-10- anakku, kunanti kau…

lama sekali tidak corat coret. Sejak cuti tidak ada gairah menulis. Sepertinya gairah membuncah di dapur, beberapa kue kering dan bolu cake pun berhasil mejeng di meja ruang tamu apa dan emih. Kalau sudah begitu insting dagang jadi membuncah-buncah: jualin aja gimana ni kuker? dipajang di internet, terus ada yang pesan, lumayan tuh buat industri kecil-kecilan rumahan…hahaha ya gitu deh. Bawaan bayi perempuan kali ya…

Sebenarnya masih punya janji cerita tentang manfaat periksa kandungan dengan USG tapi, sepertinya entah kapan terwujud. Masa-masa di USG untuk melihat debay sudah lama berlalu. Tapi, berharap sangat suatu hari mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa menuliskannya. aamiin…

Berhubung bayiku sudah lahir, mau cerita proses persalinannya saja…

Rasanya lama sekali…menunggu detik-detik anak pertama.

Minggu ke 39 sebentar lagi berlalu, namun belum ada tanda-tanda dedek bayi akan segera keluar. Resah gelisah menunggu tanda lahir yang katanya mules seperti kebelet buang air besar 😦

Di awal minggu ke 39 sempat diperiksa ke Dr. Zulfa yang praktek tiap sabtu dan minggu di Kecamatan Talaga. Dr. Zulfa sendiri kesehariannya bertugas di RS Hasan Sadikin Bandung. Pada pemeriksaan tersebut, sebenarnya ummi sudah divonis CPD sama Bu dokter, tapi ya, ummi positif thinking saja engkau akan lahir normal. Hanya saja sampai akhir minggu ke 39 engkau belum juga memberikan tanda-tanda. Akhirnya ummi periksa ke Dr Rika Kartika tempat biasa ummi periksa di RS Juanda, Kuningan. Dari hasil pemeriksaan Dr. Rika, ummi tidak CPD hanya saja menurut beliau mulut rahimnya tebal, sehingga proses alami memerlukan waktu yang cukup lama. Pada waktu itu ummi ditawarkan proses perangsangan melalui infus, tapi ummi tetap ingin proses alami selain juga ummi takut dengan rangsangan infus yang konon sangat menyakitkan (maafkan ummi ya Nak). Akhirnya Dr. Rika pun memberikan obat perangsang dan menyuruh ummi kembali periksa sebelum tanggal 4 Agustus.

Ummi penasaran juga dengan CPD, hasil googling CPD ini kependekan dari Cephalopelvic Disproportion atau kita lebih sering mengenalnya dengan istilah panggul sempit. Dari penjelasan bidan (ni bidan kebetulan ponakan ummi, colek May ah) si CPD ini biasanya terjadi pada ibu yang kekurangan tinggi badan alias pendek. Hiks,,,ummimu ini tergolong pendek Nak, hanya 148cm saja kadang juga 149cm: enaknya ambil yang 149, lumayan lebih tinggi 1cm 🙂 dari hasil googling juga, ternyata CPD ini kurang tepat jika disebut sempit panggul. Iya, karena panggul sempit hanya salah satu penyebab dari CPD. CPD ini bisa terjadi karena ketidaksesuaian antara kepala janin dengan panggul ibu sehingga menyulitkan persalinan melalui vagina. Bisa jadi karena memang panggul sempit, janin yang besar atau kombinasi keduanya. Nah pertanyaan lagi, janin besar itu memangnya seberat apa?

Menurut dokter Zulfa, pada persalinan pertama diusahakan berat bayi tidak lebih dari 3 kilo. Ini untuk memudahkan persalinan, jika lebih apalagi yang mendekati 4 kilo, resiko persalinan normal sangat tinggi. Namun pada panggul yang normal berat bayi lebih dari 3 kilo dan kurang dari 4 kilo masih bisa melahirkan normal tanpa komplikasi. Jadinya janin besar itu bisa jadi yang lebih dari 4 kilo. Dari hasil ngobrol, dikatakan panggul sempit karena pembukaan panggul tidak bisa sempurna sampai 10.

Hmm…menjalani minggu ke 39 dengan obat perangsang mules benar-benar menegangkan. Flek pun mulai keluar, tapi rasa mulas itu tidak ada, kalo kontraksi si sering tapi rasa mulas ingin buang air besar tidak ada sama sekali. Kontraksi seperti itu katanya palsu. Melihat flek rasanya senang sekali, rasanya besok engkau akan segera keluar. Berbagai cara dilakukan untuk memancing kontraksi. Flek semakin banyak, namun itu lagi tidak ada mulas: masih palsuuuu.

3 Agustus 2013 tepat 40 minggu flek rutin keluar tapi kontraksi melahirkan belum datang. Ummi sangat resah. Akhirnya, hari itu juga ummi dan abi pergi periksa ke Dr. Zulfa lagi, mengingat jarak yang lumayan jauh jika harus periksa ke Dr. Rika. Dan vonisnya tetap sama: CPD ditambah lagi usia kandungan yang semakin tua dan bayi dengan berat 3,5kg… Menurut beliau panggul ummi sebenarnya bagus hanya saja untuk persalinan pertama dengan berat engkau sebesar itu resiko persalinan normal sangat tinggi. Jadi panggul ummi sempit untuk ukuranmu yang 3,5 kilo, jadinya besar kecil janin itu sangat relatif. Dan Dr. Zulfa tidak mau ambil resiko berhubung di wilayah Talaga dan sekitarnya tidak ada Rumah Sakit yang menunjang operasi jika satu dan lain hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya hari itu juga Bu dokter menyarankan ummi dan abi untuk segera dilakukan tindakan ke Rumah Sakit di Kuningan. Banyak sekali pertimbangannya salah satunya mendekati masa cuti lebaran, dimana dokter pun terutama Dr. Rika yang notabene satu-satunya dokter perempuan di wilayah tiga Kuningan, Cirebon, dan Majalengka akan cuti tanggal 4 Agustus. Dr. Zulfa pun menyanggupi menghubungi Dr. Rika untuk melakukan tindakan kepada ummi hari itu juga.

Dari klinik Dr. Zulfa hari itu 3 Agustus siang ummi menghubungi Apa dan Emih untuk segera menyiapkan mobil ke Kuningan. Dengan susah payah karena mobil Apa lagi di bengkel akhirnya dapat sewaan dari tetangga. Berangkatlah sekitar jam 12.30 ke Kuningan: ummi, abi, apa, emih, uyut, om, dan wa irma. Semua yang mengantar merasa cemas, semua kebutuhan persalinan sudah dibawa sementara ummi sendiri tidak menunjukkan akan segera melahirkan. Ummi tahu semua yang mengantar mengharapkan semua baik-baik saja dan proses persalinan dapat dilakukan dengan normal.

Jam dua kurang ummi masuk UGD, dengan menunjukkan surat rujukan dari dr. Zulfa ummi langsung diperiksa kondisi jantungnya, dan tidak berapa lama ummi sudah masuk ruang persalinan. Disana ummi dipasangkan kateter untuk menampung air kemih. Beritanya, jam tiga positif Dr. Rika akan segera melakukan SC (sectio caesar) terhadap ummi. Sedih. Awalnya masih berharap ada proses alamiah atau paling enggak tidak apa-apa deh dirangsang pakai infus. Tapi, ya sudahlah kedua hal tersebut tidak bisa dilakukan selain memang CPD dokternya pun sudah mau cuti. Di samping kanan ada ibu hamil juga yang sedang menjalani proses persalinan normal. Rintihannya bukan membuat ummi takut tapi rindu, entahlah…rintihannya membuat ummi sedih, berharap suatu hari kelak dapat merasakan hal yang sama.

Ditemani abi, ummi tidak tahan untuk tidak menangis…

Jam tiga lewat ummi dibawa ke ruang tunggu operasi dengan terus didampingi abi. Di ruang tunggu ruang operasi abi membimbing ummi untuk terus berdoa, memberi semangat bahwanya ini adalah yang terbaik: segigih apapun keinginan kita untuk normal jika Alloh menghendaki lain maka terimalah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Abi sempat sholat ashar di ruangan itu. Tidak berapa lama Dr. Rika pun datang dengan semua tim operasi yang terdiri dari Dr. Anastesi beserta asisten. Ummi lupa detail orang yang membantu proses persalinan, hanya saja seingat ummi yang menahan punggung ummi dua orang, yang melakukan bius satu orang, satu orang yang menemani Dr Rika dan Dr Rika nya sendiri.

Dalam hal ini sebenarnya ummi bersyukur alhamdulillah. Iya, ummi bersikeras ingin dokter perempuan tentunya dengan pertimbangan aurat, tapi toh kenyataannya lain. Proses operasi sebesar itu tidak mungkin hanya ditangani dokter kandungan dia harus didampingi dengan dokter anastesi yang ternyata kebanyakan dan lagi-lagi di tempat ummi hanya laki-laki. Pihak rumah sakit sebenarnya sudah keberatan yang melakukan tindakan dokter Rika mengingat dokter Rika akan mudik malam harinya. Mereka takut dokter Rika nya setengah hati. Pasien sebelum ummi pun ternyata ada yang SC dengan rujukan dokter Rika tapi dialihkan ke dokter laki-laki. Beruntungnya ummi karena dokter Zulfa bersedia menghubungi dokter Rika. Ummi memang bersikeras ingin dokter kandungan perempuan. Setelah tahu proses operasi seperti apa, ummi sempat berfikir sama saja ditangani dokter perempuan ataupun dokter laki-laki. Tapi ternyata tidak, ummi memang harus banyak bersyukur. Karena pasca operasi kita masih dirawat oleh dokter yang menangani proses operasi dan dalam hal ini dokter Rika. Paling tidak ummi telah berusaha. Maukah engkau menjadi dokter yang dibutuhkan kaum perempuan, Nak?

Akhirnya penantian panjang itu berakhir…

Jam 15.59 WIB engkau lahir dengan selamat dan sehat, suaramu subhanalloh nyaring sekali.

“Uh,,,montok Bu bayina, ageung Bu istri…”, kata dokter Rika.
“Alhamdulillah…” sambil menahan rasa ingin muntah.

Perempuan 3700gram, 51cm, 36cm. Itu artinya beratmu 3,7kg panjangmu 51cm dan lingkar kepalamu 36cm.

Apa pun sibuk mengejar bidan yang membantu membersihkan engkau, apa ingin mengadzanimu. Iya, ummi dan abi memang tidak ada rencana mengadzanimu. Ummi sebenarnya ingin inisiasi menyusui dini, abi ingin sekali mentahnikmu, ditunda dulu ya Nak.

Tidak lama tubuh ummi pun sudah dibawa ke ruangan inap. Rasanya dingin sekali sampai menggigil tak karuan. Mata belum jelas melihat, kaki masih susah digerakkan yang pasti menggigil super hebat sampai akhirnya ummi terlelap dan sadar kembali malam ba’da magrib dan engkau belum menampakkan diri. Seperti apa wajahmu, ikut ummi atau abi, rasanya ingin sekali melihatmu…

Tidak lama, menjelang isya engkau datang juga. Wuih benar kata bu dokter: montok. Pipimu kayak kue bakpau, hehe…menggemaskan, ingin segera menggendong dan memberimu ASI. Paling mewek ketika malam-malam ummi tak berdaya engkau bangun dan ummi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya abi mentahnikmu dengan kurma terus memberimu sedikit ASI yang menetes melalui tangannya. Alhamdulillah tangismu reda. Tapi malam itu, engkau bangun berkali karena pipis dan pup dan nangis berkali. Emih dan apa pun mengendongmu bergantian sampai engkau kembali terlelap. Sementara abi masih takut untuk menggendongmu…

Oya cerita emih, kasihan sekali tangannya sampai berdarah karena terus mencuci, mencuci kain bekas pipis dan pup mu.

Alhamdulillah keesokan harinya ummi sudah bisa menyusuimu, walaupun susah karena selang infus itu.

Beribu ucapan syukur ummi panjatkan karena kelahiranmu apapun prosesnya, ummi yakin inilah yang terbaik. Ummi tidak bisa membandingkan proses persalinan mana yang menyakitkan tapi ummi yakin setiap ibu sudah diberikan jalannya masing-masing. Walaupun tidak sedikit cibiran dengan proses persalinan sc tapi ketahuilah Nak, sakitnya dan sembuhnya tidak secepat persalinannya normal. Jika yang normal sakit maka yang sc menyakitkan. Maksudnya menyakitkan hati karena melihatmu menangis semalaman sementara ummi tidak bisa memberimu ASI, bagaimana perasaan seorang ibu? Menyakitkan karena ternyata ketika proses operasi ummi benar-benar tidak berdaya atas tubuh ini, bagaimana perasaan seorang perempuan? Menyakitkan karena ternyata setelah pulang pun belum 100% bisa menjagamu, belum bisa menggendongmu kemana-mana…

Akhirnya ummi sangat berterimakasih kepada keluarga yang telah mendukung dan kedua dokter perempuan hebat: Dr Rika dan Dr Zulfa. Dua karakter yang berbeda tapi ummi bisa memahami keduanya. Yang satu sangat mengkhawatirkan kondisi dan waktu yang ummi hadapi dan satunya lagi masih terus memberi semangat sampai proses normal itu tiba…

Oya ummi dan abi belum menamaimu sampai nanti di hari aqiqahmu, soalnya kamu sangat spesial (;

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s