaikan TK disesuaikan dengan penilaian capaian Reformasi Birokrasi setiap instansi. Jadi hal tersebutlah yang membuat kenaikan TK sulit diprediksi. Dari tabel yang beredar beberapa hari yang lalu, sepertinya kita akan menikmati kenaikan TK kembali. Tapi, baru kali ini kenaikan gaji ada tapinya, hehe…kenaikan per grade nya ada yang tidak sama yaitu pada kelas jabatan eselon IV dan fungsional muda yang sama-sama menempati grade 9. Eselon IV naik dua kali lipat fungsional muda. Fyi, eselon IV memegang jabatan structural aka kepala seksi, dia memegang tanggung jawab pekerjaan di seksinya. Sementara itu jabatan fungsional muda atau fungsional secara umum bekerja berdasarkan prinsip profesionalitas, artinya seorang fungsional bekerja berdasarkan keahliannya dan bersifat mandiri. Pekerjaannya bisa lintas seksi sesuai keahlian yang dimilikinya.

Untuk menjadi pejabat struktural misal eselon IV ini tidak serta merta kita mau dan jadi, tapi ada tahapan perekomendasian yang kadang seperti durian runtuh. Jabatan ini masih cukup bergengsi di instansi manapun, mungkin salah satunya karena jabatan ini merujuk kepada kepemimpinan, dia memiliki bawahan minimal satu yah walaupun pada kenyataannya ada juga jabatan eselon IV yang tidak memiliki bawahan. Kadang jabatan ini pun menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang di dunia kerja. Berarti prestasi kerjanya bagus sehingga dilirik atasan untuk direkomendasikan di jabatan tersebut: beneeerrr!

Sementara itu menjadi pejabat fungsional adalah keniscayaan. Semua pegawai bisa menjadi dan melakukannya tidak ada faktor X di sini, kuncinya rajin dan ada kemauan. Rajin dan mau menyusun Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit tiap semesternya sebagai salah satu penilaian kerja seorang fungsional. Melalui DUPAK itulah seorang fungsional ditentukan kelayakannya naik pangkat atau tidak di jabatan fungsional.

Kadang dalam bekerja kita membutuhkan tujuan yang jelas, tujuan yang kita kejar agar setiap harinya lebih bersemangat. Misal seorang staf biasa mungkin bercita-cita suatu saat menjadi pejabat structural, sehingga ia rajin dan secara gamblang menunjukkan prestasi kerja. Tapi, untuk menjadi pejabat struktural karena ada factor X maka kita tidak tahu kapan cita-cita itu menepi di dermaga kita.

Lain halnya dengan jabatan fungsional karena setiap pegawai bisa melakukannya jadi cita-cita itu sungguh dekat dan nyata. Jabatan fungsional seperti halnya jabatan struktural, ia pun memiliki jenjang karir. Dan asyiknya kita bisa merencanakn dan mengejarnya sehingga bisa membuat semangat tiap hari layaknya pegawai swasta yang selalu dikejar deadline. Yaitu karena nilai angka kredit sebagai poin pengajuan kenaikan pangkat angkanya sangat sangat kecil sehingga kalau seorang pejabat fungsional tidak rajin setiap harinya alamat dia akan terseret-seret dan akhirnya tergusur.

Selain mengejar karir, jabatan fungsional juga bisa menjadi media bagi mereka yang senang bekerja tapi tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Namanya staf biasa, pekerjaan biasanya lungsuran dari atasannya, nah mati gaya jika seharian tidak ada kerjaan dari atasan. Yah situ kan bisa nyambi apapun tidak melulu terima job dari atasan. Iya tapi kan kalau jadi pejabat fungsional kerja nyambi yang ada angka kredtinya bisa jadi modal naik pangkat, begitu. Yah berarti situ bekerja pamrih dong selalu mengejar angka kredit? Terus salah?

Bukan juga begitu, karena menjadi pejabat fungsional kita diberikan panduan kerja pekerjaan apa saja yang ada angka kreditnya artinya pekerjaan tersebut sesuai dengan keahlian kita, jadi kita bisa memilih pekerjaan yang bisa dilakukan di kala kantor lagi sepi job, begitu maksudnya. Ya selain juga angka kredit jadi nambah semangat kerjanya, anggap vitamin.

Apapun alasannya saya kira semua pegawai berhak mendapat harapan yang sama tentang jenjang karir yang dicita-citakan. Melihat tabel kenaikan TK saya kira harapan sebagian dari kita sedikit terpangkas, yang tadinya semangat karena akan sama juga levelnya dengan pejabat struktural eh dipupus. Entah pertimbangan apa sehingga pimpinan mengajukan tabel kenaikan TK seperti itu tapi keep positive thinking, tidak untung juga nyinyir tapi mengutarakan daripada dipendam lebih baik hehe.

Kerja pejabat struktural lebih berat dia memiliki tanggung jawab lebih? Kalau job desk pejabat struktural yang jelas dan detail itu sudah mampu dilaksanakan dengan baik minimal oleh rata-rata mereka yang memegang jabatan tersebut masih bisa diterima dengan menghilangkan kata tapi. Minimal rata-rata loh bukan keseluruhan karena sebagai seorang statistisi saya percaya selalu ada pencilan.

Lagipula pejabat fungsional yang setara dengan pejabat eselon IV jumlahnya jauh lebih sedikit. Memiliki beberapa professional di sebuah instansi tidaklah merugikan. Memupuk mereka agar lebih professional apalagi bisa menghasilkan karya di luar batasan instansi tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi semua tetap dikembalikan kepada mereka yang memiliki kendali dalam hal membuat kebijakan dan kemudian memutuskan. Tapi sekali lagi memberi harapan yang sama di kelas jabatan yang sama akan jauh lebih kondusif.

Tapi yang saya sadari kemudian adalah bekerja karena kesenangan mengalahkan apapun, jadi bagaimanapun tabel TK nantinya tidak membuat saya berhenti atau tetap bekerja di sini. Kalaupun suatu saat nanti ternyata saya memilih yang lain itu bukan karena TK atau yang lainnya semata-mata karena kesenangan, karena saya suka melakukannya, pekerjaan yang selalu membuat bersemangat dan saya senang melakukannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s