#7 Hanya Sementara

Sudah lebih sebulan udara di Pulau Wangi-Wangi panas, paling tidak itu yang aku rasakan. Pulau dengan luas 241,98km2, dikelilingi lautan dari segala penjuru arah mata angin, tidak terlalu mengherankan dengan panasnya. Tapi, seharusnya bulan-bulan ini sudah masuk musim penghujan, tapi sang hujan hanya turun sebentar-sebentar. Dan, yang menyiksa sebelum dan setelahnya ia datang udara begitu panas.

Malam-malam yang biasanya dingin, sekarang tidak bisa lagi bobok nyenyak. Gerah luar biasa! Kipas angin yang berputar berbunyi gretek gretek gretek, sepertinya ia pun sudah lelah. Terbayang dinginnya kamar hotel yang ber-ac, rumah di kampung halaman yang di kaki gunung…kapan ya? Kapan lagi bias kesana? Apa beli ac saja? Tapi, kalau beli ac sayang, iya, sayang…aku kan tidak selamanya tinggal di sini, aku sudah berencana pindah, mudah-mudahan si tahun ini. Hmm…atau beli kulkas yang kecil?

Arghh…pikiran-pikiran itu terus berkelebat dalam kepalaku yang panas…

Dulu sebelum menikah, aku berada di kota pelabuhan juga, Kolaka. Di sana juga panas. Kipasku yang dulu lebih cantikan sedikit dibanding yang sekarang. Mereknya pun terkenal, tapi sayang dia tidak bisa berputar seperti kipas klasik pada umumnya. Dia hanya bisa tegak dan menunduk. Tapi, anginnya enak, ademnya lebih terasa menemani hari-hariku di Kolaka. Kamar kos ku berukuran 3x2m, cukuplah buat diriku sendiri. Tapi, terkadang kepikiran juga untuk sewa kamar yang lebih luas, mungkin ada dapur dan kamar mandi di dalam, tapi, ya, itu lagi, aku kan, hanya sementara disini.

Kamarku, maksudnya kamar kami, sekarang ukurannya lebih kecil lagi, mungkin 2x2m. Kami tidur, makan, bercanda, bersedih disana. Dapur dan kamar mandinya di luar. Yah, tidak apa, kan sebentar lagi aku cuti. Sebulan masih sabar dengan segala kepengapan dan kesumpekan, dua bulan aku nyerah minta dicarikan rumah petak saja. Tidak apalah keluar dua kali lipat rupiah, pikirku, yang penting bisa lebih lega.

Disinilah kami sekarang, satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Aku sangat bersyukur, namun, ternyata bukan ruangannya tapi cuaca yang kurang mendukung. Aku masih saja kegerahan di pagi, siang, dan malam.

Ac, kulkas kecil masih juga berkelebatan…

Tapi, aku hanya sementara saja. Bagaimana kalau besok aku pindah, mau dijual sama siapa barang-barang mahal itu? Dikasih? Sayang juga, kan, baru sekali dua kali pakai…tapi, alamat dikasih kalau kejadiannya pindahan.

Andai saja, iya, andai saja lima tahun yang lalu salah satu diantara kami berdua ada yang berani berpikir keluar kotak. Istilahnya membeli masa depan dengan harga sekarang, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Andai saja suamiku itu pertama kali menginjakkan kaki di Wangi-Wangi sudah berpikir tentang rumah. Dia beli tanah dan bangun rumah disini, mungkin kami tidak akan terlempar-lempar dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dulu itu tahun 2008, harga tanah masih sangat murah di pulau kecil ini. Maklum, kabupaten baru mekar. Masyarakatnya yang dulunya hanya berpikir perut setelah beberapa tahun menjadi kabupaten mereka tahu juga nilai rupiah. Alamak, harga tanah sekarang sudah melambung. Tak apalah toh, dalam beberapa bulan ini kami berencana mengajukan pindah. Tidak main-main, disetujui atau tidak kami akan pindah, banyak jalan menuju roma…

Sabar, sabar saja, disini hanya sementara tunggu sampai waktunya pindah…gerah, sumpek, semua ketidaknyamanan itu lupakan saja…toh, hanya sementara…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s