-61- Posyandu (lagi) di Wakatobi: Kaki Sakit Pasca Pentabio

Bismillah.

Sudah sangat lama saya tidak membawa Maryam ke posyandu. Saya lupa pastinya tapi setelah mudik dari Jawa di usianya tepat satu tahun tidak pernah lagi saya bawa ke posyandu. Alasannya: buku KIA nya ketinggalan di Jawa 😀 . Selain itu karena imunisasi wajib pemerintah sudah selesai. Saya pikir kalau sekedar timbang dan ukur tinggi bisa di rumah. Walaupun sebenarnya saya ingin membawa Maryam ke posyandu minimal saya dapat udara segar ketemu ibu-ibu di sana dan Maryam pun ketemu dengan teman-teman sebayanya. Tapi saya malas ditanya kenapa bukunya tidak dibawa, alasan tempe banget ya 😛

Sampai suatu hari minggu saya pergi ke pasar pagi dan di sapa seorang ibu. Pertama saya tidak mengenalinya, saya pikir ibu ini mitranya BPS. Biasalah setelah menjadi seorang istri dan ikut suami di kantor baru rasanya saya hampir tidak pernah mengenal seseorang begitu dekat.

“Bu anaknya sudah berapa tahun?”, sapanya ramah.

“Euuu…satu tahun, eu…enam bulan.” Bingung siapakah ini? Sambil menjawab saya berusaha mengingat-ingat pernah berinteraksi di mana, kapan, dan dalam rangka apa dengan ibu ini. Tapi blank.

“Iya kalau sudah 18 bulan ada imunisasi tambahan, DPT ya Bu, nanti dibawa ke posyandu.” Tentu saja Bu bidan yang biasa imunisasi 😀

“Oh begitu, iya nanti saya datang Bu, tapi bukunya ketinggalan di jawa.”

“Iya tidak apa ada catatan nya kok”. Jawabnya. Dan kami pun berpisah bersamaan dengan terpecahkannya siapa, di mana, kapan, dan dalam rangka apa :v

Dan hari yang ditentukan pun datang, hari ini selasa 17 Februari 2015. Saya dengan semangat datang ke posyandu. Malahan yang pertama dan lokasi masih sepi jadinya saya terus dulu beli nasi kuning. Cuaca gerimis dari semalam hujan terus jadi wajarlah masih sepi, wajar???

Setelah nasi kuning di tangan dan mendapati posyandu masih sepi saya tetap masuk. Dan menunggu total di sana satu jam.

Maryam pun ditimbang pakai timbangan dacin dan seperti biasa nangis jerit-jerit. Bukan karena timbangannya kalau Maryam tapi masih belum terbiasa dengan orang baru bawaannya nangis. Ini pe er besar buat saya dan Abah nya, bagaimana agar Maryam bisa lebih luwes dalam bersosialisasi terutama dengan teman sebayanya. Karena yah Maryam masih takut-takut dia akan nemplok terus di ummi kalau ada teman nya.

Hasil timbangannya 10,5kg. Tidak jauh beda dengan timbangan digital di rumah selisih 0,5kg. Tidak diukur tinggi karena masih nangis bikin heboh di posyandu. Saya pun berinisiatif minta tolong segera diberikan Vit A warna merah untuk anak lebih dari satu tahun, karena nangisnya belum juga berhenti.

Tidak bisa langsung di vaksin berhubung bidannya belum datang. Jadi, saya manfaatin buat nenangin Maryam, alhamdulillah tenang juga pakai kerupuk :). Tidak lama Bu Bidan datang dan Maryam dapat urutan pertama.

“Pentabio ya.” Ujar Bu Bidan.

“Tidak dengan polio nya Bu?”. Karena sebelumnya saya cari informasi dulu di Gesamun dan menurut jadwal imunisasi yang direkomendasikan IDAI usia 18-24mo waktu yang tepat diberi imunisasi lanjutan DPT dan Polio. Tapi sayang di posyandu tidak tersedia. Saya berani nanya karena kan polio statusnya sama dengan DPT sebagai imunisasi wajibnya pemerintah. Lain halnya dengan PCV, Hib, MMR tanpa bertanya pun kita semua sudah tahu tidak tersedia. Lha saya pernah bertanya ke dokter praktek dan Pak Dokter bilang sementara di sini belum tersedia harus ke ibu kota provinsi.

Tapi kabar gembira vaksin Hib sekarang sudah ada di posyandu yaitu dalam pentabio. Iya vaksin pentabio ini terdiri dari DPT (difteri, pertusis, tetanus), Hb, dan Hib. Seperti hari ini vaksinasi untuk Maryam termasuk Hib di dalamnya. Hib apaan sin? Hib ini dulunya bukan salah satu vaksin yang disubsidi pemerintah. Hib kependekan dari haemophilius influenza type B yang juga merupakan nama bakteri penyebab penyakit Hib. Menyerang anak di bawah usia 5 tahun. Penyakit Hib ini yang paling banyak menyebabkan meningitis atau radang selaput otak pada anak di bawah lima tahun. Selain meningitis Hib ini juga menyebabkan pneumonia, infeksi berat di tenggorokan, infeksi pada persendian tulang dan selaput jantung bahkan kematian. Dikutif dari http://www.imunisasi.net/Hib.html

Maryam pun divaksin di paha kirinya yang tentu saja menangis dan berontak. Entah karena berontaknya itu darah jadinya ke mana-mana. Ada noda darah di celananya yang biasanya tidak terjadi karena langsung ditutup kapas. Saya pun diberi obat penurun panas jaga-jaga kalau panas. Alhamdulillah selama imunisasi Maryam masih bisa ditangani dengn pemberian ASI jika agak panas.

Dan maryam pun masih main seperti sedia kala ketika selesai vaksin. Dia pun tidur siang cukup lelap sekitar dua jam. Pas bangun saya kaget mendapati Maryam berjalan tertatih-tatih. Kaki kirinya seakan sakit untuk dipakai jalan, astagfirulloh mudah-mudahan tidak kenapa-napa, aamiin.

Sampai tidur barusan jam enam magrib Maryam masih tidak mau jalan dan sepertinya kaki kirinya sakit kalau saya pegang atau tersentuh tidak sengaja. Tidak seperti biasa tidurnya pun tenang tidak banyak gerak 😦 agak hangat juga badannya. Saya kompres pakai air hangat. Ia masih terlelap kecapekan nangis terus sesiangan tadi.

Saya berharap esok Maryam sudah kembali ceria seperti sedia kala. Dan saya tidak mengharapkan ini adalah efek samping negatif dari vaksinasi dan tidak berfikir jauh ke sana. Saya sudah search di google dan hal ini, gejala pasca imunisasi DPT adalah wajar menimbulkan bengkak, rasa sakit, dan agak demam. Solusinya kompres pakai air hangat, sejauh ini apa yang saya lakukan sudah benar. Dan bisa juga diberi obat pengurang rasa sakit. Tapi option obat selalu menjadi pilihan terakhir untuk saya. Kompres, ASI, istirahat, dan makan adalah kombinasi yang masih saya pegang. Tentu ikhtiar tidak disertai do’a kepada pemilik sakit adalah omong kosong bagi saya. Jadi, berdo’a memohon kesembuhan untuk Maryam kami adalah obat penenang paling mujarab bagi saya dan suami yang khawatir.

Semoga lekas sembuh ya Nak, bermain bercanda lagi sayang.

Ummi Abah menyayangimu…

 

Advertisements

2 thoughts on “-61- Posyandu (lagi) di Wakatobi: Kaki Sakit Pasca Pentabio

  1. mey kurnia

    skrg gmn kondisi maryam?? apa udah bisa jalan normal sprti biasa?? krn anak saya juga mengalami seperti yg terjadi pada maryam, thx…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s