-177- Novel Baru: Kesenangan Baru

Bismillah.

Setahun yang lalu. Bulan Maret. Saya mulai menulis cerita tentang Aisha dan Rafa. Tiga bulan saja. Puluhan ribu kata. Saya menyelesaikannya di part ke-25. Inspirasi datang dari mana saja. Saya menulis hampir setiap hari. Keadaan waktu itu menjadi inspirasi cerita saya. Tempat yang saya kunjungi dan lalui menjadi latar lain yang menyenangkan.

Saya selalu keinget cerita ini ketika melintasi Kali Pemali. Salah satu cerita mengambil gambaran dari Kali Pemali. Kadang saya kembali baca.

Dan hari ini. Satu hari sebelum hari jurnalistik yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Pun saya baru tahu kalau tanggal 9 Pebruari adalah hari jurnalistik. Itu semua dari disway. Saya senang karena salah satu kesenangan baru ini pun inspirasinya datang dari sana. Saya memutuskan untuk kembali membuat cerita. Ini akan menjadi cerita saya yang kedua setelah Aisha. Semoga selanjutnya memang bisa konsisten satu tahun satu cerita. Karena ini juga membuat pikiran saya lebih longgar ketika menulis. Dan semua yang saya lihat bisa diabadikan dalam cerita. Tahun 2019 kamu akan merasa senang ketika membacanya di tahun-tahun kemudian.

Silakan berkunjung jika ingin seru-seruan dengan Bayu Anggoro dan kisahnya https://tinyurl.com/yc6saabk .

Advertisements

-176- Menakar Rasa

Bismillah.

Kenapa diulang-ulang terus sih? Ini kan sudah dibahas kemarin. Duh, alamat ngomongin yang sudah-sudah lagi nih. Bosen. Bete. Gak menarik sama sekali.

Pernah gak sih kita merasakan hal seperti itu?

Saya pernah. Saya yakin banyak dari kita pernah merasakannya. Entah itu sering atau sesekali.

Wajar. Manusiawi. Tapi kalau keseringan tentu akan sangat mengganggu.

Awalnya saya biasa saja. Saya tahu ini kan memang biasa. Seperti berkunjung ke rumah nenek kemudian kita merasa bosan. Saya sudah seperti itu. Biasa kan, nenek kadang setiap ketemu cucunya yang diomongin itu-itu saja. Atau nanya yang pertanyaannya tidak pernah berubah. Dan pertanyaannya itu banyak. Kalah wartawan. Siapa yang tidak jenuh. Kalau kebablasan suka nongol wajah manyunnya.

“Kadang orang tua kita itu hanya ingin dimengerti. Mereka seneng hanya dengan jawaban sederhana kita.” Kata seorang teman.

“Apa mungkin seharusnya kita yang harus berubah? Bukan menuntut orang lain untuk berubah?” Kata Saya.

Merubah niat kita menjadi lebih berfaedah. Mendengarkan untuk ibadah. Bukankah membuat orang lain bahagia salah satu bentuk ibadah. Jika diniatkan lillahita’ala?

Saya terpekur. Ini pikiran kebanyakan orang. Tapi hanya sedikit yang mau memahami dan melaksanakannya.

Benar. Kenapa kita harus repot-repot dengan rasa bosan yang sebenarnya bisa dikendalikan? Kenapa kita tidak memilih sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita? Memilih untuk berempati. Memilih untuk mendengarkan. Memilih untuk beribadah. Karena hidup adalah pilihan.

#selfreminder

-175- Debat tadi Malam

Bismillah.

Asli saya tidak nonton debat capres. Tidak ada sedikitpun keinginan menonton. Saya yakin banyak yang seperti saya. Bukan kalangan golput. Saya sudah tahu mana yang harus dipilih. Jadi debat semacam apapun biasanya tidak akan menggoyahkan pilihan saya. Saya juga bukan orang yang suka “ngajak-ngajak”. Karena saya yakin dengan banyaknya berita dari berbagai platform media sosial kebanyakan orang sudah melek. Dan memiliki pilihan masing-masing. Tinggal ada yang sangat bersemangat dengan pilihannya atau sekedar harus memilih seperti saya.

Saya juga akhir-akhir ini tidak suka dengan perdebatan. Walaupun saya penduduk twitland tapi asli saya adalah anomali. Ketika yang lain suka sekali dengan persengitan, saya malas. Rasanya semua perdebatan dan pertikaian itu lebih membuat saya capek. Dulu memang tidak. Mungkin usia banyak mempengaruhi bagaimana hari ini saya berpikir. Juga pengalaman.

Tentang debat tadi malam saya pun dapat kabar dari twitter. Tentang pasangan calon satu yang lebih banyak diam. Tentang pasangan calon dua yang kompak dan bersemangat. Saya membacanya sekilas. Sudah.

Saya kira ada tiga golongan di pemilu hari ini. Satu, mereka yang merasa intelek. Rata-rata berpendidikan luar negeri. Dan rata-rata sukses juga terkenal. Memilih realistis sesuai apa yang mereka rasa dan asa. Kedua adalah mereka yang berdasarkan rasa keagamaan. Ketiga adalah rakyat biasa yang pilihannya masih bisa digoyahkan. Saya rasa pemilih keempat yang cuek sudah tidak ada. Kali ini benar-benar berperang. Semua meninggalkan keinginan untuk golput.

Golongan pertama biasanya penghuni twitter dan penikmat youtube yang “berkualitas” atau acara-acara yang “smart”. Biasanya loh ya. Golongan kedua adalah penghuni facebook dan instagram. Golongan kedua juga banyak yang menikmati konten youtube tapi sebatas untuk hiburan atau tentang kajian-kajian. Ini juga biasanya ya. Golongan terakhir adalah mereka yang setia dengan suguhan televisi. Golongan terakhir ini biasanya masih suka nongkrong dan mengikuti sinetron-sinetron ajaib di tv. Share tv sangat tergantung pada mereka.

Oke kamu ada dimana? Saya anomali. Saya ada di salah satunya tapi dengan pilihan yang berbeda. Saya yakin ada yang seperti saya tapi tidak banyak.

Harapan saya satu. Semoga kita diberikan pemimpin yang benar-benar bisa merangkul semuanya. Tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai seorang muslim. Karena saya yakin di Indonesia ini mesti harus pemimpinnya itu muslim. Saya yakin untuk yang satu ini.

-174- Menomori Halaman Pertama Excel Bukan dari Satu

Bismillah.

Hallo semua!

Duh lama juga saya tidak nulis. Kata orang selalu ada jalan untuk rindu. Selalu ada waktu untuk kembali menyapa. Aihir.

Sekalinya nulis lagi, judulnya alamak teringat sinetron yang onoh ya. Sekali judul selesai cerita. WKWKWKWK.

Oke deh tanpa banyak basa-basi kali ini saya ingin nulis sesuatu yang sedang saya kerjakan. Baru saja menyelesaikan publikasi. Yang mana saya kecele. Niatnya yang penting bisa bikin satu saja publikasi tahun ini maka dipilihlah yang tipis-tipis urainnya. Tapi ternyata tebel bok! lampirannya mengambil hampir 80 persen isi buku. Dan itu semua harus diolah sendiri pake SPSS. Tidak selesai sampai disitu. Karena setelah diolah harus juga dirapikan. Saya pakai excel. Yang mana membuat saya menulis ini akhirnya.

Jadi itu tabel lampiran tadinya saya copy paste ke word. Sengaja. Idenya biar tu publikasi berada dalam satu file word. Halamannya pun akan lebih mudah diatur. Iya gak.

Tapi masalahnya itu tabel susah sekali disesuaikan di word. Ketika di paste ada yang lebih gede, lebar, kepanjangan, tambah kerjaan merapikan lah pokoknya. Akhirnya saya putuskan untuk tabel lampiran tetap di excel. Penomoran halaman nanti ngikuti uraian yang di excel. Fine. Sampai sini saya oke-oke saja.

Masalahnya saya lupa ketika ngasih nomor halaman di excel yang mana halaman awal tidak nomor 1. Hiks. Nanya sana sini teman sekantor pada lupa. Saya juga lupa. Belum setahun menemukan cara sederhana itu harus kembali lupa. Malang nian. Googling lah saya kemudian yang ternyata lama juga. Sempet males karena kata kuncinya kurang tepat jadinya yang muncul cara memberi nomor halaman di excel. Haiyah bukan itu!

Sampai akhirnya nemu juga. Dan sebel dong. Cara yang dulu pernah ditemukan ini sangat sederhana. Saking sederhananya jadinya terlupakan mungkin ya.

Gampang.

Saya pakai excel 2013. Catatan kita sudah tahu cara memberi halaman di excel ya. Nah setelah kita kasih halaman langkah selanjutnya tinggal klik PAGE LAYOUT terus PAGE SETUP. Di sana akan muncul jendel page sateup. Cari yang tulisannya first page number. Kalau sudah dapat tinggal isikan di kotak yang tersdia nomor yang kita kehendaki.

Selesai.

Mudah kan ya? Yatapi kekuatan lupa itu bisa membuat hal sederhana jadi sangat rumit.

Oke deh katanya gambar bisa menceritakan lebih baik ketimbang kata-kata. Ini adalah screenshoot pengerjaannya.

174.1
Klik tanda panah ke bawah yang dilingkari merah.

174.2
Muncul jendela page setup. Ubah yang dilingkari merah sesuai nomor halaman yang dikehendaki.

174.3
Contoh 20

174.4
Maka nomor halaman pertama akan dimulai dengan nomor 20.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

-173- Selamat Jalan Kawan

Bismillah.

wood-2881087_1920

Hari itu pertama kali saya menginjakkan kaki di kantor baru. Asing. Sungguh nuansa lama itu sangat menggoda. Saya berpikir: akan berapa lama saya bertahan di sini? Saya tahu akan seperti ini. Mungkin berlaku bagi banyak orang ketika menemui lingkungan baru dalam hidupnya.

Setelah perkenalan pagi itu. Saya diajak naik oleh kepala kantor. Beliau menunjukkan meja yang akan saya tempati. Saya langsung membereskan apa yang ada di situ. Kemudian tidak lama sudah duduk manis.

Saya diam saja. Banyak hal berkelebatan dalam pikiran. Apakah saya harus datangi satu persatu teman di situ. Beramah tamah. Basa-basi yang ujungnya bagi saya sering berakhir basi. Akhirnya saya memilih diam. Kata orang bijak diam itu emas. Hari itu saya sangat percaya kata orang bijak itu yang entah siapa.

Tapi tidak lama. Satu sosok bersuara cukup keras. Saya di ujung utara. Suara itu datang dari ujung selatan ruangan. Saya cukup kaget. Saya menjawab sedikit kebingungan. Selain saya tidak menguasai bahasa jawa secara aktif saya pun agak kaku dalam hal kenal mengenal ini.

Tapi bapak ini sangat ramah. Wajahnya berseri penuh ketulusan. Ia bertanya tentang perjalanan saya dari rumah. Tentang tempat makan. Memberi tahu tempat makan untuk nanti istirahat siang. Saya mendengarkan dan ikut tersenyum seiring wajahnya yang berseri dan penuh semangat ketika menerangkan ini itu kepada saya.

Hari pertama. Hari itulah saya mengenalnya. Sosok yang baik. Sangat baik. Ramah. Jika diminta bantuan segera membantu. Jika marah saya tahu beliau tidak pernah marah. Paling tidak kepada saya. Jika disudutkan menerima dengan diam dan ikhlas. Dan sangat memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Tidak saya mendengar kecuali yang baik-baik tentang beliau.

Setahun terakhir ini. Kami semua merasa sangat kehilangan. Sosoknya yang ceria dan legowo sudah sangat jarang muncul di kantor. Sakit.

Awalnya kambuhan. Sakit. Kemudian masih bisa masuk kantor. Sampai pada suatu hari. Sakit. Dan ia tidak kembali.

Kami sekali dua kali menjenguknya. Ia sangat senang ketika kami jenguk. Bercerita ini itu. Sepertinya banyak cerita yang ingin ia bagikan kepada kami.

Satu kali di waktu sakitnya. Ia pernah juga mampir ke kantor. Kami semua turun. Karena beliau sudah susah untuk naik tangga. Apalagi tangga kantor kami ada liukannya dengan anak tangga yang cukup tinggi.

Beliau masih ceria. Masih seperti sosok yang pertama kali saya jumpai itu. Sosok pertama yang sangat ramah memberi tahu ini itu kepada saya. Tapi fisiknya sudah jauh dari yang pertama kali saya kenal.

Saya yakin. Semua orang dalam hatinya berdo’a agar beliau bisa kembali bersama kami. Beraktifitas kembali seperti sedia kala.

Setahun kurang lebih. Ia berjuang dengan penyakitnya.

Hari ini. Selasa 30 Oktober 2018. Kami terpekur diam dalam rutinitas apel pagi. Sunyi itu menelusup kalbu. Sedih menjalari sanubari. Sebagian besar kami cukup kuat untuk tidak menangis. Beberapa tidak. Takdir itu pasti. Akan pula sampai tiba waktu masing-masing. Ya, ini hanya soalan waktu. Siapa lebih dulu dari siapa.

Beliau telah benar-benar meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi harapan akan kemunculannya. Beliau telah dipanggil. InsyaAlloh tempat yang terbaik untuk manusia baik seperti beliau. Aamiin.

 

-171- Tanpa Tanda Jasa

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari sabtu pagi. Seperti biasa saya duduk anteng di depan kelas 1 SDN 3. Sekolahnya Maryam.

Minggu ini berlangsung ujian tengah semester. Saya sebenarnya kaget dengan pelajaran anak kelas 1 hari ini. Pelajarannya per tema. Ada tema mengenal diri sendiri, kegemaran, keluarga, dan kegiatan. Semuanya 4. Per tema ada sub temanya. Bacaan semua. Tebal lagi. Walaupun bacaan per halamannya tidak sebanyak novel tapi tetap saja semua itu full bacaan.

Hebat sekali anak jaman sekarang ya?Kelas satu sudah harus membaca semua buku tema itu. Anak teman saya yang di kota malah ikut les membaca pra sekolah. Katanya, salah satu syarat masuk SD harus sudah bisa membaca. Sudah seperti itu ya sekarang?

Di TK Maryam pun dulu ada kelas persiapan SD. Ada tambahan belajar membaca. Padahal dulu saya TK taunya bermain. Ibu guru TK membacakan dongeng. Bermain peran. Sambil bermain beliau menyelipkan pelajaran hidup. Harus antri. Membuang sampah pada tempatnya. Berbicara baik. Kami tidak merasa sedang diajarkan. Tahunya sedang bermain😊

Dulu. Boro-boro membaca buku. Kelas satu saya masih belajar membaca. Kertasnya berwarna coklat. Per halaman ada tulisan besar-besar. Hanya beberapa baris tiap halamannya. Yang paling saya ingat adalah ini budi, ini bapak budi, ini ibu budi. Hurufnya besar-besar berspasi pula.

Bu Yayah alm. Bu guru kelas satu saya di SD dulu. Suaranya lantang. Mengeja hampir setiap hari. Menulis huruf per huruf setiap hari menggunakan kapur. Begitu terus. Tanpa lelah. Saya tahu semua itu terbayarkan. Hampir semua kami pandai membaca ketika naik ke kelas dua.

Saya lupa dulu itu bagaimana kami ujian.

Anak saya ujian. Soalnya dua puluh. Lima belas pilihan ganda. Esai lima. Bagaimana coba kelas satu ini mengerjakannya? Kalau begini memang benar harus sudah pandai membaca dan menulis. Usia pun harus sudah tujuh tahun. Sebelum tujuh rata-rata anak belum begitu matang soalan belajar. Masih mau bermain.

Tapi Maryam jangankan tujuh enam pun belum. Sudah mau sekolah. TK nya ia tinggalkan setelah satu tahun lebih di sana.

Sekolah menerima. Gurunya pun begitu. Jadilah Maryam belajar setiap hari di SD. Ia terlihat cukup senang. Tidak benar-benar belajar. Nyatanya lebih banyak bermain. Belajar membaca dan menulis sekali-sekali. Dari jam tujuh masuk kemudian jam sepuluh pulang, hanya sejaman belajar yang belajarnya.

Gurunya sabar dan telaten. Mengajari anak muridnya yang masih bocah itu belajar. Setiap hari sejaman. Tidak lama. Tapi saya kagum. Maryam sudah mulai bisa membaca.

Buku tema tetap ada. Bertumpuk buku-buku itu di belakang bangku murid yang hanya empat belas. Bu Guru mengajari apa yang mampu diserap anak didiknya. Ia tidak memaksakan harus menguasai seluruh buku tema itu.

Saya terharu. De javu dengan guru kelas satu saya dulu. Kata orang, kebaikan yang ikhlas akan terpancar. Begitu mungkin yang saya rasakan dengan guru-gurnya Maryam.

Hari ini ada praktek keterampilan. Membuat mozaik. Dengan sabar Bu Guru mengajari semua anak didiknya sampai selesai. Tidak peduli ada yang nangis karena lupa bawa gunting dan lem. Ada yang berlari ke sana ke mari. Bu Guru tetap mengajari dengan sabar.

Kata gurunya kemudian, mungkin tahun depan mengulang. Karena umur belum cukup untuk didaftarkan ke sistem. Saya tidak terlalu khawatir. Karena yang penting bagi Maryam sekarang adalah kegiatan. Kebetulan bisa ikut SD. Kalaupun nanti bisa lanjut, saya bersyukur. Saya tetap mengalir. Mengikuti aturan mainnya. Selama Maryam senang mengikutinya.

Langit pagi ini di atas SDN 3 Sitanggal. Semoga kalian semua menjadi generasi unggulan. Menjadi manusia-manusia yang berahlak mulia dan bermanfaat. Semua jerih payah itu akan terbayar lunas. Aamiin.