-153- Catatan Akhir Ramadhan 1439H

Bismillah…

Lebaran di depan mata. 1439 H. Dua puluh sembilan hari tepat hari jumat 15 Juni atau genap tiga puluh hari di 16 Juni, kita tunggu saja keputusannya, mungkin besok.

Setiap ramadhan memiliki ceritanya sendiri bagi saya. Tahun ini saya belajar banyak tentang kemandirian dan kedewasan di tengah keluarga besar. Akan jauh lebih mudah bagi saya jika tinggal hanya bersama suami dan anak, seperti tahun-tahun yang lalu. Tapi, mungkin saya tidak akan pernah belajar. Saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi di depan dengan semua bentuk pembelajaran ini. Semoga apapun itu saya dapat melewati dan menghadapinya dengan tegar, ikhlas, sabar, dan penuh ketaatan.

Maryam tahun ini belum ikut puasa. Satu kali ia ikut sahur. Tapi ia sudah mulai mengenal shalat lima waktu dan melihat orang-orang di sekitarnya berpuasa, dia sudah mulai menyadari apa itu puasa dalam artian harfiah, alhamdulillah. Tahun depan semoga sudah bisa ikut berpuasa ya Non.

Satu hal yang saya syukuri adalah menyelesaikan novel di awal Ramadhan. Karena itu terbukti membuat saya bisa lebih merabai dan merasai Ramadhan. Walaupun tidak seintens dulu dulu ketika masih kecil. Di suatu hari saya pernah merasa begitu bersahabat dengannya. Tapi di kebanyakan kesempatan kita seperti hanya teman yang sebatas mengenal 😢 Semoga masih ada kesempatan yang lain untuk kita berjabat tangan dan berpeluk mesra bagai dua sahabat yang lama tak jumpa, aamiin.

Kesabaran dalam menahan emosi adalah hal yang paling sulit. Sudah lama seperti ini. Karena godaan makanan dan minuman rasanya sudah bukan massanya. Dulu sih waktu kecil iya. Lihat iklan makanan atau minuman di tv langsung ileran. Ah sekarang mah nyuapin anak yang notabene di depan mata tidak masalah, alhamdulillah. Ya setiap kedewasaan memiliki massanya. Saya senang telah melewati tahap itu.

Ramadhan, semoga kami dapat menyapamu kembali. Ramadhan, semoga bulan gemblengan ini membuat kami jauh lebih baik ke depannya, di bulan-bulan mendatang. Aamiin.

Kamis hari ke-29 Ramadhan.

Advertisements

-151- Ramadhan 1439H

Bismillah.

Selamat menjalankan ibadah puasa 1439H. Sudah pada batal? Wajar dong ya kalau perempuan. Saya malah baru ikut puasa di hari ke delapan.

Apa yang beda dengan puasa tahun ini?

Tahun lalu saya masih ngekor ibu (mertua). Apapun yang dimasak beliau saya ikut. Saya hanya bantu-bantu memasak, menyiapkannya, dan menyantapnya. Keribetan kami berdua dalam mengolah komunikasi malah salah satu yang membuat kami menjadi sangat dekat. Bahasa ibu saya sunda dan saya tahu sedikit-sedikit bahasa jawa. Sedikit-sedikitnya itu lebih kepada pasif. Sementara ibu hanya fasih dalam bahasa jawa. Alhasil bisa ketebak kan, kita saling menebak-nebak maksud. Tapi, saya kira maksudnya hampir selalu tersampaikan dengan baik. Terima kasih kepada bahasa indonesia, sedikit-sedikit ibu mengerti juga karena pengaruh TV, sinetron-sinteron yang ia tonton. Aha! mungkin ini salah satu cara bagi kita untuk belajar bahasa asing: tonton dan simak mereka berkomunikasi. Selain bener, pengucapannyapun akan mantap.

Rindu…Kenangan indah yang akan selalu saya bawa sampai kapanpun.

Tahun ini. Saya harus melakukan itu semua. Ada adek ipar sih, tapi tentu akan sangat jauh berbeda karena kepentingan dan tanggung jawab yang berbeda. Dia ada suaminya, jadi, tetap saja hal-hal tertentu akan membuat kami sangat bertolak belakang. Tapi, ini juga salah satu pembelajaran.

Selain itu, tahun ini saya ada menggarap satu novel. Teman-teman bisa check di sini . Kemarin saya putuskan untuk menamatkannya. Saya harus berhenti demi ramadhan. InsyaAlloh lain kali saya lanjutkan dengan sudut pandang berbeda. Ada 25 parts, jika teman-teman berkenan bisa coba berkunjung untuk membacanya. Saran saya pelan-pelan saja ketika membacanya. Karena saya berharap ada saran kritik yang membangun, syukur-syukur bisa sekalian ikut memperbaiki ejaan karena kemarin barus sebatas nulis.

Banyak hal yang belum terceritakan, saya menyadarinya. Tapi demi ketenangan hati, biarlah ia berbahagia dengan semua tanya di hati dan di kepala. Besok jika ada waktu dan kesempatan saya akan melanjutkannya. Karena sesungguhnya sebuah cerita sampai ajal menjemput akan terus ada. Bahkan ketika sebuah novel mengatakan berakhir dengan bahagia atau sedih sesungguhnya cerita itu masih bisa berlanjut dengan cerita yang setiap harinya selalu ada yang baru. Saya senang dengan novel karena ia bukan sembarang fiksi. Di sana kita bisa menyisipkan pikiran kita, dan semua hal yang terjadi dengan lingkungan kita di waktu ini. Suatu hari nanti sebuah novel bisa menjadi cerita sejarah. Entah itu dari penggambaran suasana, lingkungan, atau ide yang sedang berkembang di saat itu. Saya membaca tetralogi buru dan ya, saya tahu waktu itu begitulah zaman berjalan. Saya bagai merasakan kehidupan Tahun 1800-an. Kalau disandingkan dengan salah satu novel tetralogi buru, jauh ke mana-mana. Tapi, saya belajar banyak dari tetralogi buru untuk novel saya.

Semoga saya bisa segera melanjutkan novel ini atau proyek novel yang lainnya dengan judul dan karakter yang berbeda biar lebih saya. Aamiin.

Novel ini saya tulis dari Bulan Maret. Beberapa hari setelah sinetronnya kelar. So far dua bulanan ini hidup saya diwarnai dengan cerita Rafa Aisha. saya senang tapi saya tahu semua fokus kadang tercurah kepadanya. Mari kita lanjutkan lain kali insyaAlloh. Semoga ada jalan dan kesempatan, aamiin.

Pekerjaan di kantor sebenarnya sama saja. Sama sibuknya. Secara kuantitas lebih banyak tapi karena beberapa pekerjaan sudah terbiasa sehingga pekerjaan baru membuatnya sama dengan tahun lalu dari sisi kesibukan. Masih ada kegiatan lapangan yang tahun lalu membuat fisik hampir ambruk. Tahun ini alhamdulillah sudah terkondisikan. Kuncinya adalah sabar, tenang, pikir. Sabar dalam berjalan, tenang ketika mendapati hal yang tidak diinginkan, dan pikir dulu sebelum melangkah ke tempat selanjutnya. Alhasil, alhamdulillah tidak terlalu capek. Perbandingannya, dulu satu hari hanya bisa dua tempat, nah, kemarin ini bisa tiga tempat, alhamdulillah.

Maryam tahun ini sudah mau lima tahun. Secara penanggalan hijriah dia lima tahun Bulan Ramadhan ini tepat tanggal 25. Dia sudah bisa diajak kerja sama. Diajak shalat bareng walaupun yah, namanya juga anak-anak, masih sering mengganggu. Dia lari-lari di dalam mesjid, atau sekedar bercanda dan mencari teman. PR banget buat saya dan suami agar Maryam mau dengan sukarela belajar mengaji, shalat, dan belajar ilmu-ilmu lainnya. Semoga ya Nak. Semoga tepat lima tahun nanti Kamu jauh lebih baik lagi, aamiin.

Saya juga masih ada satu dua proyek yang ingin diselesaikan lebih kepada mengisi agar lebih bermanfaat karena pencapaian bagi saya adalah bukan dikenali orang lain tapi diri sendiri. Menikmati semua proses tanpa dibebani dengan hasil yang harus sempurna. Karena saya ingin aktivitas ini membuat saya sibuk tapi tidak meninggalkan kewajiban utama saya sebagai istri dan ibu. Hal paling sulit adalah ketika kita harus benar-benar mengenal diri sendiri dan semua yang kita lakukan hanya karenaNYA. Mengahrap suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu dengan amalan-amalan kebaikan. Tentu harus lillahita’ala kan, dan itu sulit tapi harus selalu berusaha.

Marhaban ya Ramadhan di pertengahan ramadhan, semoga kita semakin baik dan baik…aamiin.

-150- Nostalgia acara fav

Bismillah.

Tiba-tiba saja saya kangen dengan acara backpacker nya TvOne. Acara backpacker terkeren menurut saya. Satu, pembawa acaranya terlihat suka jalan, pembawaannya tenang dan satu gak lebay *penting banget walau definis lebay beda-beda*, bukan yang teriak sana teriak sini, kalem aja dia. Gak yang ngomong terus atau nongol terus di layar, jadi apa yang dia lalui dan rasakan jelas terekam dan kita pun jadi ikut terlarut. Ngomongnya itu sesekali saja dan yang penting-penting saja. Yang ditonjolkan bener-bener cerita backpackernya itu sendiri bukan tentang si presenter, mana kita tahu siapa dia kan. Dan bener-bener saya tidak pernah ngeh nama si presenter kece itu kalau tidak googling, dia! iya Yulika Satria Daya yang terkenal banget dengan jargon asikin aja! Asikin Aja…

Kedua, detail banget. Bisa buat kita ancer-ancer budget kalo mau backpacker-an ke suatu daerah. Hampir semua hal yang dia gunakan selama perjalanan dipampang harganya. Dan namanya backpacker dia bener-bener nyari yang lowbudget tapi masih nyaman.

Ketiga adalah kontennya sendiri. Boleh dibilang ini adalah acara backpacker yang bener-bener backpacker. Buktinya saya hampir selalu lupa untuk melihat siapa nama pembawa acaranya, ya, karena saya memang fokus ke konten yang hendak disampaikan, gak salah fokus lah ya. Acara sekarang kan, malah lebih ke si pembawa acaranya kan? biasalah tidak jauh-jauh dari rating dan share.

Terimakasih lho TvOne dengan acara super kerennya ini, semoga ada lagi ya yang kayak gini. Masa muda saya lumayan terselamatkan dengan acara ini 😆

Nonton acara ini tuh jadi pengen backpacker-an juga tapi sayang gak ada temennya nih. Pernah dengar salah satu bait syair Imam Syafi’i dong tentang merantau :

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang

Tuh, yuk ah menjelajah, maka akan kau dapati nikmat Tuhanmu yang tidak bisa kita dustakan, masyaAlloh. Saya mah apa atuh, jalan-jalan lihat sawah yang menghampar saja sudah begitu terpesona, apalagi kalau suatu hari nanti bisa melihat tanah yang warnanya putih dan bebungaan yang berwarna shabby, aamiin semoga suatu hari nanti.

masyaAlloh…

Atau gedung-gedung yang nampak mempesona dari ketinggian itu sudah membuat saya terpana, alhamdulillah…

semarang…

Semoga Alloh menyampaikan ke tempat-tempat lainnya, aamiin…

-149- Murder in Mesopotamia: Cerita Saja

Bismillah…

Saya penggemar Agatha Christie sejak dari SMA. Perpustakaan SMA lah yang memperkenalkan saya pada karya-karyanya. Saya biasa menghabiskan jam istirahat di sana juga jam-jam malam saya yang seharusnya saya gunakan untuk belajar malah meringkuk di bawah selimut membacanya penuh penghayatan wkwkwk. Maka, tak heran nilai saya di SMA tidak semoncer SMP tapi walau begitu saya masih bisa masuk tiga besar bahkan umum, tapi tidak cemerlang, menyedihkanlah menurut saya mah!

Capek bukan main waktu sekolah karena saya dituntut untuk bisa mempertahankan ranking tanpa tahu esensinya karena memang ingin saya tidak di sana. Padahal mah tidak ada juga yang nuntut saya terang-terangan, hanya perasaan saya kalau mau membahagiakan orang tua ya salah satunya melalui nilai raport yang bagus. Kemudian pas kuliah karena tidak ada raport, saya benar-benar memuaskan keinginan untuk membaca. Hampir tiap minggu tidak absen nangkring di GM huahua…Ah, kemudian di usia yang tak lagi muda saya baru menyadarinya, makanya saya tidak mengharapkan anak-anak saya kelak bagus di buku raport. Saya ingin mereka tahu kelebihan dan apa maunya sedari dini…

Panjang ya preambule…

Novel Pembunuhan di Mesopotamia ini baru saja saya selesaikan beberapa jam yang lalu. Entah, karena sudah terbiasa membaca karangannya, saya sudah pinter menebak siapa tersangkanya bahkan di awal kasus terjadi. Jadi, alurnya mungkin tidak lagi se greget dahulu yang tak tertebak.

Satu hal yang tak pernah membuat saya kecewa dengan semua novel-novelnya adalah bagaimana penyelesaian kasusnya yang sangat elegan menurut saya. Karena tidak menggunakan cara-cara fisik, misal pake kaca pembesar atau mengikuti jejak bak anjing pemburu. Dia tuh iya saya lagi ngomongin toko utama yang paling sering muncul dalam setiap novelnya, siapa lagi kalau bukan Hercule Poirot!. Pria yang digambarkan memiliki perawakan kecil, dengan kepala bundar, kumis melengkung, dan terkesan lucu, ialah sang detektif yang memecahkan masalah dengan sel-sel kelabunya. Ia mengamati semua hal dan yang paling selalu membuat saya tertarik adalah penelitiannya tentang sifat, karakter manusia, itu keren sih menurut saya. Saya jadi belajar banyak tentang psikologis orang di sini.

Dan, novel kali ini pun sukses memukau saya dengan semua karakter yang ditampilkan. Mrs. Leidner! iya dia yang paling membuat saya tertarik. Wanita menarik, cantik, tapi bukan cantik fisik lahiriah. Dia tuh lebih ke wanita menarik karena seperti memiliki darah biru, darah bangsawan, ditambah lagi ia pingter lengkap sudah membuat orang-orang di sekitarnya kagum. Dan ia wanita yang dapat dengan mudah menundukkanmu pada kesempatan pertama. Seperti halnya Suster Leatheran pertama kali bertemu langsung bersimpati kepadanya. Dan saya percaya ada perempuan seperti ini. Saya mungkin pernah bertemu dengannya.

Perempuan seperti ini kadang membuat saya bingung. Karena menurut saya dia tidak melakukan apa-apa, tapi orang-orang sepertinya segan, tunduk, sama dia. Saya memang bukan salah satu diantaranya, diantara yang takluk dengan perempuan seperti ini tapi saya heran saja. Kok bisa? tapi emang itu nyata.

Saya sendiri tidak bisa menjangkau perempuan seperti ini. Entah karena mereka baperan atau saya nya yang kurang bisa memahami. Maklum saya kadang lepas kendali kalau sudah bercanda, kadang mukul gak sengaja! pelan saja kok jangan khawatir, pukulan sayang…Tapi dia tuh seperti tanpa ekspresi, itu pukulan saya seperti: kok kamu mukul-mukul sih? tapi dia tidak juga bicara seperti itu, tidak juga sikapnya berubah drastis, tapi saya merasa dia melakukannya sangat halus karena saya merasakannya!

Tapi saya sedih mendapati tokoh yang menarik hati saya ini harus menjadi korban. Ia meninggal jauh dari tanah kelahirannya, ia meninggal di tempat kerja suaminya seorang arkeolog. Jauh dari sanak keluarga hanya suami yang ternyata dialah otak di balik semuanya. Itu sangat menyedihkan! Rasanya menjadi Mrs. Leidner na’udzubillah amat sangat sunyi. Ya Alloh lindungilah kami dari hal-hal buruk akibat ulah manusia, aamiin.

-147- Maryam

Bismillah…

Usianya empat tahun. Alhamdulillah komunikasinya semakin pesat. Sekarang ia sudah bisa bercerita kegiatan sehari-harinya. Kalo saya pulang…

“Ummi, ummi…enyon tadi doyan, sama mb bia, mb awa, mb titis, nada…nada jatuh ummi, nangis.” dan terus nyerocos apapun yang diingatnya. Saya menimpali, iya sayang, terus gimana…

Kira-kira artinya: ummi, ummi…saya tadi main, sama…

Waktu berlalu alhamdulillah kekhawatiran itu perlahan menyurut. Selidik punya selidik Maryam ini dulunya kurang sarana untuk berkomunikasi. Sementara di sini dia bisa bermain dengan siapa saja karena saudaranya banyak.

Bermain. Iya anak seusia dia memang harus main. Dari main inilah mereka belajar. Permainan pertama yang membuat saya sadar adalah bermain masak-masakan. Saya lihat Maryam sedang main dengan sepupunya dengan peralatan masak yang saya beli seharga tiga puluh ribuan. Mereka bermain jual beli. Maryam sebagai pedagang dan sepupunya sebagai pembeli. Saya perhatikan disanalah Maryam belajar komunikasi. Sepupunya yang terpaut dua tahun dengan Maryam terus bicara mengajak Maryam bicara, bukan ngajari tapi memang dia butuh jawaban Maryam.

“Maryam beli…”

“Beli…?” ini Maryam belum begitu faham dengan beli. Tapi sepupunya terus nunjuk-nunjuk, beli itu nih uangnya. Akhirnya Maryam ngerti dan mulai masak sate-satean.

Dia butuh main dengan sebayanya dengan teman-temannya.

Makanya sekarang dia TK saya tidak memaksa dia harus pintar menulis dan membaca saya biarkan saja dia main. Karena ternyata ketika di rumah apa yang gurunya bicarakan di TK dia inget tentu dengan pelafalan yang masih terbatas.

Usianya memang untuk bermain, bermain adalah belajar bagi mereka. Tapi sebenarnya kita bisa belajar dari anak-anak: melakukan sesuatu itu harus menyenangkan karena jika hati senang insyaAlloh ikhlas dan hasilnya insyaAlloh memuaskan.