-29- Menyoal UN: Ujian Nasional

Barusan blogwalking dan isu mengenai UN sepertinya memanas kembali. Saya tidak berkecimpung di dunia pendidikan, sudah lama meninggalkan bangku pendidikan, dan anak saya belum mengenyam bangku pendidikan formal karena masih bayi jadinya saya jauh dari isu-isu seperti ini. Membaca tulisan seperti ini mengingatkan saya ketika masih duduk di bangku sekolah. Pro kontra tentang penghapusan UN karena dianggap tidak efektif, buang-buang uang dan waktu, belum lagi kalau ada yang tidak lulus malahan menurunkan mental anak-anak, isu seperti ini terus menggelinding bak bola salju yang akhirnya penyempurnaan terus dilakukan dan saya tidak tahu sudah sampi mana UN ini sekarang. Yang terlintas dalam pikiran muda saya waktu itu, “kasian sekali zaman saya ini, masak apa-apa kami ini dikasihani, lah kalau memang gagal UN terus stres bukan salah UN-nya dong, mental kami yang seharusnya diperbaiki”, itu pikiran yang jujur saya. Tapi yeah, saya pun memang agak sedikit senang mengetahui UN akan dihapus. Senang karena saya tidak perlu belajar habis-habisan.

Belajar habis-habisan untuk beberapa jam yang menentukan? Nah ini kalimat yang paling populer waktu itu Tahun 2005 *saya lulus SMA*. Menurut aliran kontra UN, masak nasib seorang anak hanya ditentukan dari menjawab soal-soal UN yang hanya 2 jam itu? Kemana hari-hari tiga tahunnya di SMA? Mungkin sewaktu tiga tahun itu si anak yang tidak lulus adalah dia yang berprestasi entah itu di bidang kesenian, olahraga, dan lainnya, kan kasihan kalau sampai tidak lulus? *kasin kasian kasian, sebenarnya saya paling males dikasihani* Jadi menurut aliran kontra, UN hanya akan mencetak anak bangsa serupa sejenis, yaitu pinter matematika, fisika, biologi, dan yang sejenisnya *biasanya analoginya dengan hal yang berbau eksak*. Padahal, menurut mereka lagi, anak-anak itu beragam kemampuannya, ada yang pinter di eksak, seni, olahraga dan lainnya. Sampai detik ini saya merenung, memangnya anak-anak yang pinter, cerdas, dan jenius di bidang seni, olahraga, pokoknya yang jauh dari kesan eksak, tidak apa-apa kalau mereka tidak bisa menghitung?

Kembali ke belajar habis-habisan ini. Saya pun kembali bercermin, memangnya setiap mau ujian kelulusan kita harus belajar habis-habisan? Teorinya jika kita belajar dengan sunngguh-sungguh, menyimak dengan baik ketika guru menerangkan, saya kira belajar seadanya saja sudah cukup tidak perlu sampai habis-habisan? Tapi yeah, kalau pun memang diperlukan belajar habis-habisan seperti kasusnya saya, yah, tidak masalah malah bagus berarti anaknya memiliki kemauan lebih dibanding anak-anak yang lain. Kemampuan dan kemauan anak saya akui berbeda-beda, tapi soal UN saya kira sudah dipertimbangkan dengan matang pula sebagai standardisasi kelulusan. Misal untuk matematika anak kelas 1 SD, yah, tidak mungkin muncul soal phitagoras dong di soal ujian mereka. Untuk anak kelas 1 SD porsi soal dibuat untuk melihat apakah mereka sudah bisa berhitung atau tidak, jika sudah berarti anak tersebut memang sudah layak mendapatkan ilmu baru. Kalau belum layak, kan, kasian kalau dipaksakan diluluskan *imho ya*. Jadi menurut saya soal-soal yang diujikan memang sudah sesuai dengan porsinya.

Kalau belakangan ada anak pintar selalu rangking tiga besar dan tidak lulus ujian silakan anak itu mempertanyakan. Saya yakin bukan UN-nya yang salah, kalau anak yang biasa saja bisa lulus sementara dia tidak, berarti ada yang salah, mungkin saat dia menghitamkan jawaban salah melingkari, atau kertas jawabanyya terlampau kotor dan tidak bisa dibaca scanner pun dengan manual jadi dianggap tidak lulus*bisa ya?*, atau yang meriksa salah kasih nilai seharusnya 8 jadi 4 atau ada yang menukar lembar ujian dia, atau dia lagi sedih karena alasan yang tidak kita kethui dan atau-atau yang lain, yang kesemuanya bermuara bukan pada UN-nya yang salah, bisa jadi dianya yang kurang hati-hati, sistem di pemerintahnya sendiri yang harus diperbaiki ketika menerima dan mengolah hasil UN. Toh kalau memang dia tetap harus gagal UN ada ujian susulan kok, kurang apa coba?

Masalah dia down atau stres berarti bukan juga UN-nya yang salah, berarti pelajaran mengenai akhlak atau mentalnya yang kurang. Sesungguhnya jika saja pelajaran mental dan akhlak kita bagus maka segala kegagalan itu dapat diantisipasi, insyaAlloh. Lagipula saya percaya Alloh tidak akan memberikan beban yang tidak bisa ditanggung oleh umat-NYA. Jika dia gagal berarti Alloh sedang mengujinya dengan ujian yang lebih tinggi, jadi jangan dikasihani tapi disupport mentalnya dengan nasihat yang positif jangan malah mengerdilkan dengan ungkapan kasihani. Mental seperti apakah jika apa-apa dikasihani? Apa-apa harus serba dibantu? Yakinlah jika anda-anda para orang dewasa yang kini sudah sukses bisa melewati ujian, kami pun bisa bahkan lebih baik lagi *ini dulu ya pas saya masih muda belia*.

Tentang mencetak anak bangsa serupa tapi tak sama. Hello UN ini hanya menguji sejauh mana kelayakan kita untuk naik grade. Yang diuji memang hanya beberapa mata pelajaran yang basicnya hitungan dan bahasa, kenapa? Tahu sendiri dong semua lini kehidupan kita tidak akan jauh dari yang namanya menghitung dan berbahasa. Mau suka apa kamu sekarang atau jadi apa kamu nantinya tetap harus menggunakan hitungan dan berbahasa kan? Walaupun tidak akan serumit kalkulus tapi mau tidak mau kamu harus belajar kalkulus karena ada di materi matematika SMA. Tapi jangan khawatir jika kamu menjadi seorang chef profesional misalnya, maka yakinlah dengan pemahaman hitungan yang baik kamu akan menjadi salah satu chef yang paling berhasil. Kenapa? Karena memasak juga tidak jauh dari hitung menghitung. Saya jadi ingat acara masterchef australia *lupa session berapa* mungkin dua , dimana ada seorang peserta dimana pekerjaannya adalah seorang IT pro dan bagaimana? Mengagumkan masakannya unpredictable, yah, walaupun pada akhirnya bukan dia juga yang menang. Tapi saya jadi tahu bahwa ilmu yang kita pelajari sama sekali tidak ada yang sia-sia. Tanpa kita sadari kita mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Baiklah kesannya saya pro UN yah? Memang begitu adanya, hanya saja saya juga mengkritisi soal UN. Iya tentang soal ini, saya rasa jika untuk mengukur sejauh mana anak didik telah memahami pelajaran di tingkatnya, mbokya yang simple dan dasar saja yang diujikan. Kadang saya juga kaget ada satu dua soal yang terlalu sulit untuk standardisasi kelulusan, kalau untuk lomba olimpiade atau tes masuk UMPTN sih menurut saya tidak masalah mau dikasih rada sulit juga. Terserah universitanya, mereka mau mahasiswa seperti apa. Seperti almamater saya Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, karena dari namanya saja ada embel-embel statistiknya, tentu tidak jauh dari yang namanya matematika dan hitung-hitungan. Sehingga wajar dong kalau mereka ingin mendapatkan mahasiswa yang memiliki keunggulan dalam hal hitungan. Begitulah…

Soal standardisasi untuk penentuan kelulusan ini perlu dipikirkan matang-matang mengingat kualitas pendidikan di jawa sebagai central dan di luar jawa masih ada gap yang cukup besar. Hal ini saya tidak berbicara angka tapi penglaman pribadi. Kebetulan saya bekerja di luar jawa, tepatnya sulawesi tenggara. Di sebuah kabupaten yang lumayan jauh dari ibu kota provinsi. Tapi saya bersyukur bupati kabupaten saya ini orangnya gaul abis, jadi dia itu overconfident tentang daerahnya yang ia sebut sebagai bali nya Sulawesi, heho. Secara alam yang memang sudah given sangat mendukung hanya saja fasilitasnya masih yah, kurang gitu deh *kok jadi ke sini ya*. Intinya itu soal macam untuk menentukan kelulusan harap bapak ibu pikirkan baik-baik, pikirkan juga kualitas anak didik yang jauh dari ibu kota negara. Karena pernah sekali waktu saya mengajar di sini matematika dasar, mereka masih bingung, nah loh…hal seperti ini juga sebenarnya bukan terletak di soal ujian yang harus di downgrade tapi bagaimana pemerintah dapat menangkap isu ini untuk kemudian memperbaiki kualitas pendidikan di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.

Mengenai anak yang memang diberi kelebihan dibanding yang lain, saya yakin anak semacam ini mau ditaruh di sekolaha manapun dia bisa survive *keinget Lintang di novelnya Andrea Hirata* tapi bagi saya sekolah yang bagus itu bukan sekolah yang melahirkan satu orang jenius selebihnya di bawah rata-rata, tapi sekolah yang melahirkan semua didiknya cemerlang di bidangnya masing-masing tentu dengan diimbangi dengan kualitas akhlak yang mumpuni. Saya yakin anak-anak cemerlang ini pandai hitungan dan bahasa, minimal. Tentang jalan hidup masing-masih, siapa tahu, toh yang penting praktisi pendidikan itu mendidik dengan sebaik-baiknya. Pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia unggulan, ini kata saya loh, bercermin dari Jepang yang bisa dilihat langsung.

Akhir kata saya hanya ingin menuliskan bahwa saya setuju UN tetap exis dengan catatan soal-soalnya memang layak sebagai standardisasi kelulusan semua muruid SMA di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu soal angka minimal kelulusan, saya kira tidak perlulah terlalu underestimate, saya yakin anak Indonesia pintar-pintar kok. Anak-anak di negara lain saja memiliki semangat juang yang tinggi dalam hal belajar kenapa kita tidak. Lagi-lagi saya keinget variety shownya appa odiga, di salah satu session anak paling tua bercerita bahwa menurut dia anak di grade 3th itu paling susah, contohnya dia waktu kelas tiga hampir tiap hari pulang ke rumah itu jam 9 atau jam 10 malam karena harus ngambil les ini itu. Dari kata-katanya seakan-akan mengeluh tapi dari gesture saya yakin dia bangga karena telah melewati itu semua denga berhasil. Dan belakangan saya pun agak iri terhadap teman-teman saya yang memiliki kemampuan ini itu dan ternyata dulu sekali dia memang rajin belajar ini itu jadi belajarlah ini itu selagi muda karena sesungguhnya ilmu saya yakin akan sangat berharga lebih dari harta benda. Mumpung masih muda belajarlah…nikmati masa mudamu dengan mengambil lebih banyak ilmu…

Salam belajar…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s