-20- Cerita ASIP Maryam

Ini tentang ASIP(ASI Perahan)nya Maryam *berhubung saya kerja, jadinya selama saya di kantor Maryam minum ASIP*. Saya bertekad memberi Maryam ASIX (ASI eksklusif) minimal 6 bulan, dan saya belum atau malah tidak berencana beralih ke sufor. Untuk tekad sebesar ini saya benar-benar kurang persiapan. Seharusnya saya sudah nyetok ASIP sejak Maryam newborn. Hal ini tidak saya lakukan karena kurang perencanaan dan pengetahuan. Sebenarnya Saya sudah mulai pumping waktu Maryam usia satu bulan, tapi, selalu Saya buang, entahlah, rasanya tidak tega Maryam minum susu dari botol sementara Saya ada. Saya berpikir juga untuk simpan di freezer, tapi Saya kurang tertarik berhubung dalam waktu dekat akan terbang ke lain pulau. Dalam hati rempong amat harus bawa-bawa ASIP, terus tempatnya juga gimana, kan Saya lumayan lama di perjalanan kurang lebih satu harian *intinya Saya tidak pumping pada akhirnya*

Saya asal saja beli pompa waktu itu, karena Saya tidak berniat menomorsatukan pumping. Waktu itu, Saya berpikir pulang pergi, iya kalau Maryam pengen mimik ketika di kantor Saya pulang sajah. Dan hal tersebut ternyata perlu dipertimbangkan walaupun jarak rumah kantor hanya selangkah. Namanya kita bekerja dan digaji, apalagi Saya PNS, rasanya beban berat kalau harus mondar-mandir kantor-rumah *ingat itu gaji dari negara alias dari rakyat, jadi fokus dan maksimal selagi jam kerja menjadi tuntutan*. Eh eh malah curhat, lanjut ke cerita utama yuk…

Jadi Saya itu, pertama kali beli pompa merk Hu*I yang mana alat mompanya berbentuk bulat dari bahan karet warnanya pink *cocok deh buat baby girl*. Subhanalloh, tuh bola mecleng-mecleng *maksudnya lepas-lepas dari genggaman dan terpisah dari corongnya*. Lanjut saya ceka-ceki liat breastpump ponakan yang tidak terpakai, berhubung dia tidak ngeASI, merknya pig*on. Saya ambil tuh breastpump ponakan *maksudnya minta ya*. Yang ini pun tidak kalah repot dari sebelumnya. BP yang ini pompanya berbentuk lonjong dan sebenarnya lumayan lembut dan kencang ketika mompa. Tapi, sayang tidak ada tempat menampung ASI, jadinya tuh ASI masuk ke dalam pompa yang terbuat dari karet jadinya ASI terbuang sia-sia. Baiklah dari pengalaman panjang ini memasuki usia Maryam 3 bulan *terlalu panjang memang untuk sebuah kesadaran ber-ASIP*, akhirnya saya browsing dengan sungguh-sungguh BP yang bagus. Sambil browsing saya masih menggunakan si HU*I karena walaupun mecleng-mecleng ASInya bisa dipakai karena dicorongnya ada tempat penampungan.

Dan dari intip mengintip perbincangan ibuibu di group Fb jatuhnya kalo manual: med*la harmony. Saya cek harganya memang lumayan. Kalo BP pertama saya hanya 25.000, BP ponakan saya juga only 60.00 an nah, si harmony ini berada di range 400.000-600.000. Jauh memang, tapi saya lihat, memang jauuuuuh lebih bagus. Pompa yang mahal ini cara mompanya bukan dipencet-pencet tapi beneran dipompa seperti sumur pompa jaman dulu. Terus hasil perahannya pun langsung ditampung di botol, jadinya rapih *pokoknya tidak tumpah-tumpah dan tidak mecleng*

medela

Saya masih mikir untuk beli medela karena berat di ongkos, maklum saya tinggal di pulau yang jauh dari ekspedisi. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada little g*a*t Emily buatan ostrali. Waktu beli cukup terjangkau 145 ribu, Saya pilih ini semata-mata karena ada botol penampung ASI, waktu itu saya pikir yang penting tidak tumpah-tumpah merk apapun jadi.

little giant

Awal di tangan, saya sangat gembira melihat penampakannya, rasa-rasanya akan mantap nih pumping. Tapi entah kenapa, awalnya rada susah. Pelan-pelan dipompa ASInya tidak keluar, Saya tambah kecepatannya masih nihil, hopeless *ya udah simpen dulu, mungkin mood nya masih kurang bagus untuk pumping*.

Besoknya Saya bersungguh-sungguh pumping, tidak sekedar mencoba. Pelan-pelan, biarkan si pompa menemukan hisapannya sendiri dan Alhamdulillah ternyata pumping juga ada tehniknya. Setelah mantap hisapannya, mau cepat atau lambat sama saja: sama-sama keluar ASInya, Alhamdulillah. Hanya saja selama memakai little g*a*t yang saya rasakan hasil pumping kurang maksimal. PD saya jarang sampai habis/ kempes, masih rada kenceng. Dan paling banyak selama saya pakai little g*a*t hanya 100ml dan itu pun baru 2 kali.

Saya masih ngelirik pompa yang lain, kali ini saya lirik eletrik. Beberapa review untuk med*la free style bagus, tapi sayang, iya sayang karena Maryam sebentar lagi sudah MPASI. Saya pikir kalo sudah MPASI kebutuhan ASI pun akan berkurang, iya gak sih buibu? Jadi Saya putuskan akan bertahan menggunakan si “cilik” ini, lagian Saya masih mompa dengan nyaman walaupun hasilnya rada kurang memuaskan. Tapi, kalau Saya mau lebih bersabar dan berusaha Saya yakin hasil pompanya akan banyak, aamiin.

Jadi, saya simpen dulu keinginan browsing si med*la free style, buat pelajaran saja, nanti kalo ada adiknya Maryam kebutuhan ASI harus no 1. Berhubung saya kerja jadinya peralatan yang mendukung ASI kayak pompa, botol penyimpanan, strelizer, dan lainnya harus lebih diutamakan dan cari yang berkualitas karena ternyata lagi-lagi yang berkualitas itu lebih memuaskan. Oya sebenarnya p*geon juga yang model kayak m*dela bagus kok, asal jangan beli seperti Saya. Untuk H*ki Saya belum tahu apakah ada juga model mahalnya.

Sekian ya, semoga bermanfaat sharing kali ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s