-64- Cerita ngalor ngidul: usaha dan mlm

Akhir tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2014 mungkin adalah tahun di mana saya sangat bersemangat menjadi pengusaha. Mulai dari jualan tiket, baju, alat masak, sampai perlengkapan bayi. Saya pun membuat page di facebook untuk masing-masing dagangan. Singkat cerita itu semua tidak berjalan sesuai harapan. Yah, kecuali tiket yang sekarang ini lebih banyak di handle suami.

Saya bosan. Mungkin karena tidak sabar menjalani proses. Iyalah mau jadi pengusaha sukses memang butuh usaha dan kesabaran ekstra. Kalau cuma anget-anget t*i ayam seperti saya, mungkin bukan passion nya. Mungkin.

Tapi kalau saya renungi perjalanan hidup saya yang sudah mendekati kepala tiga ini, berdagang adalah bukan hal baru. Sedari kecil, iya saya kecil sudah terbiasa berjualan. Mulai dari bantu emak-emak penjual di SD melayani pembeli yang membludak dan tak terkendali saat istirahat tiba, jualan jambu batu kala musim nya, jual cabe hasil bertani bareng kawan, sampai jualin makanan jajanan punya orang.

Saya memang senang berjualan tapi selidik punya selidik niatannya bukan untuk profit diri. Iya semua hal yang berbau jual menjual waktu kecil, saya lakukan karena suka menolong dan senangggg melihat mereka tersenyum bahagia di kala jualannya laku. Dan saya pun berbangga karena saya pintar menjualkan barang πŸ˜› . Saya tidak pernah berfikir untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Dari dulu tidak ada cita-cita saya jadi pengusaha 😦

Saya dididik untuk bangga menjadi pegawai atau profesi lainnya yang terkenal dan bergengsi semacam dokter, pengacara, dan mmmm presiden! Menjadi PNS adalah kebanggaan di kampung saya, apapun PNS nya mau dokter, pengacara, hakim, guru, atau staf biasa di kelurahan yang penting labelnya PNS. Walaupun berhutang di mana-mana yang penting PNS, dia masih lebih berharga dijadikan mantu ketimbang petani yang walaupun dia sukses. “Kan gak keren atuh kotor kulumud ku taneuh“. Gengsi.

Pegawai swasta pun masih lebih berharga karena mereka juga punya gaji yahud dan tampilan necis. Petani, pedagang, yang kelihatannya capek gitu keringetan dan terlihat lebih mengandalkan fisik masih dipandang sebelah mata. Makanya banyak sarjana nganggur karena selalu berfikir untuk diterima bekerja bukan mengupayakan lapangan pekerjaan. Sarjana tani, lebih memilih kerja di bank ketimbang berpanas-panas di bawah sengatan matahari untuk menemukan metode baru dalam bertani. Begitu juga sarjana lain-lain nya yang sebenarnya mereka memiliki peluang untuk mengupayakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri sendiri. Tapi keadaan di kampung tidak mendukung ke arah sana. Alih-alih mengupayakan lapangan kerja yang ada malah stress, karena tiba-tiba menjadi topik hangat di kampung, “tuh si A sarjana-sarjana juga akhirnya sama saja kayak kita, tani kokotoran“.

Gimana pertanian kita bisa maju, lah orang yang ahli di bidang nya malah dicemooh? Ke sininya kok ya makin aneh. Menjadi pegawai, pegawai apapun lebih diminati ketimbang pekerjaan primer seperti bertani. Iya sih di kota lahan tidak ada, lah kan masih bisa usaha lain seperti berjualan atau menjadi produsen apa gitu. Tapi yah menjadi pegawai ,masih lebih disukai. Sampai-sampai beberapa usaha dan perusahaan membuka lowongan pekerjaan sebesar-besarnya untuk siapapun dengan iming-iming penghasilan wow fantastik beibi.

Pekerjaan yang katanya tidak menjadikan kita sebagai pegawai. Pekerjaan yang katanya kitalah bos nya karena mengenalikan bisnis tapi tidak dengan produksinya. Pekerjaan yang katanya katanya wow, saya yakin sudah tidak asing dengan nama multi level marketing, iya mlm. Iming-iming pendapatan wow, bekerja tidak perlu capek, bisa dikerjakan di rumah (biasanya untuk menarik minat ibu rumah tangga), dan pasif income (ini yang menurut saya menakutkan dalam bisnis mlm manapun).

Sekali dulu saya pun pernah menjadi bagian dari bisnis besar ini, lebih tepatnya jaringan besar. Tanpa disadari, iya saya tidak tahu kalau produk yang saya dagangkan adalah bersistem mlm. Awalnya saya hanya tertarik dengan jualannya dan saya lihat produknya pun bagus-bagus. Saya pikir setaralah dengan harga. Jadi tanpa menjadi anggota saya coba dulu tawarkan pada teman, waktu itu saya masih kuliah. Dan mejiknya ada teman yang mau order, kalau tidak salah inget dua orang. Wow otak dagang pun mulai bekerja, mengkali-kali kalau dapat order sekian dan sekian. Saya pun bertanya pada teman kos yang mengenalkan saya pada produk tersebut. Saya bertanya bagaimana kalau saya mau order, berapa keuntungan saya , dst dst … Kata teman kos saya itu, kamu harus menjadi anggota kalau mau dapat untung, karena kalau anggota setiap belanja dapat pemotongan harga sekian persen dari harga katalog. Ow cuman jadi anggota doang yang hanya bayar 50 rebu dan asiknya dapat bonus pouch atau apalah itu, siapa takuuuut.

Teman saya itu jujur loh. Kenapa dia tidak menerangkan sampai detail bahwa ini adalah mlm. Kamu juga harus tupo dan sebagainya merekrut anggota yang katanya tidak wajib, dia benar-benar tidak tahu. Selama dia jadi anggota dia tidak pernah merekrut orang, murni dia jualan. Dia memang berbakat jualan dan emang dia maunya dagang kok. Terus kapan saya tahu bahwa ini mlm? Teman saya itu bercerita bahwa kalau saya bisa belanja minimal sekian, poin nya bisa nambah. Poin nya itu kalau sudah banyak bisa dituker hadiah yang lumayan menggiurkan. Tapi, katanya lagi, dia mah dapat poin nya standar gak bisa seperti si A yang banyak, gak tahu kenapa. Belakangan saya tahu, iya kali si A kan banyak downline nya. Sementaa teman kos saya itu downline nya cuma saya, itupun tidak sengaja dapatnya πŸ˜› . Yang jadi downline pun belum sadar bahwa dirinya itu seorang downline πŸ˜€ . Aduh kalau ingat itu jadi geli sendiri.

Dan setelah mendengar cerita itu, malamnya saya galau. Saya kan lagi belajar ilmu agama jadi sedikit-sedikit saya mulai berhati-hati. Jujur ada sesuatu yang membuat saya tidak tenang. Apakah hukumnya mlm itu? Soalnya kok dari cerita teman, kalau kita punya downline bonus kita bisa jadi banyak. Itu yang bikin saya galau. Kalau saya berjualan sederhana saja, saya mendapatkan keuntungan sesuai dengan apa yang saya jual tidak ada embel-embel keuntungan lainnya. Sudah itu yang saya namakan berdagang. Kalaupun saya jadi makelar dalam artian saya promosiin barang dagangan teman ya, saya dapat honor dari si teman, sudah selesai.Tapi mlm ini agak lain dari yang saya fahami…

Saya pun mulai memberdayakan si mbah google. Dan tereret banyak aja yang ngebahas, ada yang membolehkan malah ada juga yang mengharamkan, ngeri. Jadinya karena keilmuan saya tidak cukup untuk mencerna itu semua, saya bertanya. Bertanya kepada orang yang menurut saya dia lebih tahu ketimbang saya. Tidak lama dia pun memberikan print out beberapa lembar tentang hukum mlm. Setelah membaca itu, besoknya saya berhenti menjualkan produk tersebut. Saya tidak pede membahasnya kalau mau belajar bisa baca di sini atau cari sendiri artikel lainnya. Tapi lebih afdhol kalau ada orang yang bisa ditanya.

Sebenarnya kalau bukan mlm saya masih mau loh menjualkannya, asal jelas keuntungan nya. Saya pun memberi tahu teman kos saya itu, dan walaupun membutuhkan waktu cukup lama karena emang dia waktu itu lagi butuh kerjaan, akhirnya dia pun keluar dan memilih berjualan produk lain. Kadang saya merasa bingung πŸ˜› padahal produkny bagus kenapa harus di mlm kan?kan kalau dijual tanpa sistem mlm kemungkinan harganya bisa ditekan dan bisa lebih membumi. Masalah laku atau tidak kan tinggal marketing nya saja yang diperbaiki. Ah abaikan pendapat dari bukan ahli πŸ™‚

Sebenarnya tidak masalah menjual produk MLM sebatas niatan menjual tanpa embel-embel yang lain. Tapi, ya life is a choice dan saya ragu kemudian saya memilih meninggalkan. Saya yakin di luar sana masih banyak kesempatan lain yang bisa saya dapatkan. Hidup tidak sesempit itu πŸ™‚

Memang sih hukumnya masih jadi ranah abu-abu, ada yang membolehkan itu pun dengan syarat yang super ketat dan ada yang blas mengharamkan. Sekali lagi Hidup adalah pilihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s