-31- Komentator yang Lain

Tidak ada tipi membuat hidup lebih hidup *haish*. Kepala rasanya lebih adem. Yah, dibandingkan ada tipi seperti ini rasanya, saya pikir, lebih nyaman dan adem paling tidak untuk sekarang ini.

Baiklah saya tidak terlalu tertarik dengan yang namanya pemilu. Tapi, saya tetap mengikuti informasinya. Lebih tepatnya saya tidak tertarik untuk ikut mencoblos. Yah, sekali dua kali saya lakukan untuk memenuhi rasa penasaran *ditimpukin*, tapi, yah, paling tidak saya jujur. Baru dua kali saya ikut berpartisipasi dalam pemilu. Pertama waktu partainya yang 48 itu, karena itulah saya ikut. Iya saya penasaran dengan besarnya kertas suara. Saya ingin merasakan bagaimana hebohnya membuka kertas suara yang ajubile itu. Terus kedua kalinya kemarin. Itu pun karena sayang sudah dapat surat panggilan sekaligus ingin merasakan nuansa pemilu di Wakatobi. Saya masih ingat, dulu saya menjagokan PAN karena Pak Amien Rais, dan sekarang saya menjagokan eu…anu, saya menjagokan Pak DI alias abah Dahlan Iskan. Hmm saya bela-belain nyoblos demokrat karena beliau tapi yah yah yah kita bisa lihat sendiri akhirnya, konvensi hanya sekedar konvensi. Kalau Partai Demokrat mau serius dengan perolehan suara yang lumayan di pemilu, saya pikir seharusnya terlebih dahulu menentukan calon presiden dari awal: artinya hasil konvensi harus diumumkan sebelum pemilu. Jadi, masyarakat yang menjatuhkan pilihan pada siapapun yang menang konvensi akan dengan sukarela memilih PD, walaupun jujur saya bingung mau milih siapa di PD: orang-orangnya kebanyakan nama lama saya lihat.

Suara PD di pemilu kemarin juga tidak jelek-jelek amat, mereka bisa saja sebenarnya menjalin komunikasi politik untuk mendapatkan suara dukungan 20 persen. Tapi yah, si abah kan bukan elit partai itu juga, beliau hanya perorangan yang memiliki niat. Kalaupun PD mendulang suara yang cukup untuk mengajukan calon, entahlah saya pikir mereka akan berfikir dua kali lagi untuk mencalonkan si abah *rada suudzon boleh dong di tengah kacaunya perpolitikan, tapi kan di politik memang harus waspada ya*.

Seperti kita tahu hanya ada dua pasang calon yang maju. Dari PDIP dan Gerindra. Seperti saya bilang, karena pada dasarnya saya mah golputer jadi ya biasa saja. Tapi dasar politik ya, tiba-tiba saja arus berubah, pemberitaan hilir mudik di mana-mana tentang ke dua pasangan, dan tidak semuanya fair. Saya tidak bisa lagi membedakan mana berita yang benar dan tidak. Saya bingung. Akhirnya pada satu titik saya hanya menjadi penonton dan pendengar setia. Semua berkicau, semua, tidak di dunia maya tapi sampai di kantor tempat saya bekerja. Entah juga kalau sampai ke warung-warung kopi *lah di sini tidak ada warung kopi*.

“Jadi nomor satu ato dua?”, pertanyaan yang dipastikan terulang setiap hari, mungkin akan berhenti tanggal 10 Juli nanti. Bisa jadi belum. “Nomor satu dong! Dia punya visi misi yang jelas, dia mengerti akan apa yang diucapkannya, sementara nomor dua, duh kasian deh ngeliatnya”, ujar satu teman penuh semangat.

“Hey kata siapa Pak Jokowi tidak mengerti, dia itu pintar juga berpidato bahkan di level dunia. Coba bayangkan Pak Prabowo itu, itu pas zamannya dia di tentara orang gampang sekali menghilang, dan ternyata ada di Lenteng Agung itu…”, beliau seakan mendoktrin saya untuk memilih nomor 2. Saya mengangguk-angguk ingin berkata tapi yah sudahlah. Saya pikir orang-orang semacam teman saya yang nomor satu atau dua itu mau diberi argumen objektif apapun tidak akan membuat mereka berubah pikiran. Lagian saya juga tidak yakin apakah argumen saya sudah benar dan objektif atau hanya salah satu dari korban pemberitaan sahaja.

“Pak Jokowi itu juga sudah ditandai oleh orang Papua loh. Kata mereka mau nyoblos orang jawa yang kurus, lagian kalau di temapat saya, di tempat saya itu menjadi kepala desa saja harus memilki istri. Malu itu kita tidak punya istri, apalagi ini presiden”, serius sekali Bapak yang satu ini menanggapi. Dan saya senang karena saya merasa lebih muda beberapa tahun karena tiap hari saya tertawa lepas. Coba bayangkan apa hubungannya tiba-tiba ada orang papua? Seakan-akan ingin mengatakan, ‘orang papua saja mau memilih pak jokowi’, tapi, terus kenapa? Saya harus bilang wow gitu?. Pokoknya hiburan gratis deh tiap hari. Belum lagi buka facebook. Wall ibaratnya kapal-kapal yang lagi bertempur, saling melepaskan peluru, bukan, bukan, ini meriam! Bagaimana tidak seru kawan?.

Tapi, saya menjadi malas akhirnya, hiburan itu menjadikan saya sebal, membuat kepala saya ricuh *apalagi ada tipi ya, di mana informasi hilir mudik tiap hari* dan saya rada-rada gatal ingin berkomentar, keimanan menjadi pendengar dan penonton setia tergoyahkan, ketika. Ketika merasa dan menghukumi.

Merasa bahwa pilihannya yang terbaik dan terbenar. I stand on the rigth side, ide kreatif yang kadang kalau kebablasan jadi lucu. Lucu ketika yang memasang AVA ini berdebat jungkir balik tentang jagoannya. Saya sendiri malah kasian dengan AVA nya ya, kasian saja melihat kreativitas dinodai dengan debat yang ujung-ujungnya membuka aib lawan. Dan parahnya lagi, menurut saya beberapa menganggapnya merasa paling benar dan merasa paling keren, jadi kayak gini nih,’hey lihat kita pendukungnya no sekian keren dan intelek’. Ini belum seberapa. Yang mengusik saya tentang pemberitaan. Bahwasanya memilih calon A itu mendukung orang yang sama sekali tidak menghormati HAM, lihat para pendukungnya seperti lintah. Dan bla bla yang intinya, “kok bisa sih kamu memilih si A?”. Lain lagi tentang si B, di belakang si B itu pendukungnya ngeri-ngeri ada syiah, JIL, dan lainnya yang dianggap ngeri, jadi kalau memilih si B mudharatnya akan lebih besar. Intinya, “kamu pikir-pikir dulu lah untuk memilih si B”. Awalnya saya tidak peduli tapi semakin sering mendengar orang berdiskusi mengarah ke debat kusir di dunia maya ataupun nyata membuat saya tergelitik untuk menulis juga. Paling tidak inilah masa di mana pemilihan presiden begitu mengharu biru, sampai-sampai yang biasanya golput pun tergerak untuk menyuarakan pilihannya karena takut, takut akan ancaman terutama keagamaan. Merasa paling benar karena telah menentukan pilihan menjelekkan lawan jagoannya dan mencaci mereka yang tetap ingin golput.

Menghukumi si A boneka, si B pengkhianat HAM. Si A merakyat si B, “oh lihat saja mobilnya, rumahnya de el el”. Si A lemah si B kuat bak macan. Menghukumi si golputers padahal negeri ini mengaku demokratis. Yah yah yah, hampir tiap hari saya mendengar dan membaca hal seperti itu, apa tidak eneg?

Kampanye dengan membandingkan atau menyerang pihak lawan rasanya semakin basi dan tidak mengundang simpati, paling tidak bagi saya. Saya yakin masing-masing kandidat memilki visi dan misi pun kebaikan yang menonjol. Berkampanye mengenai ke duanya rasanya akan lebih menenangkan dan membuat dunia tidak terasa riuh rendah. Misalkan Pak Jokowi itu merakyat kinerjanya bagus dan tidak segan-segan turun ke lapangan, dia mungkin eksekutor lapangan yang paling jitu, kita butuh pemimpin seperti dia sekarang ini. Tanpa harus membandingkan. Atau, Pak Prabowo itu seorang yang jenius dalam memilih dan menempatkan orang, the right man on the right place/job, kita butuh pemimpin yang bisa memenej bawahannya dan lebih dari itu Pak Prabowo adalah orang yang sangat tegas apalagi mengenai nasionalime. Lagi-lagi tanpa harus membandingkan. Kalau ingin berpolitik membandingkan atau membuka aib pihak lawan, berbicaralah di grass root, mereka yang kebanyakan tidak membaca hanya mendengar dan melihat utamanya lebih masuk jika diselipin isu negatif tentang si kandidat. Tapi untuk mereka yang membaca, rasanya isu-isu negatif atau aib seorang kandidat malah membuatnya terlihat basi dan yah, kita juga membaca.

Tentang yang golput, selama dia golput atas kesadaran dirinya dan dia tahu kenapa dia memilih golput, saya pribadi tetap menghargai mereka. Saya kira mau kita cemooh atau di-bully bagaimana pun orang yang sudah memiliki pendirian akan sulit tergoyahkan. Sama halnya dengan kita yang mengaji di tempat A dan menilai yang tidak satu tempat dengan kita kurang tepat/ salah/ keliru *apalah*, bagaimanapun kita mengarahkan dan menunjukkan sisi negatifnya maka itu akan sulit. Selama tempat-tempat pengajian itu tidak lalai dari alQur’an dan Hadits, shalat yang sama dan memiliki ketauhidan yang sama, so what? Saling melengkapi rasanya lebih menyenangkan. Ada yang berdakwah di politik ada yang di luar, ada yang memilih di dalam sistem ada yang tetap di luar, ada yang berdakwah lebih ke perbaikan individu ada yang langsung terjun ke masyarakat, jadi saling melengkapi, saling membackup satu sama lain. Janganlah merasa paling benar, toh mereka saudara juga kecuali memang telah menyimpang.

Di alam demokrasi berpendapat secara bebas saya kira sudah ada jaminannya. Jadi, apapun pilihannya saya kira tidak masalah. Asal jangan merasa dan menghukumi. Semua manusia dewasa yang berakal tidak akan senang jika dianggap salah karena telah memilih yang menurutnya sendiri benar *benar di sini adalah jika dia tidak menyimpang dari alQuran dan hadits*. Kalaupun tingkat golput ini tinggi yah perlu dikaji lagi mungkin demokrasi dirasa sudah tidak bermanfaat lagi bagi masyarakat. Masyarakat sudah jemu dengan segala tetek bengek demokrasi, jadi jangan salahkan mereka yang sepertinya tidak mendukung demokrasi. Jika hari ini kita masih menganggap demokrasi terbaik yah silakan berbuat sebaik-baiknya dan sebaliknya jika sudah emoh dengan yang satu itu ya silakan juga asal jangan kebablasan mencacinya, mengedepankan kebaikan sistem tandingan tanpa harus semangat 45 menjelekkan sistem yang sedang berkuasa akan membuat orang lebih tenang dalam berfikir. Pembaca pun akan lebih tenang dalam merenunginya. Lakukan saja yang terbaik di tempat masing-masin tanpa harus saling menjatuhkan. Saling mendukung dan menghormati akan lebih menyenangkan. Toh, tidak ada ruginya kan?

Membuat orang memahami kita, cobalah juga untuk memahami mereka. Karena hidayah itu hanya Alloh yang menentukan. Kemukakanlan, berilah masyarakat informasi yang baik dan positif tentang apa yang kita pilih dalam hidup tanpa harus membandingkan yang arahnya terkesan menjelekkan.

Oh ya, tentang pilpres ini, saya sendiri, kalau saja mendapat surat panggilan, saya sudah memutuskan memilih siapa. Mau dibombardir informasi macam manapun rasanya saya sudah menetapkan dan yah saya kira menurut saya sudah tepat. Saya yakin yang lainpun begitu. Untuk saat ini saya mungkin membutuhkan orang yang bisa memenej orang-orang untuk duduk di tempat yang semestinya. Sehingga mudah-mudahan kalau sudah benar posisi orang tersebut dia akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang sempurna, semua memilki masa lalu, dan marilah melihat ke depan dan berharap semoga ke depan semua akan berjalan lebih baik. Silakan kalian pun memiliki pilihan, memiliki hak yang sama untuk memilih baik itu untuk no 1, 2, atau tidak sama sekali.

selamat memilih…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s