#1 KPK dan Dan Detective School

Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK. Dari namanya saja kita sudah faham bahwa lembaga ini bekerja untuk memberantas korupsi. Pada awalnya, saya sempat tidak senang dengan KPK. Saya pikir, kenapa harus ada KPK toh sudah ada kepolisian? Selain itu sebagai negara hukum Indonesia memiliki yang namanya criminal justice system atau Sistem Peradilan Pidana(SPP). Menurut Mardjono Reksodipoetro, Sistem Peradilan Pidana merupakan sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi kejahatan. Sistem ini bersinergis sehingga menghasilkan keputusan yang tepat bagi suatu kasus kriminal. Di Indonesia berdasar KUHAP  SPP terdiri dari Kepolisian, Advokat, Kejaksaan dan Pengadilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung serta berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan.

KPK sebagai lembaga ad hoc extra legal tidak termasuk ke dalam Sistem Peradilan Pidana. Sehingga menurut saya kepolisian seharusnya bisa menangani kasus korupsi. Korupsi kan kasus kriminal juga. Dengan begitu negara tidak perlu repot mengeluarakan dana untuk pembentukan lembaga baru dalam menangani kasus korupsi. Dan makna criminal justice system di Indonesia pun tidak kacau.

Namun ternyata kenyataannya tidak sesederhana pikiran saya itu. Kepolisian seperti halnya instansi penyelenggara negara lainnya yang menggunakan anggaran negara memiliki peluang untuk korupsi. Jika kepolisian yang menangani korupsi otomatis akan sangat susah ketika terjadi kasus korupsi di tubuh polisi itu sendiri. Sama halnya ketika dokter sakit dia tidak mengobati dirinya sendiri kan? Selain itu kepolisian juga merupakan pembantunya presiden dalam hal ini eksekutif. Ketika ada kasus peluang bermainnya kepentingan sangat besar dibandingkan jika yang menangani kasus itu lembaga lain yang independen.

Saya akui memang dibutuhkan satu lembaga khusus dalam penanganan kasus korupsi. Walaupun pendanaan KPK bersumber dari negara juga tapi paling tidak KPK adalah lembaga independen tidak terkait apalagi terikat dengan lembaga lainnya. Kasus korupsi memang butuh penanganan khusus karena sifat kasusnya yang sangat halus. Seseorang itu bisa menganggap dirinya tidak korupsi padahal baru saja bagi-bagi uang sisa anggaran yang tidak terpakai di akhir tahun. Saking halus dan berjamaah. Dosa yang dianggap biasa.

Menjadi ketua KPK bukanlah hal yang mudah. Kita harus siap dengan berbagai konsekuensi, tentunya kita ingat yang menimpa para ketua KPK sebelumnya. Dibutuhkan seseorang yang mendelegasikan dirinya hanya untuk pengabdian terhadap tugas yang diembannya. Meniatkan diri untuk menuntaskan kasus-kasus yang kebanyakan dijegal di tengah jalan. Dan berani bergesekkan dengan siapapun dan golongan manapun.

Saya yakin KPK terus berupaya menuntaskan setiap kasus, namun sekuat apapun KPK berusaha jika tidak didukung oleh semua elemen eksekutif, legislatif, dan yudikatif KPK hanyalah anjing yang menggonggong dan kafilah pun tetap berlalu.

Seandainya saya adalah ketua KPK maka saya pun tidak akan luput dari berbagai rintangan tersebut. Paling tidak ucapan ketua KPK sekarang Abraham Samad yang bagaikan oase di padang pasir membuat saya yakin dan bersemangat, “Saya sudah mewakafkan diri saya untuk berjuang di jalan ini (pemberantasan korupsi). Jadi saya tidak takut apapun risikonya. Ancaman itu datang setiap saat, tapi bagi kami jihad melawan korupsi dan itu harus tetap dilakukan.” Saya yakin memang harus seperti itulah untuk menjadi ketua KPK, memiliki niat pengabdian untuk menuntaskan kasus korupsi.

Hanya saja yang saya hadapi sebagai ketua KPK tidak cukup dengan memiliki niat pengabdian dan penuntasan tapi saya juga harus mendapatkan dukungan dari semua pihak yang terkait: pemerintah, dewan, dan peradilan. Jika mereka seperti yang kita lihat hari ini, ingat kasus Century yang dijegal dari semua sudut atau kasus Cicak VS Buaya? sepertinya masih sulit bagi saya untuk berharap banyak dari lembaga lainnya. Maka saya butuh dukungan internal yang solid.

Selain terus mengupayakan komunikasi dengan tiga elemen penting negara: eksekutif, legislatif, dan yudikatif saya pun akan memaksimalkan kinerja di internal KPK sebagai langkah membentuk dukungan internal yang solid. Para penyidik yang sudah ada akan bekerja dalam tim-tim. Mereka akan dibentuk ke dalam beberapa tim. Satu tim hanya akan menangani satu kasus korupsi. Maksimal satu tim adalah lima orang penyidik terpilih yang kompeten dan memiliki integritas tinggi dalam menuntaskasn kasus. Karena mereka akan dituntut untuk menyelesaikan sebuah kasus korupsi segamblang-gamblangnya sampai fakta yang tidak terbantahkan. Mampukah? jawabannya hanya satu: harus mampu.

Seiring banyaknya kasus yang ditangani KPK saya pun harus menambah jumlah penyidik KPK yang independen dan profesional. Sehingga orang-orang pilihan tersebut akan menjadikan KPK benar-benar menjadi Tim yang solid. Ini akan terwujud jika saya menemukan orang-orang yang tepat. Orang-orang ini haruslah independen dan memiliki niatan yang paling tidak sama seperti halnya ucapan Abraham Samad di atas. Kecuali orang-orang ini bukanlah dari instansi pemerintah yang disinyalir masih memiliki kepentingan. Dan lagi saya tidak mau repot jika para penyidik ini sudah menjalani masa tugas 4 tahun harus memperpanjang, diganti, atau menjadi pegawai tetap. Saya katakana tidak, karena KPK banyak kerjaan yang harus diselesaikan ditambah dengan harus mengurusi para penyidik yang habis masa tugasnya : NO!

Saya ingin KPK di bawah kepemimpinan saya, benar-benar independen sehingga kerjanya pun akan profesional. Saya akan mulai dengan para penyidik, menurut substansi UU no 30 tahun 2002 tentang KPK, diamanatkan yang dimaksud dengan penyidik KPK adalah penyidik yang diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan KPK. Para penyidik baru adalah mereka para mahasiswa fakultas hukum atau dari internal KPK sendiri bukan dari instansi eksekutif atau yudikatif lainnya.

Selain mereka yang baru lulus kuliah hukum saya pun akan merekrut tenaga muda berbakat lulusan Sekolah Menengah. Mungkin saja saya terinspirasi oleh apa yang dilakukan Dan Morihiko dalam Dan Detective School tapi jika itu memang bisa kita lakukan dan hasilnya akan bagus kenapa tidak?

Seperti halnya Morihiko saya pun akan melakukan seleksi yang ketat bagi para penyidik muda ini. Menurut PP RI No. 14 Tahun 2010 tentang  pendidikan Kedinasan bahwa kementrian, kementrian lain, atau lembaga pemerintah nonkementrian boleh mengadakan pendidkan kedinasan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan. Sekolah kedinasan yang akan dipekerjakan di KPK ini tidak terbatas bagi mereka para lulusan Sekolah Menengah tapi mahasiswa non-Fakultas Hukum dan masyarakat umum boleh mengikuti saringan masuk.

Saringan masuk akan dilakukan oleh saya sendiri dibantu oleh para penyidik KPK lainnya, dan kalau diperlukan mendatangkan penyidik kompeten dari luar. Mereka ini akan disaring melalui soal-soal kasus yang harus dipecahkan, kasusnya bisa nyata atau fiktif. Mereka yang benar-benar memiliki bakat penyidikan dan niatan yang kuat untuk menjadi penyidik lah yang akan lulus ujian saringan masuk. Perekrutan lebih mengutamakan kualitas sehingga jumlah pelajar penyidik nantinya tidak harus banyak untuk tiap tahunnya. Lima puluh orang yang dibagi menjadi 10 tim, saya kira cukup. Mereka akan dididik bukan hanya teori tapi praktek nyatanya. Seperti sekolah kedinasan yang ada sekarang ini.

Pembelajaran penyidikan dari muda diharapkan akan melahirkan tenaga penyidik handal, independen dan profesional. Tidak kalah penting melalui pendidikan kedinasan khusus penyidik ini diharapkan bisa mencetak tenaga penyidik muda yang berani menyatakan kebenaran walau apapun hambatan dan risikonya. Dan sekolah ini saya beri nama Sekolah Penyidik KPK.

Sumber:

http://www.kejaksaan.go.id

http://id.shvoong.com/law-and-politics/criminal-law/2027069-pengertian-sistem-peradilan-pidana/

http://www.kompas.com

yang suka dengan tulisan inin bisa memberi medali ke:

http://lombablogkpk.tempo.co/index/tanggal/252/MILA%20SULASMAYA.html

Advertisements

One thought on “#1 KPK dan Dan Detective School

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s