-15- Beringin Kampungku, dulu…

Beringin itu sudah tidak ada. Seiring jatuhnya massa tiga puluh dua tahun, sang beringin pun bertumbangan dimana-mana, termasuk di kampungku.

Dulu sekali ia berdiri gagah di tengah alun-alun kampung, seakan merangkul tubuh kami semua. Sudah berlalu hampir enam belas tahun, tapi ingatan, kenangan akan dirinya tidak mudah dilupakan. Seakan suatu hari inginku mengembalikannya ke tempatnya semula yang kini telah ditanami tembok-tembok kaku yang bahkan air pun sulit untuk menembusnya.

Dulu, di senja hari…

Kami, anak-anak ingusan berlarian di bawahnya. Beberapa anak perempuan bermain di akar-akarnya yang besar lagi kokoh. Sementara para anak lelaki bermain kelereng. Beberapa juga bermain gelantungan di akar nafasnya yang berjuntai-juntai. Dan para ibu asik ngerumpi di pinggirannya alun-alun. Sementara itu para bapak tetap dengan kepulan asap dan kopi hitam di warung yang sengaja mentereng disana, sesekali memperhatikan kami yang sedang asik bermain. Kami tidak perduli dengan mereka. Tapi sekali-sekali kami sangat bersemangat ketika bermain boy-boyan*, para orang tua ini ikut-ikutan juga menonton dan menyoraki kami. Kami tidak ada bedanya dengan atlet yang sedang berlaga di olimpiade.

Pulang ke rumah bercucur keringat kebahagiaan. Betapa tidak, sore itu kami berlari kesana kemari, bermain ini itu dan kami sangat bahagia. Tidak ada hape, komputer, apalagi tab…tapi, kami amat sangat bahagia. Kalian tahu sapintrong? Itu lho permainan dengan alat bantu karet yang disambung, terus dengan dipegangi dua orang, tali karet itu diayun-ayun memutar. Salah satu anak loncat-loncat di dalamnya. Tadi itu kami bermain itu. Capek. Besok main apa lagi ya…?

Malam hari di Bulan Puasa…

“Awas kembang apiii…!!!”, teriakku. Aku takut akan menimpa temanku yang kebetulan sedang berjalan ke arahku. Sementara diantara kami ada seorang anak lain yang sedang melemparkan kembang api ke atas daun-daunnya. Beruntung sekali, kembang api itu tersangkut di dedaunannya. Coba kalau menimpa temanku? Malam itu langit bertabur bintang, bintang dari kembang api yang tersangkut di dedaunan menambah semarak suasana. Rasanya tidak ingin pulang. Kalau saja bisa, ingin tidur dan bermain selalu di bawahnya.

Di teriknya matahari…

Aku paling senang siang hari. Rasanya seperti novel yang dihembus angin semilir dan bunyi dedaunan yang bergesekan, sesekali disahuti nyanyian merdu burung gereja. Siang hari terik kadang ramai dengan kami anak-anak ingusan kadang juga amat sangat sunyi: lengang. Di balik jendela kaca rumahku, aku sering menatap jauh pemandangan itu. Daunnya yang bergoyang anggun bak penari jawa yang kemayu. Tubuhnya yang kokoh seakan menantang mentari untuk terus menyinari. Tapi, dari itu semua, aku paling suka dengan dedaunan jatuh yang tertiup angin, lalu bergesekan menimbulkan suara magis alam. Kemudian seseorang lewat sambil memegangi bajunya takut tersibak. Pemandangan itu seperti khayalan…

Semua itu dibawa zaman teman. Rasa teduh itu sudah hilang. Rasa novel itu tidak ada lagi …
Ingin sekali ia kembali. Menemani hari-hariku, hari-hari masyarakat kampungku. Walaupun masyarakat di kampungku tidak lagi kuning…

Tidak ada yang salah dengan dirinya, tetapi kenapa benda-benda tajam itu dengan pongah menumbangkannya. Hari itu di Tahun 1999, tidak terasa air mata ini menetes. Bukan karena Bapak Pembangunan yang tumbang didemo massa tapi karena dirinya roboh. Roboh sebagai ikon. Bukankah dirinya tidak pernah mengajukan diri untuk menjadi ikon? Dirinya sama saja seperti Pohon Jati, akasia, atau bahkan tomat di buruan halaman rumah…Andai saja ikonnya adalah pohon tomat?
Tapi kawan, waktu itu…

“Kok, ditebang Pa?”. Tanyaku khas anak-anak yang kehilangan mainan kesayangan.
“Heurin jeung hieum…”**, jawab Ayahku.
Heurin? Bagaimana bisa dia bikin sesak kampungku? Hieum, memangnya kampungku angker waktu ada dia? Bukankah selama ia tegak berdiri gelak tawa di seantero kampung? Tidak ingatkah waktu acara 17-an? Kita semua bermain di bawahnya yang teduh. Kita tertawa dan berbahagia. Malam hari malah para bapak ini ngobrol ngalor ngidul di salah satu pojokan pohon.

Ada dua beringin di kampungku dan keduanya hilang secara bersamaan.
Kini, aku tiba setelah bertahun merantau…Dan kenangan itu serasa menggerogoti jiwaku. Bau tanah, daun, dan suara gesekannya tinggal kenangan yang mengharu biru. Orang-orang sibuk mencari dunianya. Alun-alun dengan dia yang gagah sudah hilang. Berganti tembok bangunan yang kalau diamati ruangan-ruangannya jarang sekali ditempati.

Pagi, siang, sore, dan malam, disini tempat dulu ia berada kini sepi. Sesekali satu dua mobil nebeng parkir disana.
Aku pun sudah tidak sudi berlama-lama disana, hanya berdiri. Lebih dari itu aku menjadi pemandangan asing di kampungku sendiri. Hasrat ingin bertemu dengan teman kecil berkumpul lagi di bawahnya sambil minum secangkir kopi hitam sirna sudah.

note:
*boy-boyan = permainan anak-anak terdiri dari dua kelompok, yang kalah menjaga tumpukan pecahan genteng yang disusun vertikal. Kelompok satunya bermain menggelindingkan bola yang terbuat dari kertas yang diisi batu kerikil dan dilapisi plastik dan diikat dengan karet gelang, jika pecahan genteng itu jatuh maka kelompok yang bermain akan dikejar oleh kelompok yang jaga menggunakan bola tersebut. Kelompok yang menang jika bisa menyusun kembali pecahan genteng kembali vertikal. Dan jika semua kelompok yang bermain dikena bola maka kelompok pun bertukar.

** heurin jeung hieum = bahasa sunda artinya, penuh/sesak (karena jumlahnya banyak atau besar sehingga banyak mengambil tempat) dan rada angker (ehmmm, sebenarnya agak kurang tepat, hieum itu suasana dimana terlalu banyak pepohonan sehingga suasananya rada-rada gimana, tidak terang benderang…tapi saya bingung Bahasa Indonesia nya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s