-74- Obrolan 45 menit dan De Javu

Bismillah…

Senin 1 Juni 2015 untuk pertama kalinya saya naik pesawat berdua saja dengan Maryam 21mo. Ketika naik sih, aman. Pas datang di bandara masih ditemenin Abahnya. Datangnya pun agak mepet jadi tidak nunggu lama langsung check in dan tidak sampai menunggu lama di t=ruang tunggu langsung take of. Di pesawat Maryam manis sekali, beda banget ketika usia 1 tahun dulu. Yang namanya rewel sampai nangis kejer di pesawat tidak ada kemarin, pokoknya Maryam nice sekali. Alhamdulillah.

Sepanjang perjalanan 45 menit Maryam saya gendong, lebih enak sih menurut saya. Selama anaknya nyaman bagi saya tidak masalah.

Nah, di samping saya itu duduklah seorang bapak usia akhir 30an. karena penampilannya yang rapi dan sepertinya pandai juga merawat diri, awalnya saya pikir belum menikah. Bukan karena seperti masih muda tapi memang di Sulawesi laki-laki biasanya menikah di usia matang. Mengingat mereka benar-benar harus mempersiapkan salah satunya dari sisi materi. Ya iyalah nikah mah di mana-mana juga mahal kan ya. Selama ada keluarga yang ingin disenangkan, pernikahan mahal menjadi sangat relatif.

Berawal dari tanya-tanya ringan soal anak, sampai obrolan panjang yang membuat perjalanan kok berasa cepat ya. Karena ternyata kami punya kesamaan: sama-sama jebolan sekolah pelat merah. Bedanya si bapak itu tidak dijamin jadi PNS sementara saya sendiri langsung otomatis PNS dengan resiko siap dan mau ditempatkan DI SELURUH WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA, DAHSYAT! Si bapak selesai kuliah diterima di sebuah perusahaan di Kalimantan. Dia pun bercerita betapa sulitnya waktu itu. Walaupun secara penghasilan mapan tapi susah sekali berkumpul dengan keluarga di Sulwasei. Berhubung pesawat belum ada yang langsung Kalimantan – Sulawesi. Sampai akhirnya dia memutuskan ikut tes CPNS Pemda dan lolos.

Si bapak itu pun kembali berkumpul dengan keluarga besar, happy ending hehe. Gitu doang? Enggak lah. Justeru cerita yang mau tidak mau membuat saya berfikir bukan itu, bukan cerita pribadi si bapak nya.

Sebagai lulusan PT plat merah, temannya tidak hanya dari kampusnya semata. Si bapak ini mungkin gaul dulunya kali, jadi, beberapa temannya dari PT plat merah lain yang langsung jadi PNS ada yang sering cerita sama dese. Teman si bapak ini sebut saja Anwar.

Pak Anwar ini dan istri ditempatkan di Papua. Mereka sejak awal tidak pernah terbersit untuk berinvestasi dalam bentuk apapun di Papua. Jadi sejak awal sampai kepindahan mereka ke Jawa, yes, sekarang mereka sudah pindah, mereka hanya nge kos bukan kontrak ya. Kos yang hanya satu kamar dan ruangan lainnya dipakai bersama-sama. Untuk ukuran keluarga bagi saya cukup waw, karena saya sendiri apalagi sudah ada anak rasanya tidak sanggup harus berbagi ruangan dengan yang lain.

Selama di Papua menurut bapak itu ya, Pak Anwar ini murni hanya bekerja dan semua hasil jerih payahnya di investasikan di Jawa tanah harapan bagi dirinya dan keluarganya. Setelah cukup bertahun lama mereka merantau akhirnya mereka memutuskan resign dan kembali ke kampung halaman mengurus bisnis kecil-kecilan yang sudah dirintis dari tanah rantaunya dulu.

Seketika saya mikir, berasa de javu. Pilihan Pak Anwar ini mungkin menjadi pilihan bagi yang lainnya pula bahkan mungkin hanya menjadi impian. Namun, tidak semua bisa mewujudkannya. Salah satunya karena prasangka luar yang luar biasa dan keinginan dipandang baik-baik saja.

Pilihan Pak Anwar beresiko dianggap tidak menikmati hidup. Kalau kamu menikmati setiap proses hidup ya seharusnya kamu berdamai: pernyataan umum di masyarakat dan kadang menjadi kebenaran tersendiri. Misal kasus Pak Anwar ini, dia kos terus, tampak sekali tidak rileks hidupnya, harusnya kan bapaknya bisa lebih enak misal dengan ngontrak atau nyicil rumah. Nyicil rumah apalagi bisa menjadi hak milik nantinya. Tapi semua itu tidak dilakukan Pak Anwar, kenapa? Karena dia tidak menikmati dan selalu terbebani untuk segera pindah? Saya kira jawabannya adalah “karena hidup itu pilihan”. Yes, ketika seseorang sudah memilih “A” dalam hidupnya, pemilih yang bertanggung jawab akan mengetahui konsekuensi dari pilihannya. Sehingga apapun itu konsekuensinya dia akan menikmati setiap prosesnya. Jadi menikmati sesuatu dalam hidup adalah relative, tidak bisa dipukul sama antar individu. Saya percaya ini 🙂

Akhirnya 45 menit itu selesai dan kami pun berpisah menyisakan lega karena tahu bahwa pilihan itu selalu ada..

-Jangan pernah takut untuk memilih, karena hidup cuma sekali-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s