-72- Karena Kepo

Apa kabar pemerintahan? Lama tidak mengikuti beritanya, semoga terus berbenah menuju ke arah yang lebih baik. Aamiin.

Apa kabar appa oediga? Sepertinya benar-benar berhenti ya, saya cek-cek di forumnya tidak ada lagi kabar burung. Padahal sangat ditunggu walaupun hanya kabar burung, hehe. Bahkan hanya foto Junsu dari akun twitter appa nya, haha.

Ngomongin appa oediga bagi saya pribadi adalah sesuatu yang belum tahu akhirnya. Variety show Korea Selatan yang satu ini benar-benar mencuri hati saya, ecieee 😛 . Terutama yang session 1, kemarin-kemarin masih sering rerun tayangannya dan masih saja ketawa-ketawa. Sampai akhirnya saya menemukan keasyikan yang lain dari negeri sendiri sebagai pengobat hiburan tapi si appa oediga ini tidak menghilang begitu saja, ia masih ada dalam wujud yang lain: keinginan membuat variety show di Indonesia yang layak dikonsumsi tanpa melepaskan sisi entertainingnya. Pengalaman menonton acara variety show negeri ginseng dan mendapati acara kita masih tertinggal jauh dari segi kualitas, keinginan itu sungguh ada dan besar.

Karena keasyikan saya sekarang ini adalah kepoin RANS, hahaha. Dari mulai talk show yang menghadirkan mereka sampai acara mereka yang dulu saya hina-hina, maksudnya tidak pernah mau nonton acara seperti itulah, tapi karena keponya saya intipin satu-satu. Karena sering kepo itu saya jadi tahu kualitas acara di tipi kita, paling tidak menurut ukuran saya berdasarkan pengalaman yang minim dalam dunia tontonan. Tapi eniwe sudah tahu kan RANS yang saya maksud? Belum? Coba di google ya, solanya akun twitter yang mengatasnamakan mereka saja ratusan ribu dan mereka menamai diri mereka sebagai fans ghaib, fans yang “ogah” diketahui jati dirinya. Curiga fans ghaib ini mereka yang sebenarnya bukan anak alay di kehidupan nyata, haha.

Acara show yang lebih mengandalkan gimmick dan hal-hal lucu spontan dari pemainnya yang kadang sebenarnya gak ada lucunya bagi saya*ya kan level kelucuan seseorang beda-beda ya* saya kadang miris dengan tim kreatifnya. Loh kok ya bisa gitu, acara yang ditonton khalayak ramai dibiarkan mengalir begitu saja. Mbok ya paling tidak dilengkapi script sebagai acuan, jadi improvisasi kebablasan bisa diminimalisir. Kata-kata yang seharunya tidak menjadi konsumsi umum bisa dicegahlah. Atau paling tidak acara-acara tapping, sebelum ditayangkan ya, di edit dulu gitu, tapi untuk urusan mengedit saja sepertinya agak-agak malas ya.

Tapi satu hal positif bagi saya adalah ternyata kita punya banyak sekali bakat-bakat potensial, tapi sayang tim kreatif atau produser atau apalah membuatnya “jatuh”. Atau mungkin saking kreatif dan berbakatnya sampai urusan panggung hampir seluruhnya diserahkan kepada si pemain. Disuruh mengalir saja mereka dengan arahan yang minim ketika mau iklan atau waktu yang mau habis 8/-O .

Apalagi yang acara reality show-nya, masak iya si pemain sendiri yang bawa-bawa kamera *tepok jidat*. Saya melihatnya seperti tidak ada usaha yang lebih gitu dari crew. Coba kita bandingkan dengan variety show semacam appa oediga, tidak ada tuh ceritanya si pemain bawa-bawa kamera sendiri yang berakibat pada kualitas gambar yang ya gitu lah. Layarnya goyang-goyang, yang lucu cuma kelihatan kepalanya, intinya menganggu sekali, sakit mata euy! Ini ngirit atau malas ya? Padahal kalau disimak menarik loh ceritanya, sayang seribu sayang usaha tim kreatif membungkus acara reality show ini kurang.

Kalau acara-acara yang mengandalkan gimmick-gimmick mah tidak perlulah ya di bahas. Akhir-akhir ini yang menjadi sorotan saya adalah talk show-nya. Saya mikirnya talk show kan di dalam ruangan, objek tidak begitu banyak gerak, paling tidak harapan saya acara bisa benar-benar dibungkus dengan baik, paling tidak mengenai isi yang penting. Bagaimana si host mengajukan pertanyaan, pertanyaannya seperti apa, pengetahuan host tentang si bintang tamu agar lebih enak nanyanya, karena menurut saya nanya karena kita ingin tahu itu lebih enak di dengar daripada pertanyaan yang cuma basa-basi atau pertanyaan yang sebenarnya sudah berulangkali ditanyakan, paling tidak dipikiran matang-matang gitu agar pas ditayangkan itu adalah hasil karya, hasil kerja keras. Penonton akan sangat mengapresiasi hasil karya kerja keras.

Nah, berhubung dari sekian banyak talk show yang akhir-akhir ini saya tonton bintang tamunya RANS, saya jadi tahu sedikitnya bahwa banyak acara talk show yang pertanyaannya kurang kreatif alias kurang menggali, pertanyaannya itu-itu terus, kalau saya yang jadi bintang tamu bosen bukan kepalang kali ya, dan kegengsian si host. Maksudnya gengsi, host-nya itu jarang dilengkapi dengan informasi yang cukup tentang si bintang tamu, terkesan gengsi gitu kalau ada pertanyaan yang menunjukkan si host tahu mengenai si bintang tamu, emang kenapa sih kalau kita sudah kepo in dulu bintang tamu? Namanya tamu kalau diberi perhatian lebih kan merasa dihargai. Lebih-lebih penonton akan sangat mengapresiasi host yang sedikit berusaha untuk menampilkan yang terbaik dalam acaranya, jangan cuma iya iya apa kata kreatif.

Dari sekian talk show yang saya tonton ada satu talk show di mana saya kecewa berat. Mungkin karena saya juga terlalu over expectation terhadap acaranya. Iya, berhubung host nya menurut saya memiliki latar pendidikan yang oke dan track record nya di dunia seni cukup bagus, karyanya jauh dari hal-hal negatif apalagi teguran KPI , dia juga penulis, salah satu penggiat kalau tidak dikatakan sebagai salah satu pelopor stand up comedy di Indonesia, yang digadang-gadang sebagai acara komedi cerdas dan hanya yang cerdas yang tanggap dengan lawakannya *mau cerdas nonton stand up gih, hehe pis*. Tapi pas lihat acara talk show dengan bintang tamu RANS benar-benar image kreatif dan cerdas itu hilang. Saya yakin acara talk show waktu itu, lebih banyak kebantu sama bintang tamu yang memang jam terbang tinggi membuatnya luwes di manapun berada.

Point pertama yang saya soroti adalah co host malam itu. Apakah harus berpenampilan seperti itu? Pakaian yang bikin pusing pala barbi, sebaiknya dihidarilah. Walaupun dari sisi content si co host cukup membantu si host dalam menghangatkan dan mencairkan suasana tapi kehangatan itu berubah panas di kuping penonton yang kebanyakan menyukai pasangan ini. Pancingan-pancingannya kurang patutlah, seperti membeberkan masa lalu si suami yang menurut saya pribadi kurang baik dikonsumsi publik. Selain itu si istri kan lagi hamil, pertanyaan yang sekiranya dapat melukai dihindari, walaupun si istri menunjukkan kecuekkannya, dalamnya hati siapa yang tahu ya.

Point ke dua adalah daftar pertanyaan si host. Sebagai orang yang kepo dengan pasangan ini, pertanyaan yang diajukan sudah berulangkali dipertanyakan di acara lain. Tim kreatif tidak pernah menggali dulu mungkin ya? Situ pikir di sana tanah? *garing ah!* Pertanyaannya berputar-putar tentang si suami, tentang masa lalu si suami, buat apa? Fakta si suami yang tidak diimbangi dengan fakta si istri, mending faktanya bagus semua, inget dong ya ada ibu hamil, walaupun tengah malam emang apa ruginya dibuat sesopan mungkin?

Selain talk show yang itu, satu lagi yang digawangi dua komedian yang dulu terkenal dengan acara lawaknya. Saya bingung dengan konsep yang mau ditawarkan di talk show yang ini. Seandainya bukan mereka beruda yang menjadi bintang tamu sudah saya tinggalkan. Acaranya begitu riuh, banyak sekali pemeran pendukung yang menurut saya sama sekali gak penting. Yang ada saya pribadi capek nontonnya. Bukankah acara talk show seharusnya berfokus pada si bintang tamu? Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan host malah terkesan hambar dan sama sekali tidak menggali apapun yang baru.

Pertanyaan yang diajukan menurut saya sudah menjadi pengetahuan umum tentang mereka berdua. Kan, ada yang belum tahu. Yakin deh, penontonnya banyak yang menyukai mereka, karena pengalaman pribadi, jika nonton bintang tamunya kurang menarik atau kurang disuka ya sudah gak nonton, sesederhana itu. Seorang host menurut saya, harus memiliki daya kepo yang tinggi mengenai si bintang tamu jangan cuma ngandelin tim kreatif.

Saya sebagai seorang ibu, kena virus kepo terhadap pasangan ini karena saya ingin tahu latar belakang si istri, kok bisa dipilih oleh si suami yang katanya begini begitu. Bagiaman si ibu concern tentang pendidikan anaknya, itu bisa jadi inspirasi para orang tua loh. Atau tentang bertanggung jawabnya si suami sejak belia, kan lebih enak dikonsumsi. Rasanya belum ada talk show yang mengupas ini, padahal mah ya bisa jadi inspirasi buat para ibu bagaimana menjaga anak gadisnya. Bagaimana memiliki anak perempuan itu sungguh menyenangkan dan selalu berdo’a yang terbaik untuk anaknya. Saya saja pas ngeliat video nikahannya ikutan nangis melihat si ibu si istri nangis terus, tapi emang sedih banget sepertinya kalau suatu hari nanti anak gadis kita dipinang seseorang *peluk anak*. Jika waktu itu datang wah gimana ya perasaan kita sebagai seorang ibu?

Coba ya besok-besok kalau masih ada acara talk show yang menginginkan bintang tamu mereka, coba dipertimbangkan pertanyaannya, paling tidak yang positif lah, paling penting layak dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. #Kode buat sarseh, enak nih pembawaannya…

Oh ya kalau kamu setelah membaca dua postingan terakhir saya dan rada penasaran dengan si istri atau ke duanya tidak dapat disangkal kalian sudah mulai masuk dunia RANS yang berbunga-bunga berwarna pink. Haha. Sepertinya baru kali ini sepasang selebriti Indonesia di kepo in sedemikian besar, mirip lovers seleb korsel yang kepo nya luar biasa terhadap si seleb. Atau artis holywood yang tidak lepas dari paparazi, ini mereka sampai banyak foto-foto candid nya loh *bingung sampe segitunya ya*.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s