-57- Kopi

Bismillah.

Saya ingin menulis tentang kopi. Kopi yang baru saja saya nikmati, pemberian seorang teman kantor yang baru saja tiba dari perjalanannya. Kopi yang ia bawa sepertinya dua bungkus, sisa satu bungkus dan karena saya lihat tidak atau belum ada yang ambil ya saya pinta 🙂 daripada keduluan 😛 .Dia baru saja tiba dari Sudan menghadiri sebuah seminar, sepertinya seminar dunia Islam yang dihadiri banyak peneliti muda dari seluruh dunia. Baru lulus kuliah, tahun pertamanya bekerja, dia melakukannya: subhanalloh dia membuat saya belajar satu hal: Do Something!

Saya penikmat kopi. Segala jenis kopi tapi kopi hitam adalah yang terbaik. Saya mengenalnya sejak kecil, mungkin sebelum masuk SD. Nenek dan Kakek dari Apa, saya memanggil mereka Ma Kolot dan Bapak Kolot, mereka memiliki kebun kopi seminggu sekali saya ke rumah mereka yang berjarak lima menit. Mak Kolot rajin sekali menumbuk bijinya yang sudah kering di “sangrai” pagi hari dan segelas kopi hitam panas pun tersedia untuk Bapak Kolot. Saya mencicipnya dan suka. Wanginya itu lo membuat penasaran. Rasanya agak-agak pahit kesat menyerang indera pengecap lidah bagian belakang, manis sedang, menyisakan banyak ampas kopi halus di dasar gelas, oya Nenek saya selalu menumbuknya halus. Hmmm ditambah aroma yang semerbak acara minum kopi pagi dan sore hari ditemani gorengan pun lengkap sudah.

Acara minum kopin ini berlanjut di rumah. Nenek dari Ibu kami masih serumah waktu itu, saya memanggilnya Emak, dia sering juga membuat segelas kopi untuk Bapak Iyot (Kakek). Walaupun bukan ditumbuk langsung dan bukan dari kebun sendiri, dia menggunakan kopi serbuk dari kapal api, tapi caranya menyeduh membuat kopi buatanya sangat istimewa. Apalagi ketika acara syukuran yang biasanya disajikan makanan plus minuman air putih, teh, dan kopi yang berbeda. Kopi nya ditambah irisan pisang. Pisang yang diiris tipis melingkar. Pisang dimasukan ke dalam kopi yang baru saja dituang air mendidih, hmmm kopi rasa pisang, pisang rasa kopi, enak! Sekarang setelah Bapak Iyot tiada hal seperti itu langka bahka tidak pernah lagi dilakukan. Yah, selain kami generasi penerusnya tidak berniat melakukan acara seperti itu. Tapi someday saya akan membuatnya kembali. Bukan melanggengkan tradisi syukurannya tapi kopi pisang nya yang maknyus itu.

Dan ketika saya kos, jaman SMA, saya mulai berkenalan dengan kopi instan sebangsa Good Day yang paling saya suka varian rasa moccachino, Nescafe, ABC, dan masih banyak lagi. Tapi tiga itu yang paling sering menemani malam-malam panas saya di tempat kos.

Saya sulit menemukan kopi hitam buatan Nenek-Nenek saya. Yah, kopi hitam yang enak selain dari kopinya yang bagus pun dengan cara menyeduhnya, memiliki kendali penting dalam menciptkan segelas kopi hitam panas yang bercita rasa tinggi *halah-halah bahasanya asik 😀 *. Jujur saja saya terlalu malas untuk menyeduh air hanya yah hanya untuk segelas kopi yang tidak sampai sejam habis. Tapi segala sesuatu yang bagus memang membutuhkan usaha lebih, bukan begitu? Kalau kamu hanya duduk manis dan menunggu apapun yang datang kepadamu saran saya jangan berharap lebih.

Menyeduh kopi hitam harus menggunakan air yang benar-benar mendidih, lebih bagus lagi merebusnya menggunakan “hawu” di mana kayu bakar akan membantunya memiliki rasa lain, saya rasa lebih harum . Menuangkan air dengan sedikit teknik misal mengucurkannya di ketinggian tertentu, yah it’s work, try it! Takaran gula yang seimbang, tidak terlalu manis.

Oke sampai saya kuliah dan sekarang berumah tangga saya sudah melupakannya. Saya terlarut dalam keefisienan kopi instan yang tinggal seduh. Walaupun pada awalnya agak sedikit aneh di lidah tapi yes mereka berhasil beradaptasi.

Kopi instan yang paling saya sukai adalah ABC susu di mana rasa kopinya masih kuat ketimbang kopi instan lainnya. Walaupun ada kopi instan semacam kapal api yang hanya mencampurkan gula dan kopi tapi lagi-lagi kopi semacam ini hanya enak jika kamu mau berusaha sedikit untuk mendidihkan air :D. So, untuk waktu yang lama saya benar-benar meninggalkan kopi hitam.

Kebiasaan minum kopi ini pun menular ke suami. Suami yang berasal dari Jawa di mana teh adalah minuman yang kamu akan menemukannya di setiap rumah di jawa. Awal pernikahan teh adalah hal yang harus selalu tersedia tiga kali sehari 😀 tapi sekarang lihatlah walaupun teh tidak benar-benar ditinggalkan, kopi hampir tiap hari tidak terlewat. Dan kesukaan suami tidak betul-betul kopi yang ada rasa pahitnya dia memilih sesuatu yang manis so, kopi coklat adalah pilihannya. Walaupun menurut saya bukannya terasa kopi tapi lebih ke cokelat 😀

Intronya ya sesuatu 😛 oke jadi ceritanya hari ini saya mendapatkan kopi hitam. Bukan sembarang kopi hitam. Kopi yang baru saja tiba dari Sudan, sebuah Negara di Benua Afrika di mana di sana terdapat kopi terbaik di dunia. Menurut pakar kopi Nathanael Charis dari Morning Glory Coffe Academy, berdasarkan pertemuan pakar kopi dunia di Dublin, Irlandia, penghasil kopi terbaik adalah dari Benua Afrika artikelnya dapat di baca di sini. Saya amat sangat penasaran.

Niat sekali saya beli panci penyeduh air, kecil saja, ya untuk satu atau dua gelas. Karena saya tahu suami tidak begitu menyukai kopi pahit. Beli gula lokal yang menurut saya lebih manis, lebih kerasa tebunya *apa coba* . Hanya untuk si kopi sudan.

1

Kemasannya rapi, plastiknya tebal, tidak seperti kopi kita. Walaupun sempat dibingungkan dengan tulisan mfg 12.2014 saya tetap melaju dengan penasaran. Kemudian saya tahu bahwa mfg sesuai dugaan saya sebelumnya kependekan dari manufacturing, it’s mean tanggal dibuatnya si produk. Tentu berbeda pengertian dengan expired date.

Pertama kali dibuka, aromanya tidak sekuat kapal api. Aromanya lembut dan ketika dipegang ia juga tidak sehalus kapal api *sengaja acuan saya kapal api karena yang paling umum digunakan terutama di kampung saya*. Ia sedikit kasar, kalau kamu pernah mencoba kopi dari torabika yes mirip-mirip itulah teksturnya.

3

Dan ketika diseduh lebih mirip torabika ia menimbulkan semacam buih yang lumayan di permukaan gelas. Tidak seperti torabika yang memiliki ampas sedikit, kopi sudan ini ampasnya mirip kapal api: banyak.

4

Bagaiman rasanya? Menurut saya lagi-lagi mirip torabika, pahit kecut, cuman dia masih memiliki butiran yang lumayan kasar dibanding kapal api.

5

Overall saya suka. Tidak juga melebihi ekspektasi saya akan kopi kesukaan masa kecil saya tapi ini cukup oke untuk diminum dan diseduh dengan sedikit upaya. Yah lumayan mengobati kerinduan saya.

Oh ya terakhir, kata orang kopi bisa membutamu melek. Bagi saya tidak begitu, melek atau tidak bukan karena kopi, saya pikir sugesti lah yang bekerja. Minum kopi sebanyak yang kamu bisa tidak menjamin apa-apa, tapi kalau kamu menyukainya it’s really make up your day 😉

6

Love coffee very much

catatan”

Hawu : tungku dari tanah liat, menggunakan kayu bakar.

sangrai : menggoreng biji-bijian atau sesuatu tidak dengan minyak biasanya di atas tanah liat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s