-146- Review Sanken SJ-160

Bismillah…

Rice cooker ini cukup membuat baper kita para emak di dapur ya gak? Saya sih iyes *anang mode on* Kisah lama tentang si rice cooker bisa cek di sini dan siniRada-rada sedih lah sampai harus pake ilmu silat segala waktu mencet on nya.

Nah, karena kita pindahan ke Jawa jadinya beli rice cooker baru. Pengalaman kemarin membuat saya beralih ke produk lain.

Produk kemarin yang saya beli secara branded bagus banget, sudah terkenal kualitasnya. Namun kemarin saya rasa agak kurang, mungkin karena ini produk baru mereka jadi masih, yah kekurangan di sana sini. Tapi mari kita lupakan, semoga ke depan jauh lebih baik lagi, aamiin.

Saya kembali ke pemain lama di dunia rice cooker. Kriteria saya nambah dari yang kemarin. Saya mau tombol on of nya gak mau lagi yang dipencet ke dalam maunya yang atas bawah saja, ribet bo! Yakali saya sabuk hitam bisa gampang hehe 😅

Jatuh hati pada sanken secara inner nya stainless tombolnya juga atas bawah. Tapinya mehong! Budget saya mirip-mirip kemarin. Akhirnya saya dapat yang ukuran 1,2 lt, kecil sih tapi insyaAlloh masih cukup, tipe SJ-160.

Alhamdulillah pas beli punya voucher jadinya cuma bayar 250rb an. Pengiriman cepat soalnya sesama jawa kan ya, lain dulu lain sekarang yang harus memeras otak untuk mencari dan menentukan pengiriman. Sekarang sih sama saja lah ya beda tipis, alhamdulillah.

Secara kelengkapan okelah gak ada yang kurang malah kalau tidak salah ingat dapat sampel beras organik juga. Isinya ada body tentunya, inner stainless 💕, sutil plastik, tempat untuk menghangatkan.

Happy alhamdulillah, sudah dipake hampir setahun masih bagus cuma agak kotor saja body nya karena saya kurang telaten.

Sharing saja ya buibu semua, semoga bermanfaat…maaf nih insyaAlloh gambar menyusul.

Penampakan inner dan body setelah hampir setahun *maaf ya kualitas gambar yang jelek…

Alhamdulillah masih cling!
kecik tapi sangat bermanfaat…
kotor beut… 😀

 

Advertisements

-145- Jauhi Perilaku Ini

Bismillah

Sudah lama tidak kumpul-kumpul ngaji, ada kurang lebih empat tahun seusia Maryam. Dulu mengaji pemikiran yang saya setuju tidak sama sekali menolak tapi rasanya saya lebih membutuhkan kajian ilmu. Selain itu saya juga tidak pede ketika hendak menyampaikan sesuatu tentang ide yang diemban, bukan karena sulit disampaikan lebih karena diri saya nya yang memang agak kaku dalam pergaulan. Alih-alih mendukung rasanya saya malah bikin repot.

Akhirnya saya mencari kajian online utamanya tang di unggah di youtube. Sayang waktu itu mungkin saya nya juga kurang serius selalu mental isi ceramahnya atau ngantuk, gak konsen lantas ditinggalkan.

Kemudian ke sini semakin banyak ustadz baru yang pembawaannya membuat kita ikut berfikir kemudian membenarkan.

Awalnya tidak sengaja di mobil Pak KTU diputar ceramahnya beliau. Gayanya bercerita tipikal orang sumatera dengan logat sunda membuat enak didengar, rasanya ringan dan mengena. Tidak berapi-api hanya bercerita menyampaikan sering diselipin kisah-kisah nabi dan para sahabat dengan gaya penceritaan seorang penulis. Saya tuh denger ceramahnya serasa baca movel Andrea Hirata versi kisah nyata. Enak banget didengar. Ustadz Hanan Attaki.

Kemudian karena di youtube jadinya kan muncul yang lain-lain, ketemulah saya dengan ceramahnya Ustadz Adi Hidayat yang berbeda cara penyampaiannya, lebih ke yang benar-benar belajar. Kita ya kalo dengar ceramah Ust. Adi harus siap dengan pulpen dan buku, harus pake banget nyater.

Awalnya saya tidak tertarik karena gaya ceramah seperti ini biasanya tidak masuk ke saya: ngantuklah. Tapi sekali dengerin ternyata asyik karena setiap membahas sesuatu langsung ia jawab pake dalil, ditulislah itu di papan semua dalilnya, masyaAlloh. Lebih dari itu yang membuat saya betah dengerin ceramahnya adalah ia selalu membawa kita untuk ikut berfikir. Mengaitkan satu masalah dengan sebab kejadiannya, sejarah yang ikut di dalamnya dibahas secara gamblang, dan ingatannya masyaAlloh.

Saya pernah membaca Api Sejarah, Ahmad Mansyur Suryanegara waktu kuliah dan hari ini saya hanya ingat sedikit garis besarnya. Ustadz Adi malah inget sama halaman-halamannya bahkan paragraf, masyaAlloh.

11 Desember 2017 saya ada mendengar ceramahnya membahas hal yang dibenci Alloh. Kebetulan saya lagi buka-buka buku dan ketemu ini. Pembahasannya mengena banget terutama saya yang kadang kalo lagi kumpul lebih sering keseleo lidah.

Jadi sebagai pengingat barangkali bermanfaat juga bagi pembaca di sini. Ada tiga perilaku yang dibenci Alloh SWT. Saya kurang cepat mencatat nomor-nomor suratnya, insyaAlloh nanti di update kalo mengulang.

1. 17:36 surat 17 ayat 36 : kabar burung, katanya, ngobrol yang gak jelas kebenarannya. Ini nih yang sering banget kejadian di emak-emak ☺️

2. Boros, menyia-nyiakan harta,menggunakan harta tidak pada tempatnya, termasuk membuang makanan ya…

3. Banyak bertanya tentang sesuatu yang sudah jelas. Ini mirip umatnya Nabi Musa, apa-apa ditanyakan padahal sudah jelas hukumnya.

Itu mudah-mudahan bermanfaat sebagai pengingat apalagi pas kumpul, jaga benar-benar hati dan lisan.

 

-142- Produk Ikea Pertama

Bismillah…

Sudah lama tahu tentang produk Ikea. Sempat juga lihat-lihat di web ikeahackers, lucu, keren, ya, karena saya suka barang-barang yang sederhana tapi tujuan manfaatnya tersampaikan dengan baik. Masalah selera saja. Banyak yang suka barang-barang besar dengan detail yang rumit, saya bukan salah satunya. Selembar papan yang diplitur dan di cat putih atau coklat ditopang dua papan lainnya, itu sudah cukup bagi saya.

Ikea yang saya beli ini sebenarnya punya kantor, buat kantor, pokoknya milik kantor lah (; Dua buah magazine file fjalla *susah bet nulis apalagi ngucapinnya* apa sih? tempat nyimpen majalah bisa juga buat dokumen, buku, berkas-berkas kerjaan saya, apalah pokoknya tempat penyimpanan. Beli di tempat belanja online seperti biasa, harganya tidak persis 130 ribu freong. Okelah ya buat percobaan.

Saya lupa kapan persisnya beli, tapi pas paketnya datang saya gak sadar itu si ikea. Waktu itu sore saya pikir dapat hadiah nih dari tempat belanja online saking loyalnya saya belanja disitu 😆 Bungkusan tipis kayak triplek, masak kaca? atau buku gambar ukuran A3? ah, waktu itu saya mikirnya yang tipis-tipis.

Pas dibuka kaget dong, simpel bangetlah pokoknya. Bahannya dari kertas yang bisa di daur ulang plus print cat akrilik yang membuatnya tampak kokoh. Makanya bisa dilipat bak origami terus dipacking setipis triplek hehe…Sayang, saking penasaran saya gak sempet mendokumentasikan paketannya. Tapi posisinya kurang lebih kayak gambar di bawah pas dibuka:

Ini kalo dipegang kayak gini tipisnya, kamu nyangka ini magazine file ? 😆

Ada nomor lipatan tinggal ikuti saja. Bagi pemula seperti saya pas melipat, harap diperhatikan di lipatan terakhir nomor 3. Kalau sekiranya susah ketika memasukan lipatan jangan dipaksakan, JANGAN!!! Saya melakukannya, alhasil sedikit sobek tapi alhamdulillah karena bagian bawah dan di dalam jadinya tidak kentara. Amanlah secara penampilan. Triknya, dorong ke dalam secara bersamaan lipatan nomor satu dan dua nah nanti akan ada perluasan lubang sehingga lipatan terakhir akan lebih mudah masuk. Selamat mencoba 👌😁

Bentuk jadinya kayak gini nih plus proses saya melipat :

Ketika lipatannya direnggangkan…
Ada nomor lipatan tinggal ikutin aja…
Jadi deeehhhh (:
Rapiiii

-0- postingan yang baru terselesaikan.

-141- Menjawablah dengan Ilmu

Bismillah…
Beberapa waktu yang lalu saya terlibat percakapan lumayan serius dengan seorang teman. Waktu itu teman saya ini cerita tentang pengajian yang kadang ia ikuti, di mana kalau mengucap tahlil dengan gerakan yang lumayan enerjik.

Waktu itu saya langsung bereaksi kurang setuju tapi InsyaAlloh masih sopan. Saya merasa belum pernah menemukan ustadz yang mengajarkan seperti itu. Saya melakukan itu karena saya merasa sayang dengan teman saya itu oleh karena dalam femahaman saya hal seperti itu tidaklah tepat. Tapi, sayang seribu sayang keilmuan saya cetek banget, saya tidak tahu dalilnya kenapa hal tersebut kurang tepat, saya hanya merasa hal tersebut kurang tepat. Yep masalah perasaan ini, kadang juga menuntun kita pada kebenaran tapi sayang jika harus berargumen dengan perasaan tanpa fakta dalam hal ini dalil, karena hanya akan membawa kita pada perdebatan tak berujung.

Akhirnya kita mengakhiri silang pendapat ini dengan tetap pada pendirian masing-masing yang tanpa dalil tapi kita saling menghormati, alhamdulillah.

Baru saja saya mendengarkan ceramahnya Ust. Adi Hidayat di Youtube channel Ceramah Pendek. Kebetulan ada bahasan tentang menggerakan tangan ketika duduk tasyahud. Tidak persis benar masalahnya tapi begitulah seharusnya menjawab, kalau tidak mampu cukuplah bilang wallohu’alam.

Pertama kali yang beliau jawab adalah membeberkan dalilnya: Hadits Muslim halaman 913 dan At Tirmidzi halaman 296 (yang saya catat). Dalam memahami hadits ini menurut beliau para ulama berbeda pelaksanannya. Menurut Imam Malik jari telunjuk diangkat dari awal bacaan tasyahud sampai akhir tanpa digerakkan. Menurut Imam Abu Hanifah jari telunjuk diangkat pas bacaan syahadat yang menunnjuk pada kata Alloh, lantas menjatuhkannya kembali. Sementara itu pendapat Imam Ahmad adalah mengangkat ketika syahadat dan terus sampai selesai.

Namun, dari ketiga ulama tersebut tidak satupun yang menyebutkan digerak-gerakkan, Allohu’alam. Kemungkinan besar yang digerak-gerakkan bersandarkan pendapat Imam Abu Hanifah di mana setiap menyebut nama Alloh jari telunjuknya di angkat, Allohu’alam. Sehingga kesimpulannya menurut Ust. Adi bahwasanya mengangkat tanpa menggerakan lebih kuat secara dalil.

Selain itu cara menggerakkan telunjuk pun ternyata ada caranya, yaitu dengan mempertemukan jempol dan jari tengah sehingga membuat lingkaran 🙂 . Eniwe biar lebih mantap bisa disimak ceramahnya beliau:

-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.

-139- Cerita Drama

Bismillah…

Ini tentang kejenuhan semingguan ini. Super jenuhnya sampai kacau beliau. Kepala mumet, demam di sore hari, yah gitulah…

Di sela-sela itu gak sengaja ketemu drama “Goddes Of Fire”. Ekspektasi saya tentang drama ini adalah jewel in the palace. Episode awal akhirnya saya tonton juga. Episode-episode ini selain bercerita tentang ibunya Jung Yi juga bercerita tentang masa remaja usia-usia SMP kayaknya.

Diceritakan tentang Pangeran Gwanghae dan Pangeran Imhae yang sedang berburu bersama raja. Namun, karena ulah Pangeran Imhae yang memukul pantat kuda Gwanghae membuat Pangeran Gwanghae bablas ke hutan mencari kudanya. Dan tak terduga masuk ke dalam perangkap. Lubang besar di hutan yang ditutupi ranting dan dedaunan untuk menjebak binatang hutang sejenis babi hutan.

Ternyata itu lubang yang bikin si Jung Yi. Pas dia datang bengong kan lubangnya ada isi tapi bukan binatang yang dia harapkan tapi sesosok. Mereka berdua saling berpandangan bingung. Dan terjadi percakapan lucu di sini yang intinya si pangeran nanya ini lubang kamu yang buat. Terus si Jung Yi nanya juga kenapa kamu masuk ke dalam lubang tanpa seizin dia si pemilik lubang.

Dari pertemuan ini konflik antara pangeran dan Jung Yi berlanjut sampai mereka gede. Waktu kecil si Jung Yi bantu memperbaiki guci karuhun yang pecah sama si Imhae. Dan akibat kejadian ini secara tidak langsung membuat Jung Yi kehilangan ayah (angkat) nya. Nanti kamu akan tahu bahwa ayah yang membesarkan Jung Yi dari kecil sebenarnya bukan ayah kandungnya *kalau nonton 😛 *

Oya Jung Yi ini hidup karena harapan besar ibunya yang ingin menjadikan anaknya sebagai ahli keramik pertama di dinasti jo seon. Maka, dia dengan susah payah belajar untuk menjadi ahli keramik sampai nyamar jadi lelaki karena perempuan gak  boleh jadi ahli keramik di kerajaan waktu itu. Karena penyamarannya ini banyak masalah membuatnya dekat dengan Pangeran Gwanghe.

Sampai nanti si pangeran tahu bahwa si Tepyong (lupa nulisnya) itu perempuan. Dan suatu saat nanti juga pangeran akan tahu bahwa si tepyong ini adalah Jung Yi. Gadis yang dia bingung mendeskripsikannya namun kata ibu ratu Jung Yi ini cinta pertama Gwang He *meleleh kan, tapi tahu mereka gak bakalan bersatu, siapa coba sanggup menyelesaikan kisahnya?* Aku enggak :p

Ceritanya nanti Jung Yi akan benar-benar jadi ahli keramik pertama. Tapi dia tidak akan pernah bisa membalas dendam atas kematian ayah angkatnya karena ternyata otak pembunuhannya adalah ayah kandungnya sendiri. Gitulah, konfliknya lumayan. Cuma menurut saya ada hal-hal aneh yang gak bener bangetlah, kayak si Jung Yi di suatu episode jadi buta eh, dia bisa ngeliat lagi tanpa diobati. Beda kayak Jang Geum yang misal hilang indra penyecapnya dia pake sejenis binatang apa gitu untuk mengembalikan indra penyecapnya.

Harusnya yang kayak gini bisa diolah lebih ilmiah. Maksudnya sembuhnya itu bisa dijangkau akal bukan yang mejik mejik gitu hihihi.

Jadi okelah ini drama bagus banget mirip-mirip Jewel in the palace aka Dae Jang Geum. Bukan karena ceritanya, karena kalau cerita sudah pasti beda. Tapi soalan sopan santun di film. Kamu gak akan nemu yang namanya sentuhan kulit berlebihan apalagi kissing. Dan ini ya dari semua film atau drama korea yang saya tonton kenapa harus ada adegan kissing padahal itu sangat mengganggu apalagi kalau nontonnya bareng keluarga.

Dan saya paling suka nonton cerita seperti ini, mengajarkan kerja keras, tidak mudah menyerah, selalu kejar cita-citamu setinggi langit weleh weleh hiihihi. Tapi kalau dae Jang Geum saya bisa nonton sampe selesai selain saya menikmati setiap ceritanya pun karena saya tahu akhirnya happy ending. Alamat saya dapat spoiler akhir Goddes of Fire menyayat hati hiks hiks menggantung gak bisa dijangkau, saya gak sanggup. Saya sampai sekarang belum nonton episode terakhirnya ep 32. Nunggu hati siap dulu kali ya…