-33- Menginjak Satu Tahun

Yes, Maryam is turning one…! Tepatnya si 3 Agustus jadi postingan ini sudah kelewatan. Balik mudik lebaran Saya harus beradaptasi dengan Maryam karena ia kami bawa ke kantor. Awal-awal lumayan keteteran sampai saya kaget melihat timbangan. Tapi, sekarang alhamdulillah sudah agak membaik lah…
Alhamdulillah sehat ya Nak…

Paling kerasa di usianya yang ke 1 ini adalah Maryam sudah belajar berjalan. Walaupun masih menggunakan bantuan seperti tembok, bantal guling serta abi dan ummi nya, so far Maryam berhasil berdiri sendiri dengan berbagai bantuan itu. Saya dan abi nya akhir-akhir ini sering melatih dia berjalan. Biasanya kami dalam posisi duduk atau jongkok berhadapan dan Maryam berada di salah satu antara kami dan berjalanlah Maryam menuju salah satu dari kami. Ya, cara ini lebih aman karena kami sudah bersiap seandainya Maryam kehilangan keseimbangan dan melatih kepercayaan diri Maryam agar ia tidak takut untuk jalan. Kami berharap ia akan segera berjalan. Baby walkernya sudah dikurangi, sesekali saja kalau kami berdua benar-benar sibuk dan ia kami biarkan bebas dengan dirinya. Biasanya sibuk berceloteh ” da da da ta ta ta…” dan berteriak sekali-kali.

Maryam sudah mulai aware nih sama gambar bergerak. Dia hobi banget di depan laptop nonton kisah Nabi Nuh dan Nabi Daud. Dia bisa sampai tidak peduli sekitar loh *yah, emang Maryam gitu sih*. Itu pilem diputar tiap hari belum juga bosen. Tapi, Saya kasih lihat upin ipin dia tidak suka loh. Selain kisah dua nabi itu Maryam juga anteng kalo dikasih pilem binatang. Biar rada aware dengan lantunan ayat suci, jadi setiap dia nonton pilem binatang suaranya diganti lantunan ayat suci. Dan entahlah mungkin kami yang terlalu berharap, kok rasanya setiap kali kita baca surat an naba’ dia sering nimbrung ngomong gak jelas dan dari bunyinya seperti mengikuti *mudah-mudahan Maryam lebih peka daripada abi dan ummi nya yang sudah rada hararese buat ngapalin*.

Komunikasinya juga alhamdulillah sudah bagus.
“Maryam tidak boleh sayang, ini bukan makanan…”, tapi mimiknya serius, tiba-tiba nangis sodara-sodara. Duh, kok cengeng ya. Setiap kali kita bicara rada keras ia nangis lo. Mirip siapa nih?
“Maryam….Ba!” dan ia terbahak-bahak.
Kita sengaja tidak ikut metode yang jangan katakan jangan/tidak boleh pada anak. Kita lebih senang mengajarkan Maryam hitam putih, ya, rasanya lebih jelas saja. Tidak untuk ini dan ya untuk itu, rasanya lebih tegas saja. Dan lebih jelas mana baik dan buruk. Teringat kisah Lukman al Hakim yang namanya diabadikan dalam surah di Al Qur’an yang mengajari anaknya. Lupa, dulu Saya pernah baca di mana Lukman dalam memberi pengajaran pada anaknya sedari awal ia sudah tegas. Misal tentang ketauhidan, dia tidak menyamarkan dengan kalimat positif tapi langsung dengan “jangan menyekutukan Alloh”. Manapun bolehlah ya, tergantung kesepakatan ortu. lagi pula Saya yakin yang mengadopsi metodi tanpa kata jangan pun tidak bisa 100%, akan ada hal-hal urgent yang memang harus dikatakan dengan Jangan, seperti ketauhidan.

Sosialisasinya juga tambah bagus sejak kita bawa ke kantor. Kebetulan beberapa teman kita juga bawa anaknya jadi Maryam sering diajak main sama mereka yang selisih satu dua tahun. Dia muali terbiasa main dan sudah tidak takut lagi dengan orang-orang, yang biasanya ia nangis ketemu orang yang menyapa dia kali ini sudah tidak dan muali berani berinteraksi dengan si penyapa.

Dengan sangat terpaksa Maryam harus ikut kita ke kantor setelah ateu nya memutuskan untuk tidak ikut lagi. Rempong? tentu! tidak fokus kerja? jangan ditanya ya soalnya merasa sangat bersalah. Bagaimana pun Saya akui sulit sekali profesional kalau bawa anak, apalagi anaknya masih seumur Maryam yang belum bisa dilepas main sendiri. lain cerita mungkin jika ia sudah pintar jalan dan main sendiri. Kalau sudah begini jadi kepikiran macem-macem. Sabar. Sabar. Hanya itu kuncinya sambil ya tentu saja berupaya dan berdo’a. Semoga di depan sana ada jalan yang lebih baik, aamiin. Kenapa tidak cari yang jaga? Banyak pertimbangan yang tidak bisa Saya share di sini. Intinya kami lebih nyaman Maryam berada di bawah pengawasan kami, paling tidak untuk saat ini.

Hmmm hanya saja. Iya, hanya saja masalah berat badannya, ia belum juga move on dari angka 8. Selain kemarin sempat sakit di Majalengka: demam, muntah dan mencret pola makannya juga sedang beradaptasi. Jadi, ceritanya Maryam mulai tidak doyan makanan bayi. Ia maunya makanan kita. Kalau kita makan nasi sama telur goreng ya ia pengen juga sama oreg pengen, karena masih ragu takut kenapa-kenapa dengan pencernaannya Saya tidak berani memberinya dalam jumlah banyak. Palingan tiga sampai lima suap dan frekuensinya sama dengan kami 3 kali makan, di luar itu tetap ada makanan selingan bayi *itu banyak apa sedikit ya?* Jadi, karena itulah makannya mungkin agak kurang banyak ya. Entahlah, tapi selama ia masih semangat ASI, Saya agak tenang. Lagian Maryam tetap montok kok.

InsyaAlloh Maryam sehat.
Jadi anak solehah ya sayang. Ummi dan Abi selalu mendo’akan yang terbaik untukmu sayang. Terimakasih satu tahun ini ummi terutama banyak sekali belajar tentang kehidupan. Rasanya lelah itu bisa disimpan dulu jika engkau masih membutuhkan ummi. Entahlah kekuatan itu tiba-tiba muncul selelah apapun ummi. Rasanya ummi mengerti kenapa surga berada di telapak kaki seorang ibu…

*Emih aku mencintaimu…*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s