-56- Perjalanan

Waktu jaya-jayanya orde baru rasanya Indonesia adalah negara paling hebat di dunia. Negara dengan penduduk paling ramah dan baik. Saya ingat waktu itu takut sekali andai saja dengan alasan tertentu tetiba berada di Amerika. Takuuut! Di mana orang tanpa rasa takut dan bersalah main tembak dor! Dor! Dor!. Ya maklum waktu itu usia masih belia belum genap sepuluh 😀

Disodorin berita pembunuhan di negeri Paman Sam langsung ngeri. Diliatin film barat yang jedor-jedor langsung tidak mau beranjak dari negeri tercinta. Tak sedikit pun terlintas untuk pergi ke negeri orang: takut. Sekarang? Aih mau banget! Ya walaupun tetap tidak mau ya kalau disuruh tinggal menetap. Emang siapa pula yang mau ngasih izin gratis 😛 .

Wawasan telah mengubah cara pandang saya lebih dewasa selain faktor U tentunya :D. Semakin jauh melangkah dari kampung halaman ada banyak hal menarik baru yang saya sangat bersyukur, ada banyak wawasan baru yang saya dapat. Andai saya tidak mengambil langkah-langkah tersebut saya tidak akan pernah sampai pada keinginan untuk melihat dunia luar. Paling tidak keinginan untuk mencicipi tanah lain yang lebih putih atau bebungaan yang lebih berwarna 😀

Suatu saat mudah-mudahan Alloh SWT menyampaikan pada harapan itu, aamiin. Sekarang saja saya sudah cukup jauh melangkah. Saya berada jauh dari kampung halaman. Di tempat ini saya banyak menemukan hal baru.

Masyarakatnya sangat berbeda dalam hal karakter dengan masyarakat kampung saya. Terus terang, to the point dan tidak terlalu ribet dengan kesopanan. Bukan berarti tidak sopan hanya sopan dalam kemasan yang berbeda. Jika dalam kamus saya menyebut nama pada orang yang lebih tua adalah tidak sopan lain cerita di sini. Sempat heiran juga pertama kali menemukan kakak adik saling tegur dengan nama masing-masing. Atau kalau ingin menyampaikan A saya akan ke B atau C dulu untuk sedikit memperhalus maka sebaliknya penduduk sini tanpa mengenal jalan lain langsung jebret 😀

Eits sekali lagi ya, ini bukan bentuk ketidaksopanan di sini. Yes, budaya memang sangat berbeda. Kalau mau memaksakan sendiri dengan keinginan pribadi ya, gak bakal nyambung lah :P. Inilah saatnya bagi saya mengerti bagaimana peribahasa ini perlu dilaksanakan: di mana bumi di pijak di situ langit di junjung. Begitulah kita harus pandai beradaptasi. Tapi bukan berarti saya harus ikut-ikutan gaya mereka dong 😀

Tidak juga saya masih seperti dulu :D. Hanya saya tidak ambil pusing dengan perbedaan ini. Misalkan anak kecil di sini suka dibilang bodo. Bukan bodo dalam artian bodoh yang kita kenal secara umumnya. Jadi penggunaan katanya semacam main-main sama anak lah.

“Ezul mana ayam? Mana?”

“tut u tu…!”, sambil nunjuk mobil-mobilan.

“Bukan Nak, bukan itu. Ini ayam, siapa bodo siapa?”

Kira-kira seperti itu kalimatnya. Sebagai orang Jawa saya mungkin tersinggung ya kalau dialamatkan sama anak sendiri. Berhubung percakapan itu antara anak dan ibunya saya jadi faham itu bukan untuk mengatai bahwa si anak bodoh.

Ah sudahlah nanti saya disinggung sama ahli parenting lagi 😛 Tapi inti yang mau saya sampaikan bahwa hal seperti itu di sini di tempat saya berpijak sekarang ini bukanlah sesuatu yang salah atau bahkan niatan mengejek/ mengatai. Dan ada banyak hal benturan kebudayaan yang pada awalnya membuat saya keder.

Tapi semakin mengenal mereka-masyarakat sini- semakin sayang. Tak kenal maka tak sayang. Mereka adalah orang-orang yang tanpa dimintai tolong pun akan segera mengulurkan tangan. Sangat menghormati kaum istri, penyayang kepada anak. Walaupun bodinya keker-keker tapi hatinya selembut kapas, aihir 😀 Kebanyakan tipikal penduduk sini seperti itu. Lebih-lebih mereka yang mengenal islam, mempelajari dan berusaha menerapkannya dalam hidup: benar-benar perpaduan antara keaslian karakteristik dan agama yang benar.

Maka saya tidak aneh apalagi kaget komo deui terkejut-mah ketika tahu bahwa beratus tahun lalu ada pemuda Inggris dari kalangan terhormat yang jatuh cinta pada peradaban suatu masyarakat ketika ia berkunjung ke sana. Ia melihat keharmonisan masyarakat, hidup sederhana, ramah dengan tulus, berdampingan tanpa ada sekat kaya atau miskin. Ia menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena ikatan yang ditimbulkan oleh keimanan mereka. Dan di kemudian hari ketika negaranya memutuskan untuk ikut dalam kancah Perang Dunia I dengan alasan yang salah satunya karena keimanan yang dianut masyarakat tersebut ia memilih menjadi musuh bagi negaranya.

Siapakah dia? Terereng terereng… ada yang tahu?

Dialah Marmaduke Pickthall. Orang Inggris yang beragama Islam pertama yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa inggris. Sehingga kebanyakan orang inggris mulai sadar akan keberadaan Islam. Selama ini mereka menganggap Islam adalah jahat, agama terlarang, bahwasanya kitab sucinya adalah hasil tiruan, dan agama ini dinyatakan sebagai musuh bagi Negara Inggris pada saat itu. Boleh di simak di videonya ya.

Selain Marmaduke Pickthall hal serupa juga terjadi dengan William Henry Quilliam dan Baron Headly. Ke duanya pernah bersentuhan dengan Islam sampai akhirnya keduanya memilih mengubah keyakinan masa kecilnya. Hal ini membuktikan bagaimana kehidupan masyarakat dapat berpengaruh terhadap pendatangnya.

Indonesia adalah Negara Muslim terbesar namun rasa islami dalam menjalani kehidupan belum begitu terasa. Yang ada seperti yang saya ceritakan sebelumnya: masih dalam bentuk karakteristik aslinya. Walaupun Muslim tapi kebanyakan dari kita tidak membawa identitas muslim. Identitas itu hanya tersemat dalam KTP yang tersimpan rapi tersembunyi dari pandangan di dalam dompet. Karakteristik suatu masyarakat tidaklah jelek seperti yang saya tulis sebelumnya. Namun nilai-nilai islam akan membuatnya universal.

Ketiga orang ini yang kemudian saya tonton videonya adalah orang hebat yang menemukan cahaya Islam melalui proses perjalanan. Kemudian mereka berjuang memperkenalkan Islam kepada masyarakatnya adalah cerita lain yang patut disimak. Bagaimana Quilliam membangun komunitasnya melalui masjid dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarana mendekatkan Islam dengan masyarakat Inggris pada waktu itu.

Lain lagi dengan Baron Headly yang mengenalkan Islam sehingga tidak terlihat aneh dan kejam melalui pendekatan kebudayaan, seperti ia menyusup dalam acara minum teh. Ingat wali songo di tanah jawa dong. Mengenalkan Islam dengan menysup ke kebudayaan setempat agar lebih mudah diterima. Agaknya hal inilah yang ingin dilakukan oleh Baron Headly di Inggris.

Dan Marmaduke Pickthall yang kemudia menggemparkan dunia penerjemahan dengan terjemahan Al Qur’an ke dalam Bahasa Inggris. Dia pula yang dengan gigih menentang negaranya yang selain memerangi Jerman pada PD 1 pun dengan Ottoman wilayah yang pernah ia kunjungi dan membuatnya sangat terkesan. Kemudian malah membuatnya sangat terasing di masyarakatnya sendiri dan membuat dirinya menjadi musuh bagi negaranya. Karena hal itu membuatnya terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya untuk kemudian menetap selama dua dekade di India. Dan kembali ke Inggris pada akhir kehidupannya.

Walaupun jauh dari negaranya namun ternyata India adalah tempat yang palong cocok untuk dirinya bekerja tanpa gangguan dari sekitar. Di sanalah di India Marmaduke Pikcthall menyelesaikan penerjemahan Al Qur’an ke dalam Bahasa Inggris yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh seorang inggris asli beragama Islam. Al Qur’an ini boleh jadi yang paling bisa diterima oleh masyarakatnya dengan banyak catatan kaki untuk memperjelas terjemahan ayat. Hal ini mempermudah pemahaman orang Inggris pada umumnya.

Islam di abad ke-19 dianggap sebagai agama sesat. Dan beredar pemahaman bahwa Islam adalah agama yang kejam. Ini adalah kisah tentang tiga orang pria luar biasa yang masuk Islam pada saat menjadi seorang muslim dianggap sebagai pengkhianat bagi negaramu dan menimbulkan permusuhan.

Simak juga nasehat bagus dari Imam Syafi’i.

Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu llmu pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.

Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum.Jika engkau biarkan air itu tergenang maka ia akan membusuk.

Jangan takut untuk melangkah jauh dari tanah kelahiran. Banyak hal baru yang akan kita jumpai mungkin salah satunya akan menemukan hal menarik seperti ke tiga pemuda Inggris di abad 19. Atau seperti halnya saya walaupun Islam belum menjadi nafas hidup tapi masyarakat yang memiliki kecenderungan baik akan membuatmu kagum dan berfikir seandainya Islam tidak sekedar formalitas KTP. Paling tidak membuat kita belajar toleransi dan mengasah kebijakan pribadi.

Mungkin keindahan Maroko yang dilihat Quilliam atau wilayah Islam umumnya pada waktu itu dapat kita saksikan kembali suatu saat…aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s