-54- Self Reminder

Bismillah.

Saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang susah bin sulit untuk move on 😀 . Butuh waktu lebih lama dibanding yang lainnya *perbandingannya dengan orang-orang yang saya kenal*.

Jika di playlist laptop teman bisa bejubelan judul lagu di tempat saya hitungan jari. Dan dari yang bisa dihitung dengan jari hanya satu judul lagu yang saya putar-putar sampai eneg ada kali sebulanan. Salah satu lagu yang menjadi korban kesulitan move on saya adalah donna donna.

Walaupun sudah didengarkan berulang kali jangan ditanya hapal atau tidak: jelas tidak hapal 😛 . Saya hanya mengikuti senandungnya sambil terbawa lamunan lagu entah ke mana dan saya tidak pernah hapal liriknya. Siapa yang nyanyinya saja saya tidak hafal. Tapi kalau iramanya saya masih bisa tirukan “heu heu heu heu heu…”, tahukan lagunya? 🙄

Tidak hanya lagu, film juga begitu. Terakhir saya nonton variety show-nya Korea Selatan: Appa Oediga Session 1, entah berapa kali saya putar-putar sampai sekarang belum bisa move on. Menurut saya variety show yang ini bagus sekali, memiliki konsep yang oke, dimainkan dengan natural dan wajar, disajikan cukup apik, dan dengan anak-anak yang sangat berbeda karakteristik satu dengan yang lainnya. Lee Jun Su anak yang cuek bebek tidak peduli dengan keadaan sekitar jika dia suka ya lakukan saja. Saya ingat adegan dia ngobrol dengan orang New Zealand, yaelah dia gak peduli apakah lawan bicaranya ngerti atau tidak yang dia sampaikan, tapi hebatnya mereka tetap bermain dan nyambung. Kabarnya variety show ini tidak akan ada kelanjutannya. Walaupun saya tidak mengikuti session 2 nya tapi sayang saja konsep yang begitu bagus kok kalah sama rating. Dibanding variety show satunya lagi yang bertema anak-anak menurut saya konsep appa oediga masih lebih bagus.

Makanan juga begitu. Kalau saya lagi suka makan mie ya makan mie terus sampai bosan sendiri.

Sampai acara pemilu kemarin pun bikin saya susah move on, kalo yang ini sepertinya banyak yang senasib iya gak 😛 .Saya pernah nulis tentang pilpres ini dan kecondongan saya terhadap salah satunya di sini. Saya sangat berharap jagoan saya menang rasanya tidak dapat dibayangkan kalau-kalau lawannya yang menang. Tapi fakta tidak sesuai harapan.

Ya gitu deh, saya susah sekali move on. Saking sulitnya menerima presiden yang terpilih, untuk menjaga perasaan sendiri saya mengasingkan diri dari berita. Saya tidak nonton tipi, tidak baca Koran, pun tidak iseng mencari beritanya di dunia maya. Pokoknya benar-benar puasa informasi.

Hanya saja saya tidak bisa berlama-lama puasa facebook. Satu-satunya yang membuat bumi terasa begitu luas ya di fb itu. Mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat *eh, enggak ding ya*. Yah pokoknya saya tidak bisa menghindari untuk mengetahui kabar manteman di efbi. Kadang juga saya cuci mata di sana, melihat kebutuhan Maryam yang lucu-lucu jadi pengen beli ini itu. Entahlah memesan barang seharga 100.000 di efbi kok biasa saja beda sekali nuansanya ketika belanja di pasar di mana selalu saya niatkan jangan lewat dari lima puluh rebu. Walau kenyataan sering jebolnya.

Dari sanalah kesadaran untuk move on tumbuh sedikit demi sedikit dengan sendirinya. Melihat postingan dan artikel yang dishare kok lebih banyak yang masih saja menampilkan kekurangbaikan presiden terpilih. Saya jadi tersentil, mereka sepertinya segolongan dengan saya 😛 senasib sepenanggungan 😀 .

Apalagi pas di awal pemerintahannya, beliau menaikan harga bbm sontak artikel yang intinya menyalahkan, menyayangkan, kecewa,dan sejenisnya terhadap kebijakan pemerintah berkeliaran di beranda. Kesan yang saya dapat: sangat bahagia karena dugaan di awal bahwa pemerintahan ini hanyalah pemerintahan boneka sepertinya terbukti, horeee, lihat kan, salah sendiri milih dia dulu. Hadeuh dalam hati ada juga saya begitu.

Walaupun banyak yang mengkritisi tapi kok kesannya bukan kritik yang membangun *calm down ini mah pendapat pribados*. Berbaju kritik tapi terlihat nyinyir, itu yang saya lihat dan rasakan. Karena hal tersebut saya mulai bercermin. Kan pepatah lama mengatakan untuk mengetahui siapa kamu ya lihat saja teman-temanmu. Dan hari ini pepatah itu cukup mudah diterapkan hanya dengan mengamati efbi.

Saya sadar sebagai abdi negara berapa sih gaji saya. Peluangnya kecil untuk hidup berlebihan tapi saya rasa kami masih bisa hidup sejahtera minimal di atas garis kemiskinan. Kata orang sih hidup pas pasan. Pas mau jalan-jalan masih bisa ada tabungan, khusus yang masih single. Pas mau sekolahin anak ya, Alhamdulillah pakai yang berkualitas pun masih bisa ada asuransi pendidikan. Pas mau bangun rumah ya, masih bisa, ada bank. Pas kepingin mobil ya, Alhamdulillah ada bank juga. Yah, walaupun cicilan di mana-mana tapi saya pribadi masih sangat bersyukur. Pas mau sekolah lagi Alhamdulillah ada beasiswa, aamiin.

Jadi untuk sekedar kecewa terhadap kebijakan ini saya pribadi lebih memilih menahan diri, walau sulit ya. Saya teringat, dulu pas pemilu yang banyak memilih Pak Presiden adalah mereka masyarakat kalangan bawah. Apapun yang terjadi dengan pemerintahan ini saya lihat mereka masih bertahan. Kenapa saya tidak bisa? apakah karena saya tidak memilih beliau jadi bebas gitu mengumbar kekecewaan atau apalah namanya? Ah lagi-lagi kalau begitu saya hanya belum merasa nyaman dengan keterpilihan beliau.

Emang si kebijakan pemerintah rada-rada aneh di tengah minyak dunia yang lagi turun. Saya juga gatel pengen nulis ngritik pemerintah. Tapi saya tahan-tahan karena satu hal: saya tidak tahu kondisi pemerintah secara keseluruhan. Apa masalah mereka saya tidak tahu. Lagipula pemerintahan ini tidak dijalankan oleh mereka yang bodoh secara intelek. Saya yakin mereka adalah jajaran anak-anak terbaik negeri ini.

Ingat ya presiden kita ini lulusan salah satu universitas besar di negeri kita. Pada tahu kan bagaimana sulitnya tembus UMPTN, dan beliau masuk lulus pula. Kalau ada yang bilang beliau bodoh rasanya kita jangan ikut-ikutan deh lebih baik menahan diri sambil mengedepankan positif thingking dan tentu tabayun terus menerus. Walaupun misal kenyataannya beliau bodoh apa pantas kita berkoar-koar tentang kebodohan seseorang? Rasanya saya sendiri tidak diajari untuk saling mencela.

Jajaran menterinya pun saya akui pintar-pintar. Walaupun ada yang tidak sampai lulus SMA tapi lihatlah dia sangat pintar di bidangnya. Pendidikan memang perlu tapi kita juga jangan menapikan bahwa ada orang-orang anomaly di sana. Terlintas dulu sekali waktu masih kuliah, naik metromini ngebut di jalanan ibu kota saya hanya berfikir: ini sopir jenius sekali, saya mah belajar mengendarai mobil itu susaaaah sekali ini sampai bisa kebut-kebutan *keep positif thinking ye*. Intinya orang dengan passion yang tinggi dia akan sangat menguasai bidangnya berpendidikan formal atau tidak.

Saya rasa kita harus fair dengan kecakapan mereka, tentang attitude mereka atau tentang ideologi yang mereka fahami ini lain lagi ceritanya. Saya sendiri memilih menyimpannya saja. Memilih memberikan gambaran yang baik tentang attitude dan ideologi yang saya sukai atau yang menjadi kecenderungan bagi saya ketimbang menjelekkan orang-orang tersebut yang saya tidak mengenalnya secara pribadi.

Sekarang ini jalan terbaik bagi saya khususnya, menerima dengan ikhlas. Mau tidak mau kita hidup di zamannya demokrasi. Situ kalah mau apa? Tahu sendiri kan dalam demokrasi pilihan terbanyak artinya pilihan semua.

Sebenci-bencinya saya atas pemerintahan ini apakah ada manfaatnya minimal buat diri sendiri? pemerintahan ini belumlah apa-apa jangan sedikit-sedikit menyalahkan, mencoba untuk mendukung walaupun berat. Jika memang niatnya mengkritik untuk membangun sekarang ini ada jalannya melalui kawal menteri *sila di googling sendiri alamatnya*.

Kalau belum puas bisa juga kok berorasi atau minta ketemu dengan orangnya langsung asalkan kitanya ada niatan yang kuat untuk melakukannya. Banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau sekedar heboh-hebohan, nambahin warna, lha wall-wall sendiri, facebook sudah oke lah. Ini saya juga mau ikut meramaikan, hehe.

Saya jadi teringat ucapan Ali bin Abi Thalib yang akhir-akhir ini banyak di nge-share:

“tidak perlu membela dirimu, yang sayang padamu tidak memerlukannya, dan yang benci padamu takan percaya”

Begitu saja karena ternyata saya belum mampu menulis dengan kepala tenang lewat dari 1000 words. Fiuuuhhh akhirnya alhamdulillah selesai walau masih banyak yang bertebaran tapi saya puas akhirnya memiliki kekuatan untuk menuliskannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s