-181- Beli Oleh-Oleh Solo

Bismillah.

Postingan ini tidak melalui research yang berarti. Cuma karena dekat dan suka.

Dari acara antar teman cari ATM dekat penginapan ketemu toko oleh-oleh. Pengen tahu kan oleh-oleh solo apa saja.

Kesan pertama saya ketika masuk adalah nyaman. Padahal tidak ada sapaan selamat datang. Tapi toko ini seperti menyambut hangat. Tidak ada pegawai toko yang ngintilin atau seakan mengawasi. Hanya dua orang di toko itu. Mereka sedang sibuk.

Oleh-olehnya beragam dan banyak. Paling dominan adalah roti. Kata pegawai tokonya semacam roti sobek. Khas Solo katanya. Ada wedang uwuh yang serba rempah. Kerupuk lele, brem solo, dan berbagai jenis keripik dan minuman. Harus nyoba dong.

Display tv jadul itu bagus tapi kok sayang ya…

Saya agak ngeri sebenarnya dengan bunga-bunga di atas tv itu. Itu yang kuning putih adalah keranjang belanjaan.

Kue yang katanya mirip roti sobek. Khas Solo.

Saya belum coba sih rasanya. Kalau penampakannya tak diragukan lagi: menggoda penyuka roti. Selain yang semisal roti sobek ada juga kue-kue panggang lainnya.

Keripik-keripik

Ini berbagai jenis snack. Biasalah ya kalau yang ini. Di banyak daerah juga ada. Masih ada snack lainnya di rak lain.

Roti-roti yang lebih kecil.

Tuh kan banyak sekali rotinya. Dan penampakannya itu menarik sekali.

Brem dan berbagai snack
Tuh gak rame kan. Tapi asli nyaman…

Pembayarannya pun fleksibel, bisa cash bisa pake kartu. Saya tidak tahu ya kalo harga karena ini adalah tempat pertama saya di Solo untuk beli oleh-oleh. Tapi karena kita senang dan nyaman saya kira harga tidak lagi menjadi masalah sejauh kita bisa membelinya.

Terakhir penampakan toko depan biar lebih jelas kalau ada yang mau ke sana juga. Oya satu hal menurut saya kurang tapi butuh bukan sekedar estetis: kursi tunggu. Habis belanja apalagi banyak kan setelah pembayaran pengen istirahat. Ini kursinya terbatas di depan kasir. Alamat kita gantian.

Tapi overall menyenangkan dan puas.

Jreng! Silakan bagi yang mau nyoba. Letaknya dekat banget dengan Hotel The Alaan

Advertisements

-180- Nginep di The Alana, Solo

Bismillah.

Biarpun gretongan tetap ya kita review wkwkwk.

Hal pertama yang saya rasakan adalah kenapa dulu di Santika saya tidak minta itu sendal! Bener lho bukan cuma perasaan. Memang sendal di Santika lebih enak dipake. Tebel.

Mana saya gak bawa sendal. Pas dipake itu teplek banget dan ujungnya sering kelipet-lipet saking tipisnya kali ya.

Kita cerita minusnya dulu ya. Di Alana juga tidak ada loundry bag dong. Tidak disediakan sajadah. Yang mana baru sedikit hotel yang mau menyediakan. Secara megah gitu ya. Terus kalau mau wudhu kaki harus naik di wastafel. Bagus sih, biar diingatkan jangan gemuk-gemuk. Susah lho itu gerakan mengangkat kaki. Bisa sebenarnya pake shower. Ya, pakai itu saja lebih mudah.

Selebihnya ini hotel bagus. Kita hanya berdua tapi sudah disiapkan extra bed. Mungkin awalnya ini kamar buat bertiga kali ya.

Penampakan extra bed

Lantainya di bawah kasur itu parket. Lebih enak dipijak, tidak licin, dan tidak membuat dingin telapak kaki. Tahukan gimana rasanya lantai keramik di tengah AC. Brrrbrb.

Di samping kanan kiri kasur ada colokan. Aman.

Pengaturan suhu sudah digitalisasi. Hair dryer disediakan di dalam kamar mandi. Apalagi ya?

Intinya bagus. Saya merasa nyaman. Satu lagi. Entah ini kelebihan atau kekurangan ya. Kamar mandinya itu berdinding kaca. Tembus pandang dong. Tapi tenang ada tirainya.

Oya lokasinya cukup strategis. Di kota. Saya sebenarnya gak begitu hapal. Tapi kalau mau cari makan dan oleh-oleh itu deket banget tinggal jalan. Ada nasi liwet, bakso, berbagai jajanan itu lengkap. Kecuali saya belum nemu selat solo.

Nasi liwetnya ini enak. Terutama ayam kampungnya. Gak alot lho. Bumbunya juga pas. Tapi memang nasi liwet isinya sederhana: sayur waluh, santan, kukus telur, rawit kukus dua biji, dan pilihan lauk ayam atau telur. Lebih wah dari nasi kucing menurut saya.

Baiklah tanpa kata-kata lagi silakan menyimak gambar-gambar alakadarnya yang berhasil dijepret.

Pintuuuuu manjyahhhh (hahah efek syahrini nih)

Tempat kartu. Seperti biasa ya di hotel-hotel zaman now.

Lemari mariiii
Wastafel yang melebar. Ini membuat air sering nyiprat-nyiprat kanan kiri depan belakang.
Tuuuh kan kebuka dinding kacanya😜
Toiletnya sendirian gitu
Toiletries nya cukup lengkap. Kurang sisir.
Gelas-gelas toiletries
Aman yang mau keramas terus cus pake kerudung.
Shamponya lumayan bikin halus rambut. Sabun saya lebih prefer ke batangan yang bulet-bulet itu
Mini bar
Lengkap, kopi dan teh…
Space depan bed. Cukup untuk sholat.

Cukup ya. Gambar sudah bercerita banyak.

-179- Sebelas

Hendak jadi apa sepuluh tahun yang akan datang?

Aku ingin menjadi presiden. Yang hebat. Paling hebat. Waktu itu kelas enam. Imajinasi masih membubung tinggi. Waktu itu belum mengenal apa daratan.

Waktu melintas seperti angin saja. Kadang terasa kadang tidak. Berharap semuanya sepoi. Jangan datangkan angin ribut. Tapi kebanyakan memang yang tak terasa itu. Kehidupan juga begitu saya kira.

Jendela abu tinggi-tinggi di hadapan. Aku tahu. Dulu. Di sini. Di tempat ini. Berbagai macam manusia. Tak terhitung jumlahnya. Hilir mudik. Mungkin tak satupun dikenalnya. Tapi siapa peduli. Mereka memiliki hidupnya masing-masing. Mereka memberi arti hidupnya masing-masing. Yang kadang tidak perlu kita tahui.

Sudah sejauh ini. Bukan senja. Walaupun aku selalu menyukai senja. Tapi aku yakinkan bahwa ini bukan senja. Berharap masih diberiNya kesempatan. Satu saja. Untuk selalu menjadi lebih baik. Muslimah yang taat. Istri yang sholeha. Dan ibu yang sholeha.

Kata seorang teman: hebat sekali jalan terus. Saya bilang, bukan saya yang hebat. Anak sayalah dia yang hebat. Yang sudah tidak lagi meraung-raung di usianya yang belum genap enam.

Tapi justeru hal itu lebih berat. Air mata tanpa suara. Hidung memerah dan rasa yang dipendam. Itu. Itu lebih dari sekedar berat. Perih.

Tapi juga hidup terus berlanjut. Terus, terus, dan terus. Tidak bisa kita hentikan sejenak.

Hidup ini hanya soalan kita menghadapinya. Soalan pilihan. Yang akan membuat kita terlihat. Pilihan-pilihan itu menunjukkan sudah sejauh mana kita melangkah.

Senyum simpul ini menandakan bahwa kehidupan telah begitu rupa menjamahku. Aku bersyukur sudah sampai di titik ini. Banyak yang meleset dari harapan. Tapi Alloh memberiku yang lain yang jauh lebih aku butuhkan. Aku sudah beranjak dari pandangan hilir mudik manusia siang ini. Angin dan matahari membelaiku tanpa mereka harus tahu siapa.

Joglosemarkerto, 11 Maret

-178- Semarang (lagi)

Bismillah.

Berat ya harus meninggalkan Maryam. Tapi tidak ada pilihan. Sebagai abdi negara ini salah satu konsekuensi.

Karena itu. Saya tidak mau mengeluh. Saya ingin bahagia untuk kedua hal tersebut. Menjadi pekerja dan menjadi seorang ibu.

Untuk anakku tersayang insyaAlloh, Alloh lah yang akan menjagamu. Karena sebaik-baik penjaga adalah Dia. Untuk pekerjaanku, aku akan berusaha sungguh-sungguh agar apa yang kukerjakan hasilnya baik.

Mengeluh hanya akan membuat kita gagal di keduanya. Jadi harus semangat. Harus ikhlas dan sabar. Toh kita ini sedang berkehidupan. Akan selalu ada masalah yang akan membuat hati dan pikiran kita berganti-ganti rasa. Berusaha dan berdo’a. Sudah, itu saja.

Di Semarang kali ini pun saya berusaha bersyukur dan bersabar. Senin sampai jumat. Bukan waktu yang sebentar.

Karena sudah sering ke Semarang saya tidak lagi berkeinginan ini itu. Kebanyakan kelas kamar. Di kamar banyak merenung. Mengamati peristiwa yang lagi happening di media.

Beberapa yang saya yakin akan terus diingat. Pertama, pernikahan Syahrini dan Reino Barack. Yang menguasai hampir semua pemberitaan. Menyapu jajaran trending youtube. Terpampang paling atas di pencarian media manapun. Jadi akan sangat naif kiranya di era digital ini jika tidak tahu akan hal ini. Dan hiruk pikuk kampanye presiden. Pertandingan el clasico antara Jokowi dan Prabowo. Kedua kalinya dan tidak akan ada yang ketiga. Sangat seru bagi mereka yang mengikuti atau berpihak ke salab satu. Sebagai ASN saga tidak bisa terbuka untuk condong ke salah satu.

Saya tidak mau mengomentari keduanya. Tapi pemberitaan kedua topik ini benar-benar panas. Kadang saya merasa di luar nalar keagamaan saya. Tapi satu saja yang ingin saya ingatkan, terutama untuk diri saya sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Baca Selengkapnya :  https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html

Itu. Astagfirullohal’adzim. Jadi mari teman-teman kita saling mengingatkan. Saling merapatkan barisan untuk menjauhi yang namanya ghibah. Tidakkah kita takut, ini adalah dosa besar. Semoga Alloh selalu melindungi kita semua, aamiin.

Tempat yang nyaman untuk merenung. Alhamdulillah

Tempat saya menginap ini, hotel santika premiere, adalah termasuk hotel lawas di Kota Semarang. Menurut sepupu ipar saya yang asli semarang, Santika merupakan hotel yang kedua dibangun. Hotel pertama yang dibangun di sini katanya sudah tidak beroperasi lagi. Jadi boleh dibilang Santika lah sekarang yang paling senior.

Saya menempati kamar tipe deluxe dengan dua tempat tidur. Tidak ada yang istimewa. Seperti halnya hotel-hotel yang lain di tipe ini. Kamar mandi shower yang selalu membuat saya kurang puas. Maklum terbiasa dengan gayung dan limpahan air di bak😊

Tapi satu hal yang menurut saya lain. Apa itu? Sendal! Iya. Bentuk dan warnanya memang sama saja seperti hotel-hotel yang lain. Yang beda sandal punya santika rasanya lebih tebal. Atau cuma perasaan saya saja? Entahlah.

Apalagi ya? Hm makanan. Tidak banyak yang saya coba. Makanan hotel pun banyak yang saya skip. Lagi diet kaka… Gak enak lah badan gemuk. Rasanya gak lincah. Sarapan paling icip salad sayur, sudah. Siang nasi sedikit plus lauk. Malam skip. Tapi gara-gara lapar malah pesen martabak di gojek😌

Selain martabak ada pesen mie godog jawa. Makannya di kamar hotel. Kuahnya saya taruh di gelas😂 ternyata makan mie godhog dengan kuah terpisah juga oke.

Terus makan bakso di gunung pati. Saya berkunjung ke sepupu yang sekarang tinggal di sana sekalian buka usaha. Baksonya lumayan. Harganya juga lumayan murah khas mahasiswa. Maklum lokasinya ini di sekitaran kampus UNNES.

Di tengah Semarang yang panas melipir ke Gunung Pati ini sesuatu ya😁 Asa di lembur. Udaranya sejuk. Jaraknya juga gak jauh-jauh amat dari kota. Naik gojek kurang lebih tiga puluh menit, sekitar Rp22.000,-.

Itu sih. Gak banyak. Tapi alhamdulillah senang sekali. Melihat ponakan yang masyaAlloh sudah gede-gede. Dulu tahu pas bayinya sekarang sudah besar. Tak terasa ya sudah tua. Dan senin besok insyaAlloh lanjut pelatihan di Solo. MasyaAlloh. Berikan kami semua kesabaran dan keikhlasan. Aamiin.

-177- Novel Baru: Kesenangan Baru

Bismillah.

Setahun yang lalu. Bulan Maret. Saya mulai menulis cerita tentang Aisha dan Rafa. Tiga bulan saja. Puluhan ribu kata. Saya menyelesaikannya di part ke-25. Inspirasi datang dari mana saja. Saya menulis hampir setiap hari. Keadaan waktu itu menjadi inspirasi cerita saya. Tempat yang saya kunjungi dan lalui menjadi latar lain yang menyenangkan.

Saya selalu keinget cerita ini ketika melintasi Kali Pemali. Salah satu cerita mengambil gambaran dari Kali Pemali. Kadang saya kembali baca.

Dan hari ini. Satu hari sebelum hari jurnalistik yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Pun saya baru tahu kalau tanggal 9 Pebruari adalah hari jurnalistik. Itu semua dari disway. Saya senang karena salah satu kesenangan baru ini pun inspirasinya datang dari sana. Saya memutuskan untuk kembali membuat cerita. Ini akan menjadi cerita saya yang kedua setelah Aisha. Semoga selanjutnya memang bisa konsisten satu tahun satu cerita. Karena ini juga membuat pikiran saya lebih longgar ketika menulis. Dan semua yang saya lihat bisa diabadikan dalam cerita. Tahun 2019 kamu akan merasa senang ketika membacanya di tahun-tahun kemudian.

Silakan berkunjung jika ingin seru-seruan dengan Bayu Anggoro dan kisahnya https://tinyurl.com/yc6saabk .

-176- Menakar Rasa

Bismillah.

Kenapa diulang-ulang terus sih? Ini kan sudah dibahas kemarin. Duh, alamat ngomongin yang sudah-sudah lagi nih. Bosen. Bete. Gak menarik sama sekali.

Pernah gak sih kita merasakan hal seperti itu?

Saya pernah. Saya yakin banyak dari kita pernah merasakannya. Entah itu sering atau sesekali.

Wajar. Manusiawi. Tapi kalau keseringan tentu akan sangat mengganggu.

Awalnya saya biasa saja. Saya tahu ini kan memang biasa. Seperti berkunjung ke rumah nenek kemudian kita merasa bosan. Saya sudah seperti itu. Biasa kan, nenek kadang setiap ketemu cucunya yang diomongin itu-itu saja. Atau nanya yang pertanyaannya tidak pernah berubah. Dan pertanyaannya itu banyak. Kalah wartawan. Siapa yang tidak jenuh. Kalau kebablasan suka nongol wajah manyunnya.

“Kadang orang tua kita itu hanya ingin dimengerti. Mereka seneng hanya dengan jawaban sederhana kita.” Kata seorang teman.

“Apa mungkin seharusnya kita yang harus berubah? Bukan menuntut orang lain untuk berubah?” Kata Saya.

Merubah niat kita menjadi lebih berfaedah. Mendengarkan untuk ibadah. Bukankah membuat orang lain bahagia salah satu bentuk ibadah. Jika diniatkan lillahita’ala?

Saya terpekur. Ini pikiran kebanyakan orang. Tapi hanya sedikit yang mau memahami dan melaksanakannya.

Benar. Kenapa kita harus repot-repot dengan rasa bosan yang sebenarnya bisa dikendalikan? Kenapa kita tidak memilih sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita? Memilih untuk berempati. Memilih untuk mendengarkan. Memilih untuk beribadah. Karena hidup adalah pilihan.

#selfreminder

-175- Debat tadi Malam

Bismillah.

Asli saya tidak nonton debat capres. Tidak ada sedikitpun keinginan menonton. Saya yakin banyak yang seperti saya. Bukan kalangan golput. Saya sudah tahu mana yang harus dipilih. Jadi debat semacam apapun biasanya tidak akan menggoyahkan pilihan saya. Saya juga bukan orang yang suka “ngajak-ngajak”. Karena saya yakin dengan banyaknya berita dari berbagai platform media sosial kebanyakan orang sudah melek. Dan memiliki pilihan masing-masing. Tinggal ada yang sangat bersemangat dengan pilihannya atau sekedar harus memilih seperti saya.

Saya juga akhir-akhir ini tidak suka dengan perdebatan. Walaupun saya penduduk twitland tapi asli saya adalah anomali. Ketika yang lain suka sekali dengan persengitan, saya malas. Rasanya semua perdebatan dan pertikaian itu lebih membuat saya capek. Dulu memang tidak. Mungkin usia banyak mempengaruhi bagaimana hari ini saya berpikir. Juga pengalaman.

Tentang debat tadi malam saya pun dapat kabar dari twitter. Tentang pasangan calon satu yang lebih banyak diam. Tentang pasangan calon dua yang kompak dan bersemangat. Saya membacanya sekilas. Sudah.

Saya kira ada tiga golongan di pemilu hari ini. Satu, mereka yang merasa intelek. Rata-rata berpendidikan luar negeri. Dan rata-rata sukses juga terkenal. Memilih realistis sesuai apa yang mereka rasa dan asa. Kedua adalah mereka yang berdasarkan rasa keagamaan. Ketiga adalah rakyat biasa yang pilihannya masih bisa digoyahkan. Saya rasa pemilih keempat yang cuek sudah tidak ada. Kali ini benar-benar berperang. Semua meninggalkan keinginan untuk golput.

Golongan pertama biasanya penghuni twitter dan penikmat youtube yang “berkualitas” atau acara-acara yang “smart”. Biasanya loh ya. Golongan kedua adalah penghuni facebook dan instagram. Golongan kedua juga banyak yang menikmati konten youtube tapi sebatas untuk hiburan atau tentang kajian-kajian. Ini juga biasanya ya. Golongan terakhir adalah mereka yang setia dengan suguhan televisi. Golongan terakhir ini biasanya masih suka nongkrong dan mengikuti sinetron-sinetron ajaib di tv. Share tv sangat tergantung pada mereka.

Oke kamu ada dimana? Saya anomali. Saya ada di salah satunya tapi dengan pilihan yang berbeda. Saya yakin ada yang seperti saya tapi tidak banyak.

Harapan saya satu. Semoga kita diberikan pemimpin yang benar-benar bisa merangkul semuanya. Tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai seorang muslim. Karena saya yakin di Indonesia ini mesti harus pemimpinnya itu muslim. Saya yakin untuk yang satu ini.