-27- Serba pertama

Saya jadinya bingung mau cerita apa. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir banyak sekali cerita dan kejadian yang serba pertama bagi saya…

1. Pertama kali Maryam susah pup

Hari itu saya lupa hari sabtu atau minggu. Saya sudah ketar-ketir kenapa Maryam belum juga eek, padahal sudah hari kedua. Dan tau tidak, sebenarnya jauh dalam hati, saya menduga bahwa ini adalah ulah saya sendiri. Ini belum pernah saya ceritakan kepada siapapun termasuk suami *sungkem dulu, maafin ya a*. Jadi ceritanya sehari sebelumnya saya kasih Maryam jus pepaya yang masih dingin baru keluar dari freezer, masih ada es nya malah. Duh. Dia lahap sekali, walaupun saya takut-takut tapi tetep saja saya suapin, soalnya lahap banget dan keliatan sukaaaa gitu. Tapi saya tahu, saya ragu dan cemas setelahnya. Terbukti sudah, esoknya tidak pup dan baru pup di hari ke-2 itupun susahnya subhanalloh. Saya malah turun tangan dengan cara mengambil eek nya pakai jari telunjuk. Jadi tuh eek nya lengket seperti tanah liat, Maryam susah mengeluarkannya, dia ngeden sampai mukanya berubah kemerahan. Sedih melihatnya. Tapi saya tetap bungkam. Ya iyalah, kalau tiba-tiba saja saya cerita yang sebenarnya, bisa-bisa bukannya tenang menghadapi pup nya Maryam malah diceramahi nantinya, mending kalau dingin tapi saya yakin saya orangnya rada panasan sih. Jadi lebih baik saya bungkam seribu bahasa.

Tobat deh ngasih makanan es. Belum nemu sih referensi tentang makanan dingin mengakibatkan sembelit pada bayi. Ini hanya dugaan saya saja ya. Tapi, beneran deh saya tidak berani lagi ngasih yang begituan kecuali nanti sudah besaran.

2. Pertama kali divonis asma

Kalau gejala bronchitis si iya itupun karena alergi dingin. Tapi belum tuh divonis asma. Iya kalau batuk kadang saya ada bunyinya, tapi itu saya anggap biasa karena cuma sebentar dan lagi tidak mengganggu. Barulah hari itu saya tahu bahwa batuk yang bunyi itu sebagai tanda adanya asma. Kenapa sampai saya tahu? Eyalah karena dokter cencu, iye saya mengalami batuk disertai kesulitan nafas. Jadi nafasnya itu tersenggal-senggal, badan jadi lemes dan kepala pusing.

Ke dokterlah sore hari menjelang magrib. Ke dokter askes. Biasanya saya ke dokter swasta, bukan karena obat yang diberikan tapi pelayanan. Ini bukan Jakarta tapi alamak duit sudah jadi acuan ternyata. Kami kan dua-dua nya statsitik tidak ada basic kesehatan sama sekali. Jadi setiap menemukan gejala sakit biasanya pertolongan pertama kami adalah informasi dari google. Nah, karena info dari si om google ini belum tentu benar, jadi ketika ke dokter sebenarnya kami ingin sharing. Yah, gini-gini juga kan kita pernah belajar biologi jadi informasi dari si om ya tidak ditelan mentah-mentah lah minimal. Jadi, ketika ke dokter biasanya yang enak diajak sharing ini ya, dokter swasta. Dokternya sabar banget melayani setiap pertanyaan, bahkan ketika kami sebutkan sumber rujukan kami dari hasil browsing via google dia pun woles. Dan kalau di dokter askes, susah sekali mau sharing. Setiap periksa langsung dikasih obat tanpa menerangkan ini obat apa gunanya buat apa dan lainnya seputar penyakit yang diderita si pasien. Saya tidak bermaksud men-generalisir ya, banyak juga kok dokter askes yang sabar, baik hati, tidak sombong, dan…*errr*.

Dapat giliran kedua nih. Duduk deh saya dengan suami berhadapan dengan dokter.
Doter: “siapa yang sakit?”
Me: “Saya Dok”
D: “Sakit apa?”
Me: “Pilek dok, sama ada batuknya”
Diperiksa pakai stetoskop.
D: “Asma ini”
Saya dan suami sedikit berlirikan *gak enak kan, kalao kayak di film-film sambil berlirikan terus bilang gini: “a….sma???!!!”*. Kenapa mesti bingung? Karena satau saya, saya tidak punya riwayat asma pun di keturunan apa dan emih. Jadi, kecil kemungkinannya saya kena asma.
Me: “Asma ya dok?”
D: “Iya, jadi malam jangan mandi ya, terus ini obatnya tiga kali sehari setelah makan, oke…”
Me: “iya dok, makasih”

Saya asma saudara-saudara. Di rumah setelah magrib, terus makan sedikit langsung minum obat yang dikasih dokter. Dan malam itu saya tidak bisa tidur karena yang tadinya nafas saya biasa saja, malam itu jadi sesak dan tersengal-sengal, ada bunyinya lagi. Subhanalloh. Besoknya sesiangan saya pun tidak bisa istirahat, karena susah bernafas. Mana hari minggu lagi, dokter praktek buka jam 5 sore. Menunggu jam 5 sore itu dengan nafas tersenggal-senggal, subhanalloh …

Di dokter praktek ini pun saya divonis asma. Dan saya ceritakan tuh pengalam dikasih obat kemarin. Karena setelah suami cari-cari, kemarin itu ada obat yang efek sampingnya itu bisa kesulitan bernafas. Kami takutnya, kesulitan nafasnya saya dikarenakan obat tersebut. Tapi, ya emang dokternya baik, dia memberikan berbagai kemungkinan, yang initinya untuk menghidari dari kami berfikir bahwa obat yang diberikan dokter kemarin itulah pemicu sesaknya saya.

“bisa jadi bukan karena obatnya, tapi memang penyakitnya baru timbul tadi malam hanya saja kebetulan minum obat. Atau juga ibu ada alergi dengan obat tadi, tapi, sepertinya tidak karena saya pernah kasih obat seperti itu dengan merk yang berbeda”

Saya sih iyakan saja, toh penjelasannya positif dan saya memang setuju ya. Buat apa kita mencari kambing hitam, bagi saya mencari solusi untuk kesembuhan lebih baik daripada menyalahkan yang belum tentu salah. Alhamdulillah dipertemukan dengan dokter seperti beliau. Walaupun dari penampilannya tidak tampak raut seorang dokter tapi dialah dokter yang saya kira banyak dicari. Atas sarannya pula saya dinebu sore itu. Bagi yang belum tahu soal nebu, metode penguapan lendir, jadi sesaknya agak berkurang karena lendirnya dicairkan/ diencerka. Sebenarnya nebu itu merujuk ke alat yaitu nebulizer, suatu alat dimana obat cair untuk mengencerkan dahak melalui nebulizer diuabah menjadi uap dan dengan menggunakan masker si pasien tinggal menghirup uap tersebut. Dahak pun encer dan pernafasan bisa segera plong, tapi obat masih diperlukan ya untuk kasus asma seperti saya. Karena nebu ini hanya meredakan sementara.

Kurang lebih 30 menitan saya dinebu dan alhamdulillah setelahnya bisa kembali bernafas seperti sedia kala. Obatnya pun rajin saya minum dan alhamdulillah kesembuhan pun menghampiri. Itulah pertama kalinya saya tahu bahwa saya ini asma: hari minggu tanggal 30 Maret 2014. Keep positive thinking.

3. Pertama kali Maryam batpil

Iya tertular dari saya. Kasihan sekali, gak tega deh melihatnya. Malam nangis terus sebabnya hidungnya mampet jadi susah tidur, akhirnya saya gendong-gendong. Paginya dengan muka lemes duduk di stroller melihat ke arah halaman, nak, nak…Tapi, alhamdulillah tidak lama, saya susuin terus. Saya yakin insyaAlloh cukup dengan ASI dan istirahat kok. Cuman sudah tiga hari ini dari sakitnya Maryam belum pup eeee…apa karena sakitnya itu ya? Mudah-mudahan besok tanggal 6 April Maryam sudah kembali pup, aamiin.

4. Pertama kali turun berat badan sejak nikah, anjlok lagi

Iye ini karena sakitnya saya. Jadi setelah nikah saya dan suami berat badan naik dan susah turun. Dari 44 kilo sebelum nikah hmenjadi 47 kiloan. Dan 50 kilo awal-awal mau hamil. Dan kemarin itu pas saya sakit dan divonis asma jatuh dong itu timbangan kembali ke sebelum nikah: 44 kilo. Seneng dong saya? ternyata tidak saudara-saudara, Saya merasa kurang fit nih dengan BB segitu, pusing kleyengan dan lemessss. Jadi tanpa pengaruh siapapun saya memutuskan bahwa berat badan ideal saya di antara 46 47 lah. Ini lagi rajin naikin BB biar semangat lagi, hehe *seneng deh kalo kayak gini, jadi makan tanpa merasa berdosa, ngikik*

5. Pertama kali ditinggal lama suamih

Biasanya kan kalau suami tugas ke luar kota *errr, mungkin maksudnya ke luar kampung kali ya, soalnya biasanya dia tugas luar ke Kendari sih, yang mana jauh lebih kota dibandingkan Wakatobi* yah, paling lama empat hari. Kali ini senin ketemu senin, hiks. jadi males ngapa-ngapain ya kalo tidak ada pujaan hati *eyaa*. Jadi ingat ibu kosan dulu di Kolaka, kalau suaminya lagi tidak ada di rumah die males tuh ngapa-ngapain, males masak, males makan, males deh bawaannya. Eh, terbukti nih pada diriku…

Tapi, alhamdulillah pas nulis ini enam april hari minggu, besok insyaAlloh suamih pulang, aamiin…

Segitu saja sih serba pertamanya…

PS. Kasihan ya adik ipar saya dan si Maryam, saya nya kurang semangat terus *ngaruh gitu ya, anggap saja iya, ge er boleh kan*. Eh iya 9 April sebentar lagi, mau pemilu, belum nulis nih tentang pemilu. Katanya sih jangan golput, nanti begini dan begitu, arrrgghh, saya sih masih golput berhubung nanti saja deh saya pikirkan dulu alesan yang baiknya *gaya banget deh, habis itu diteriakin sama yang anti golput, maafkeun*

Tadi siang kami habis jalan-jalan di perkampungan bajo, nanti diulas tersendiri ceritanya, saya kasih dulu potonya…pict by rosdiana, my beloved SIL *maksut? sister in law gitu loh*.
20140406_102028

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s