-70- Tentang Berat Badan: Diet minggu I (Makan pada waktunya)

Bismillah…

Biasanya kaum perempun agak sensitif nih ngomongin yang satu ini πŸ™‚ . Tapi seiring dengan bertambahnya umur dan berbanding lurus dengan kedewasaan, rasanya masalah ini bukan lagi menjadi momok. Perempuan dewasa biasanya lebih santai menyikapi masalah BB ini. Mereka yang ingin diet biasanya memang dengan alasan yang make sense. Berbeda ketika masih ABG tanggung nan labil, diet ini seakan keharusan karena, iya karena, cara pandang masyarakat dalam memaknai cantik itu adalah langsing πŸ™‚ . Yang belum stabil biasanya akan mengikuti ke mana arah angin bertiup …

Kini, setelah usia labil berlalu dan saya sudah menikah kok ya badan jadi tidak terkendali πŸ˜› . Maka dari itu beberapa hari ini kepikiran untuk mengembalikan BB ke posisi aman. Aman untuk baju-baju saya, hehe. Masak saya harus bongkar lemari ganti seluruh size pakaian saya, bisa bangkrut dong πŸ˜€

Mau tidak mau saya harus diet…

Tapinya saya mau cerita dulu, sejarah BB saya, halah-halah…

Tinggi saya antara 148cm-149cm, dua tiga senti lebih tinggi dari ibu. Waktu sekolah berat badan stabil di bawah 45kg. SMA adalah masa di mana saya sangat kurus, tentu saja kurus ukuran sendiri. Berat waktu itu mentok di 42kg, pernah mencapai 44kg, tapi sungguh sangat tidak menyenangkan karena baju-baju serasa sesak. Jadi, diputuskanlah waktu itu, untuk mempertahankan 42kg, bagaimanapun caranya *ekstrim memang*.

Makan berat hanya sekali menjadi sangat biasa. Tapi, masalahnya daku suka sekali ngemil, ngemil apapun yang asin-asin, sebangsaning combro, bakwan, tahu isi, dan gorengan-gorengan yang lainnya. Bagaimana bisa kuyus ya? Bisa, karena kalau ngemil biasanya daku tidak makan. Duh, kalau ingat zaman itu nelangsa sekali. Dipikir-pikir buat apa kurus kalau masa remaja tergadaikan karena bawaannya lemessss? *kurus dalam hal ini tidak sama sekali berbanding lurus dengan sehat 😦 *

Daan setelah menikah, diet itu cerita lama πŸ˜€ . Jadi, selama ini jaga BB untuk apa? Astagfirulloh. Makan ya makan gak mikirin lagi β€œnanti gemuk” . Alamat BB pun melonjak menyentuh 50kg! Tapi, Alhamdulillah nya ketika endut-endutnya dikasih rezeki sama Alloh, mengandung πŸ™‚ . Jadi seperti pembenaran ketika acara makan yang gak ketulungan nepsong.

Dikira bakalan lebih enak ngunyem tak tahunya dikasih ujian, pas mengandung muntah mulu. Gak bisa masuk makanan, yang ada gak nafsu makan, menciumnya saja bikin mual terus deh muntah. Akhirnya, sehari mendekam di kamar rawat inap RSUD. Tidak tahan karena nyamuk waktu itu, walaupun belum fit benar saya memaksa pulang πŸ˜€

Pas trimester pertama hamil kembali kurus pun dengan si dedek di dalam perut 😦 Tapi giliran pulang ke rumah orang tua, Alhamdulillah kembali semangat makan, BB naik pun dengan si dedek. Kalau dulunya disuru-suruh makan sama Dsa pas di rumah ortu diperingatin hati-hati jangan berlebihan makannya, kalau dedeknya kegemukan takut susah keluar. Dan benar saja divonis CPD. Bayinya kebesaran untuk ukuran panggul saya.

Tapinya, pas menyusui itu BB kembali anjlok seanjlok-anjloknya. Dan asyiknya saya tidak diet πŸ˜€ . Makan tetep segabruk-gabruk malah porsi kuli tapi enggak tahu ya seperti tidak ada yang jadi daging. Iya sih lagi menyusui, jadi banyak diambil juga sama si dedek. Eitss, tapi kalau cuman nyusui kayaknya tidak begitu ngaruh deh. Soalnya saya itu selain nyusui, kerja juga yang mikir gitu, ditambah lagi kerja fisik serabutan di rumah. Jadi, wajar ya, itu BB turun drastic menyentuh 41kg.

Dan setelah punya mesin cuci, terusnya lagi gak gitu mikir berat soalan kerjaan dan urusan rumah tangga, sekarang BB kembali meroket, barusan ditimbang 49,6kg *nangis*. Harus dieeeettt, maksudnya bukan ngurangin porsi makan tapi lebih mengaturnya. Iya saya jadi asal makan dan tidak tahu tempat dan waktu, ada makanan langsung hap hap hap πŸ˜€ . dan sedihnya kesukaan saya tidak jauh dari goring-gorengan, wassalam deh perut rata.

Karena merasa sudah tidak nyaman, beberaa baju sesak, tentu saja dengan tinggi segitu takutnya mbulet πŸ˜€ . Saya niat bener-bener niat mau diet. Paling tidak balik ke 44-45kg deh.

So let’s do it…

Gimana caranya?

Pertama sekali saya mau atur dulu itu jadwal makan, secara kan, yang namanya diet bukan mengurangi drastis jumlah asupan makan, yang saya baca dan fahami diet itu bagaimana cara kita mengatur pola makan. Makan ya makan, tidak ada lagi acara ngemil-ngemil apalagi ngemil berat kayak gorengan. Tahan dulu godaan gorengan. Daaaan, berhenti sebelum kenyang yang sungguh kalau ketemu makanan maknyuus, duh, piye susah banget 😦 Itu saja dulu sebagai langkah pertama. Nanti dilihat seminggu kemudian, baru saya pikirkan lagi cara selanjutnya jika belum mempan. Sampai ketemu di program diet minggu depan.

BB: 50kg πŸ˜›

Sesungguhnya bagi saya memiliki postur yang pas *ukuran pribadi* adalah hal lain yang membuat hidup lebih bersemangat. Karena bawaannya ringan πŸ˜€ . Bisa jadi ukuran pas setiap orang berbeda, bagi saya 45kg untuk tinggi 148-149cm itu sudah pas, bisa jadi buat kamu itu kelebihan atau kurang πŸ™‚ .

Advertisements

2 thoughts on “-70- Tentang Berat Badan: Diet minggu I (Makan pada waktunya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s