-42- Kembalinya Rasa Itu

Boleh jadi hanya sedikit saja dari kita yang bersimpati dan berempati kemudian melakukan tindakan nyata. Di luar sana banyak anak-anak terlantar. Bukan saja terlantar karena tidak memiliki orang tua. Mereka yang terlantar dari nilai akhlak dan akidah.

Pernah suatu hari. Saya bersemangat membuka tempat pengajian untuk menampung anak-anak yang haus ilmu agama. Mulanya saya bersemangat, menyusun materi dan strategi agar mereka faham. Tapi, saya berhenti. Letih. Tiap malam mereka membuat keributan dan saya capek. Saya tidak melihat perkembangan yang signifikan. Mereka masih saja tidak berkerudung, mereka masih saja pacaran, masih saja ngomong kasar, dan hal lainnya yang sangat mengganggu norma kesopanan dan akhlak yang baik.

Pada akhirnya saya mungkin kecewa. Terhadap diri sendiri dan keadaan. Saya mulai menyalahkan para orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Para orang tua yang sama sekali tidak menjadi teladan yang baik. Malahan beberapa orang tua melakukan hal-hal yang tidak patut dicontoh seperti mabuk-mabukan. Dan mirisnya anak-anak itu ringan saja ketika membicarakan masalah minuman keras. Sama halnya ketika mereka membicarakan “tukang bubur naik haji”.

Tapi, siapa sih orangnya yang mau menjadi buruk? Para orang tua itu mungkin saja kurang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah contoh buruk bagi anak-anak nya sendiri. Jika sudah begini siapa yang salah dan bertanggung jawab?

Dibutuhkan orang-orang yang mau peduli. Orang-orang yang dengan ikhlas membimbing anak-anak itu syukur dengan para orang tuanya. Sekolah tentu saja seharusnya menjadi gerbang kedua setelah gerbang pertama (keluarga) gagal. Dan jika sekolah juga sulit melakukannya maka kita butuh lebih banyak lagi orang yang peduli dengan nasib anak-anak itu.

Bukankah anak-anak itu penerus generasi kita? Walaupun mereka bukan anak-anak kita bukankah nantinya mereka adalah teman dari anak-anak kita? Dan lingkungan adalah salah satu faktor hebat yang bisa mengubah perilaku seseorang. Jika lingkungannya baik maka insyaAlloh anak-anak kita juga baik. Pedulilah dengan mereka karena mereka akan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita.

Saya menyesal karena telah berhenti dan saya ingin memulainya kembali. Entah bagaimana caranya. Bertemu mereka di jalan dan masih menyapa hangat, betapa saya merasa sangat bersalah. Mereka begitu polos. Mereka sangat menghargai siapapun itu guru mereka. Dan saya menyerah begitu saja karena kepolosan dan kenakalan masa kanak-kanak. Tidakkah saya juga pernah menjadi anak-anak dan dianggap nakal sama orang dewasa? Padahal saya merasa tidak nakal. Sulit memang sebagai orang dewasa memahami jiwa anak-anak selain sabar dan sadar bahwa mereka masih kanak-kanak dan polos.

Saya menyesal karena telah begitu egois memperlakukan mereka di tempat yang salah di pandangan saya. Saya tidak menyadari bahwa keegoisan saya sendiri lah yang menganggap bahwa saya benar adalah kesalahan itu sendiri. Saya keliru karena menganggap mereka tidak akan pernah berubah. Saya keliru besar. Karena terbukti walaupun mereka seperti tidak mendengarkan selalu saja ada yang nyangkut dalam ingatan mereka. Tidak ada yang sia-sia. Walaupun kita merasa sia-sia yakinlah tidak. Toh tentang hasil bukan urusan kita.

Ah, saya rindu dengan kalian anak-anakku. Walaupun ribut dan nakalnya kalian di mata saya waktu itu tapi kalian tetaplah anak-anak.

Tidak pernah menyangka bahwa saya akan kembali merindukan mereka. Merindukan mengajar mereka lagi. Dan satu hal saya sangat bersalah karena telah menyalahkan para orang tua. Para orang tua yang yah mereka pun perlu bimbingan. Para orang tua yang kurang pendidikan. Apakah kita tega membiarkan anak-anak mereka sama dengan mereka? Apakah kita tega masa depan tidak pernah menjadi masa depan bagi mereka? Dan apakah kita tega melihat masa depan untuk anak-anak kita sendiri di tengah lingkungan yang kurang kondusif karena salah satunya kekurang pedulian kita sendiri?

Sama halnya saya tidak pernah menyangka bahwa akan tersadarkan gara-gara menonton film “Betapa Anehnya Negeri Ini”. Sebuah film anak negeri yang mengisahkan anak-anak jalanan yang terlantar. Bagaimana seorang sarjana muda menemukan mereka dan mulai membimbing mereka ke arah yang benar. Dan saya tersentak bahwa anak-anak itu masih polos. Tinggal bagaimana kita mau mendidiknya.

Kalau kamu mulai jenuh menonton film-film barat yang katanya berkualitas itu. Saya anjurkan tonton film ini. Film yang tidak perlu sensor. Film yang penuh makna. Dan itu buatan anak negeri. Saya tidak tahu harus menulis apa. Tapi, satu yang pasti setelah menonton film ini saya tergerak untuk menulis dan mulai peduli lagi.

PS  kalau kamu peduli dan sedang jenuh maka saya hanya ingin katakan bertahanlah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s