-66- Pak Presiden

DSCN0323pic credit to Abah

Lagi asyik mainin instagram, kepoin orang-orang tak sengaja nemplok di fotonya Bu Ani. Dan keterusan liat hasil-hasil jepretannya. Liat aktivitasnya Bu Ani dan Pak Beye sekarang, “Pak SBY sangat diuntungkan dengan presiden yang sekarang”, spontan saya berfikir seperti itu.

Entahlah mungkin pemerintahan yang sekarang belum terlalu terlihat kinerjanya kan, baru seumur jagung *ngomong-ngomong sudah berapa lama ya?, maklum sudah lama tidak mengikuti berita*. Jadinya masyarakat masih sering membanding-bandingkan.

Tapi ya kalau dipikir-pikir presiden yang berhasil memimpin saya kira baru tiga. berhasil dalam pandangan saya adalah kinerjanya diingat dan ada hasilnya. Siapa saja mereka? pertama menurut saya adalah Pak Karno. Bagaimanapun Indonesia di tangannya sangat tangguh. Bangsa kita pada masanya dikenal dunia dan terhormat. Banyak proyek-proyek ambisius pada masanya, ambil saja monas, yang kelak menjadi sangat mengukuhkan kehormatan bangsa.

Orang kedua tiada lain tiada bukan adalah Pak Harto. Apapun yang terjadi di akhir masa pemerintahan tapi title bapak pembangunan memang pantas untuk beliau. Pada masanya Indonesia terasa sangat sejahtera. Bahkan saya tidak ada keinginan untuk pergi ke luar negeri karena saking betahnya di tanah sendiri. Situasi aman terkendali. Walaupun banyak yang menyayangkan tindakan-tindakan kerasnya misal, katanya, sering menciduk preman dan lalu entah dibuang ke mana. Tapi tindakan tegas seperti ini kadang perlu, tinggal eksekusi akhirnya yang diperbaiki. Dan tentu kehilangan-kehilangan yang lain yang memang tidak perlu terjadi. Tapi, harus kita akui pada masanya Indonesia benar-benar berkembang. Kita tidak perlu menista seseorang secara keseluruhan kan? Karena kalau kita ingat akhir pemerintahan kedua presiden ini tidaklah bagus. Pak Karno tidak mulus menyelesaikan pemerintahannya pun dengan Pak Harto. Tapi jiwa dan semangat kepemimpinannya dan hasil yang telah mereka torehkan akan kita kenang sepanjang masa.

Dan yang ketiga adalah Pak SBY. Ini menurut saya presiden yang bekerja berdasarkan prinsip jawa pelan-pelan asal kedalon. Di awal pemerintahannya euforia kemenangan masih terlihat. Masayarakat tidak terlalu peduli, waktu itu kita benar-benar sedang mencari-cari sosok pemimpin setelah orde baru tumbang digantikan dengan refotnasi eh reformasi *garing ah ๐Ÿ˜€ * Tapi beneran loh sempat juga kita ini repot nasi. Di tengah-tengah pemerintahan mulai diguncang dengan berbagai aksi demo. Tapi beliau masih santun dan terus melaju. Kabinet pertamanya terlihat masih bagi-bagi jatah. Tapi di kedua kalinya menjabat, beliau benar-benar menunjukkan jiwa kepemimpinannya tapi masih dengan kesopanan kuat ala timur. Iya masih memberikan jatah untuk partai pendukungnya tapi pinternya, beliau ini menambahkan jabatan baru yaitu wakil menteri. Saya kira ini bukan jabatan asal-asalan karena kalau kita lihat orang-orang yang duduk di jabatan wakil menteri adalah mereka yang kita sebut sebagai ahlinya. Iya, dari merekalah keluar ide-ide cemerlang. Tapi, tidak semua menteri adalah bagi jatah, beberapaย  menteri seperti BUMN persis dipegang profesional dan praktis BUMN benar-benar mengalami perubahan yang signifikan. Saya pun tidak akan lupa dengan menteri pendidikannya Muhammada Nuh, dia benar-benar bekerja. Banyak programnya berjalan dan sebenarnya sangat bagus kalau saja dia diberi peluang lebih lama. Sayang progam-programnya dihentikan pada masa pemerintahan yang sekarang dan katanya dikembalikan seperti sedia kala. Sesuatu hal baru butuh waktu untuk terbiasa dan berhasil, begitu pula dengan program-programnya Pak Muhammad Nuh.

Ketiga presiden tersebutlah saya kira yang kinerjanya dirasakan. Di sinilah kenapa saya tiba-tiba terpikir Pak SBY beruntung. Dibanding pemerintahan sebelumnya yang berakhir dengan tragis Pak Beye malah dieluk-elukan di akhir masa jabatannya, salah satunya karena kinerja pemerintahan sekarang yang diharapkan jauh lebih baik karena label “merakyat”nya belum sama sekali terlihat. Kinerja Pak SBY walaupun lambat tapi pada akhirnya kita semua merasakannya. Ketampanannya tidak membohongi kok ๐Ÿ˜› .

Suka ataupun tidak ketiganya tumbuh dari lingkungan militer. Bukan berarti militer lebih baik dalam hal kepemimpinan tapi saya mau bilang bahwa jangan dulu kita menilai jelek jika ia datang dari kalangan militer karena kita tentunya tidak boleh melupakan sejarah. Kata Pak Karno jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, iya mereka kalangan militer ternyata telah memberikan bukti kepemimpinan. Jadi, kenapa kita harus antipati dengan militer hanya karena satu dua masalah atau bahkan banyak masalah? memang di situ bukan militer tidak pernah berlaku salah? Ingat dong kepemimpianan yang sudah-sudah? Sudah berlalu presiden-presiden kita yang nonmiliter, tapi apakah mereka lebih baik? Sejauh ini belumlah ya. Saya bukan pro atau anti hanya saja saya gerah dan geli melihat pemilu yang kemarin. Memojokkan seseorang karena kemiliterannya adalah hal geli yang saya temukan ๐Ÿ˜›

Kita pernah dipimpin oleh seseorang yang sangat pintar, sangat agamis, sangat misterius, sangat militer, dan sangat biasa…Mudah-mudahan bangsa kita menuju ke arah yang lebih baik. Bagaimanapun presiden telah terpilih, ini demokrasi cuy, inget siapapun bisa terpilih sebagai pemimpin kita, situ milih dan banyak masyarakat yang lain pun memilih dan siapapun pemenangnya saya kira amanat demokrasi harus mendukungnya tentu tanpa lupa dengan kritik yang “membangun”. Ah ini demokrasi teman, situ mau apa? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜›

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.โ€ (Al-Baqarah: 216)

________________________________________________________________
RALAT

Tiba-tiba teringat bahwa titel Pak Karno adalah insinyur, ish, bisanya saya tulis beliau dari militer *maafkeun*. Kemarin pas nulis, saya hanya membayangkan zaman ketika Pak Karno memimpin, kok bisa, kan, belum lahir? Iya pas liat film nya Soe Hok Gie dan G30S yang belum kelar-kelar ditonton. Yap, Pak Karno memang dari kalangan sipil tapi gaya kepemimpinannay lebih militer dari yang militer itu sendiri.

Jadi, maklum ketika orang sedikit bingung dengan latar presiden pertama kita *ngeles ๐Ÿ˜€ * . Tapi tetap ya ketiga presiden kita ini tidak bisa lepas dari dunia militer. Bisa jadi, hal ini mengindikasikan bahwa kita lebih patuh ketika yang memimpin kita dari kalangan militer atau non militer dengan gaya militer, karena lebih tegas? Tapi, sebenarnya bukan militer atau nonmiliter, pada dasarnya seorang pemimpin itu apapun latar belakangnya harus memilki sikap tegas. Ingat kan film nya Umar bin Khattab, dia digambarkan sebagai pemimpin yang tegas, berkata ya ketika memang benar adanya dan berani berkata tidak jika memang tidak begitu.

Advertisements

2 thoughts on “-66- Pak Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s