-8- Kartini yang Saya Fahami

Menulis tentang Kartini seakan tidak ada habis-habisnya. Mulai dari yang pro sampai kontra dengan ketokohan dan sumbangsihnya. Sebenarnya, saya tidak mau masuk di dalam kelompok manapun. Entahlah masuk kemanakah saya: pro atau kontra. Anggap saja ini adalah pendapat saya di luar keduanya.

Setiap tahun tanggal 21 April selalu diperingati sebagai hari kartini, lebih jauh dari itu dimaknai sebagai hari emansipasi wanita. Hmm…saya tidak anti dengan kata emansipasi. Tapi kawan, bergejolak dalam pikiran saya ini tentang hebohnya pemberitaan di media, entah itu berupa iklan televisi, acara-acara televisi yang mengangkat isu emansipasi wanita, sampai topik yang diangkat oleh media massa pun tentang emansipasinya kartini. Masalahnya yang membuat hati dan pikiran saya tergelitik, dalam acara-acara tersebut digambarkan sosok emansipasi itu wanita yang bekerja menjadi sopir, wanita yang menjadi stunt, wanita yang menjadi pembalap, dan intinya wanita yang bisa mengerjakan pekerjaan yang biasa atau identik dilakukan para pria. Seakan ingin menunjukkan bahwa kami pun bisa melakukan apa yang kalian laki-laki lakukan. Katanya sih itu emansipasi yang dibawa Ibu Kita Kartini melalui Habis Gelap Terbitlah Terang. Bagi yang kontra, emansipasi kartini malah lebih jauh digambarkan sebagai sosok pengusung ideologi barat yang meracuni pemikiran masyarakat Indonesia dengan segala bentuk kebebasan ala barat menyesatkan. Whatever lah, namanya juga di negeri demokrasi semua hal bisa mungkin, termasuk pemahaman saya. Jadi dinikmati saja ya…

Saya sebagai orang yang pernah membaca bukunya Kartini, saya putuskan tidak masuk ke dalam kedua kelompok tersebut. Di dalam Habis Gelap Terbitlah Terang pemahaman saya tidak menempatkan pada kelompok manapun. Tapi sebelum saya menuliskan pemahaman saya mengenai buku tersebut alangkah baiknya kita mengupas arti kata emansipasi itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emansipasi diartikan sebagai pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju. Kata persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, menurut saya kok jadinya multitafsir. Sehingga melalui kalimat tersebut emansipasi diartikan secara bebas sebagai persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Hak untuk bekerja, hak untuk bersuara, hak untuk bergaul, berorganisasi, dan lain-lain. Saya sendiri lebih senang menyandingkan kalimat tersebut dengan kewajiban. Iya, disamping hak antara laki dan perempuan yang sama, toh pada keduanya melekat kewajiban yang tidak boleh dinomorduakan bahkan dilupkan.

Ketika perempuan memiliki hak untuk bekerja di lapangan pekerjaan manapun, dia pun masih memiliki kewajiban sebagai seorang perempuan. Perempuan itu memiliki kewajiban sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu. Jika sudah menjadi seorang istri maka kewajibannya bertambah sebagai kepala rumah tangga, dialah sang pengantur rumah tangga. Begitu pun laki-laki disamping hak adapula kewajibannya; sebagai anak, suami, dan bapak (kepala keluarga atau pemimpin keluarga).

Saya tidak membahas hak dan kewajiban laki-laki disini. Sebagai perempuan menikah, saya tahu benar kewajiban perempuan tersebut sungguh tidak main-main. Misalnya saja kewajiban sebagai seorang istri, saya harus memastikan semua aktivitas di rumah berjalan lancar dan semua penghuni rumah terpenuhi kebutuhannya lahir maupun batin. Terus lagi, kalau sudah punya anak, saya pun berkewajiban menjaga, merawat dan mendidiknya. Jujur saja, aktivitas saya di kantor yang hampir seharian kadang keteteran dengan aktivitas wajib di rumah. Padahal kan, bekerja bagi saya sebagai perempuan dan seorang istri bukanlah kewajiban tapi hak. Iya hak, karena pada umumnya perempuan yang sudah mengenyam pendidikan mereka ingin aktualisasi diri mengenai ilmu yang dimilikinya. Walaupun ya itu juga, aktualisasi diri tidak musti kudu dilakukan di kantor. Aktualisasi diri itu bisa saja dilakukan di dalam rumah atau di tempat lain yang tidak menyita waktu untuk memenuhi kewajiban kita sebagai seorang perempuan dan seorang istri. Lebih-lebih kalau kita bicara agama, Islam sudah mengatur dengan jelas bahwa kewajiban seorang istri itu ada di rumah dan pada suaminya. Dari kewajiban itu ada nilai pahala yang melekat. Coba bayangkan, betapa ruginya kita, eh, jangan deh saya saja…betapa rugi karena amalan pahala saya itu malah tidak saya ambil atau bahkan diberikan kepada orang lain. Sementara kita asyik dengan aktualisasi diri yang belum tentu bernilai pahala di mata-Nya. Saya asyik dengan gelar karir dan pahlawan perempuan atau bahkan digelari wonder woman. Karena kewajibannya yang tidak main-main itu Islam telah lebih dahulu menjaminnya dengan pahala yang besar.

Saya tidak menafikan bahwa di ranah-ranah tertentu memang sangat dibutuhkan tenaga perempuan. Hanya saja kawan, pekerjaan itu selayaknya tidak menyita waktu atas kewajiban yang telah ditaruh di pundak kita. Dokter kandungan, guru, dan hal yang menyangkut perempuan memang dibutuhkan tenaga perempuan, namun, sekali lagi pekerjaan tersebut diharapkan tidak melalaikan kita dari kewajiban. Saya tidak mau menghakimi perempuan yang bekerja karena saya pun bekerja. Lalai atau tidak terhadap kewajiban yang seharusnya, saya yakin kita sendiri yang merasakannya. Yeah,,,istilahnya tinggal introspeksi diri…

Jadinya, emansipasi yang saya fahami bukan kebebasan persamaan hak antara laki dan perempuan. Misalkan laki-laki bekerja sebagai sopir angkot terus karena emansipasi perempuan pun berlomba menjadi sopir angkot, atau yang lebih kerennya lagi jabatan presiden, karena merasa mampu menjadi presiden berlomba juga dengan laki-laki untuk menjadi presiden…menurut saya emansipasi lebih difahami sebagai penuntutan hak perempuan yang memang menjadi haknya secara kodrati (tidak menyalahi kodrat). Misalkan pendidikan, karena menjadi pintar itu tidak hanya monopoli laki-laki, semua manusia berhak pintar bahkan kalau dalam Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu artinya kita diwajibkan menjadi pinter. Bukan berarti juga dengan kepintaran itu kita diharapkan bisa bersaing dengan kaum laki-laki. Tidak, seorang perempuan pintar dia akan melengkapi kehidupan dengan baik. Dia akan menjadi partner yang baik bagi suaminya. Dan menajadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anaknya.

Nah, mengenai bukunya Ibu Kartini ini…

Suatu hari ketika saya masih duduk di bangku kuliah, saya jalan-jalan ke Kwitang, itu lho tempat penjualan buku-buku murah disampingnya Toko Buku Gunung Agung. Lirik-lirik ada buku Habis Gelap Terbitlah Terang, saya ilik-ilik sebentar, buka-buka, terusan tanya harganya; Rp15.000,-. Wah murah, jadi deh beli…awalnya membosankan bacanya. Tapi saya bertahan untuk terus membaca. Mungkin dua mingguan lebih saya baca. Sampai lipatannya pun ada di tiap lembar, saking tidak kuatnya baca berlama-lama. Baru selembar dua lembar sudah ngantuk, akhirnya saya lipat terus beralih ke Conan. Tapi tidak tiap hari begitu karena ada beberapa kalimat yang menarik hati dan sesuai dengan keyakinan saya.

Kartini menulis bahwa dia ingin perempuan itu belajar atau mendapat pendidikan yang layak sebagaimana halnya anak laki-laki agar perempuan tidak bodoh. Bagaimana mereka akan melahirkan anak-anak yang pandai jika saja mereka sendiri bodoh. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika saja perempuannya sebagai pendidik yang pertama-tama bodoh tak berilmu? Begitu kiranya kalimat yang saya ingat selalu dari buku tersebut.

Melalui kalimat itu, menurut saya sudah mewakili semua cita-cita Kartini mengenai perempuan. Saya tidak pernah menangkap bau-bau keegoisan dari seorang Kartini dari buku tersebut. Dia hanya menginginkan sebagai perempuan haruslah pintar karena dialah tempat pertama pendidikan bagi anak-anaknya. Tidak saya temukan kata-katanya baik secara tersirat maupun tersurat yang menyatakan bahwa dia menginginkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam segala hal. Dia malah menuliskan bahwa kami (perempuan) tidak sekali-kali hendak menjadi pesaing bagi kaum laki-laki. Intinya Kartini hanya menginginkan perempuan berjalan pada kodratnya.

Jadi, lagi-lagi menurut saya, Kartini bukanlah pengusung ide emansipasi yang diartikan bebas. Saya malah tidak faham kenapa jadinya begini seperti hari ini, apalagi memperingati hari Kartini dengan memakai kebaya, bersanggul, dan bersamping ria…duh, saya kok gak nangkep ya maksudnya…apakah mereka yang berapi-api merayakan Hari Kartini atau yang menobatkan seseorang menjadi Kartini masa kini atau yang merasa menjadi Kartini masa kini, sudahkah membaca bukunya itu? Atau saya sendiri yang memahami lain?

Saya mengagumi Kartini karena pemahamannya. Di tengah himpitan kebodohan kepada kaum perempaun pada masa itu, dia malah perempuan yang keluar jalur dan mengutarakan idenya bahwa perempuan itu tidak boleh bodoh. Di tangan perempuan pintar maka bangsa pun akan maju…perempuan pintar yang ia fahami bukanlah perempuan yang dimaknai hari ini, sebagai perempuan yang setara dengan laki-laki dalam segala bidang. Karena dia memahami bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Perempuan harus memiliki kebanggaan dengan kewajiban yang telah dtaruh dipundaknya. Sebenarnya apa yang mau dicari berlomba dengan kaum pria di ranah mereka? Kenapa kita tidak kembangkan sendiri ranah kita yang akan menambah kemuliaan bagi kita? seakan – akan ranah pria lebih menarik dan ranah kita sendiri kita abaikan, terlantarkan, dan dipandang sebelah mata. Kalau bukan kita yang memuliakan kewajiban kita, siapa lagi???

Saya tetap mengapresiasi Ibu kartini dalam kacamata yang berbeda dari umumnya pemahaman yang berkembang apalagi dari pemahaman kaum feminis. Pun saya tidak mau masuk ke dalam kelompok yang kontra, karena sejauh pemahaman saya sampai saat ini, paling tidak dari bukunya yang saya baca, saya tidak (atau belum) menangkap hal-hal yang diutarakan kelompok kontra. Alangkah baiknya coba kita baca bukunya, mungkin akan terbentuk pemahaman-pemahaman lainnya(?) atau cukup kita memiliki tokoh keibuan seperti halnya Kartini(?) tapi yang pasti, menurut saya, kita sebagai Bangsa Indonesia berhak tahu kok tentang siapa pahlawan kita, kalo kata Pak Karno sih Jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan memahami sejarah sendiri diharapkan kita akan menjadi sebuah bangsa yang besar. Jadinya, ketika memperingati hari pahlawan kita pun tidak kebablasan tanpa tahu arti dibalik perjuangannya…

Advertisements

2 thoughts on “-8- Kartini yang Saya Fahami

  1. Saya ada dimana ya? Saya disini deh, ngurusin kerjaan saya, jadi anak, bongkar-bongkar peralatan listrik kalo dibutuhkan..hihi..

    Kartini hanyalah nama yang mewakili sosok-sosok wanita tangguh, yaitu ibu kita. Keyakinan saya masih sama^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s