-118- Kebiasaan Kita

Bismillah.

dscn2906

Happy Ied…

Selamat Raya semua…

Tahun ini korban apa? *boleh dong ikut-ikutan yang lagi musim😛 *

Emang apa kebiasaan kita? Kok bawa-bawa kita, kamu saja kali? Mmmm karena kebiasaan ini masih belum bisa ditinggalkan, minimal oleh sebagian besar kita. Jadinya lebih enak dibilang kebiasaan kita.

Apa sih? Sampah Mak!

Iya sudah beberapa kali nih sholat raya di perantauan dan saya kok merasa kebiasaan buang sampah sembarangan ini semakin ke sini semakin menyebalkan😛 . Karena panitia PHBI (perayaan hari besar agama islam) tidak menyediakan alas buat sajadah jadi mau tidak mau bawa masing-masing. Ada yang bawa tikar, plastic biasa, terpal kecil, Koran, dan ya sudah pasrah tak pakai apa-apa. Terus ada masalah?

Masalahnya yang bawa kertas Koran, plastic sekali pakai, pokoknya yang sekali pakai, setelah sholat tidak dibawa lagi. Dibiarkan tergeletak begitu saja di lapangan. Sedihnya lapangan di sini dekat laut dan angina menggiringnya ke laut karena tidak ada panitia yang beberes setelah selesai.

Apa susahnya ya ambil Koran bekas sendiri dan membuangnya ke tong sampah yang sebenarnya tersebar di sepanjang jalan? Kan jadinya ironis dan terlihat lucu melihat tong-tong sampah yang menganga minta disuap padahal disekitanya bertebaran makanan lezat.

Sepertinya karena kebiasaan, biasa meninggalkan sampah, biasa membuang sampah sembarangan, biasa dengan lingkungan penuh sampah L . Karena kebiasaan ini akhirnya orang-orang merasa tidak bersalah karena hal ini sudah lumrah lagipula tidak ada yang negur. Merasa tidak ada yang salah. Merasa kamu kok sok pecinta lingkungan nyuruh-nyuruh kite buang sampah pada tempatnya.

Dimana yang peduli terhadap lingkungan dianggap aneh, mungkin kita belum siap dengan dunia yang semakin maju dan well educated. Boleh dikata pendidikan kita tinggi tapi kenyataannya kita belumlah terdidik dengan baik.

Jadi, di sekolah dulu dididik apa saja ya?

Kalau dulu saya di sekolah kampung (Sekolah Dasar) kebersihan, kerapihan, dan ketertiban itu nomor satu. Saking cintanya kebersihan pernah suatu waktu dalam masa SD, kita semua harus melepas sepatu ketika memasuki ruang kelas yang kinclong di pel sehari sebelumnya. Kaca mengkilat menyilaukan hati *uhuk*. Gorden juga wangi dan bersiiih. Soalan rapi, semua bangku berjejer rapi harus dalam garis lurus kalau perlu pakai penggaris hheee.

Oya satu lagi sampai pernah waktu di kelas 3 ibu wali kelas almarhumah rajin memeriksa kuku-kuku kami. Kalau terlihat panjang dan kotor diperintahkan untuk segera di potong. Begitu juga kalau ada baju yang kotor langsung diingatkan untuk di cuci.

Iya sih kita kadang nakal. Lupa potong kuku, baju seminggu yang itu-itu terus *bisa dibayangkan kummel dan baunya😀 *. Tapi paling tidak hal-hal yang sepertinya kecil ini terbawa sampai kita segede gini. Saya suka risih dengan kuku yang panjang walaupun terlihat bersih walaupun kadang juga kecolongan lupa motongin kuku sendiri dan anak😀. Ya situ mau ngulek adonan kanji nancep semua tuh kuku cantik😀

Atau soalan ketertiban, sebelum masuk kelas, padahal sudah SD loh waktu itu, kadang masih juga disuruh berbaris antri memasuki kelas. Misal pulang sekolah pun biasanya kita akan pulang teratur satu persatu berdasarkan kecepatan dan kebenaran dalam menjawab soalan matematika. Terlihat sepele tapi membuat saya malu dan gak enak hati kalau lagi antri dan bingung dengan antrian yang tidak jelas.

Tidak tahu ya sekarang bagaimana di sekolah.

Dulu di kampung ketika sholat raya begini seingat saya selalu bersih. Karena alas yang dibawa biasanya tikar. Tikar karpet gitu jadi ya harus di bawa pulang dong ya. Masak ditinggal kan mihil kalau beli lagi hhheee. Besok-besok mungkin panitia harus menyediakan alas kali ya , misal terpal atau dikasih pengumuman pakai alas tikar atau alas yang berupa kertas koran dan sejenisnya supaya diambil lagi.

dscn2905

10 Dzulhijah 1437H

 

-117- Review Rice Cooker Philips hd3128

Bismillah.

Karena tulisan sebelumnya saya belum pakai jadi masih awang-awang sebatas harapan, kali ini saya mau share pengalaman setelah menggunakan rice cooker philips punya ini.

Detail yang di tulis di tempat saya belanja mulai dari inner pot yang pro ceramic, gagangan inner yang memudahkan pas mau angkat dari outer nya (bodi rice cooker), daya listrik, bodi luar yang kuat, semuanya saya puas. Alhamdulillah. Ditambah dikasih bonus 1kg beras organik itu semakin membuat saya senang gembira. Dan yang paling saya suka dia tidak ada penampungan air sisa menanak jadi aman dari bencana rembesan air yang kelupaan dibuang.

Nasi yang dihasilkan pun so far enak sama lah dengan rice cooker punya saya dulu. Menurut saya soalan yang ini tergantung beras yang dipakai dan penanganannya. Misal beras PB788 *ini merk ya* yang biasa saya pakai, dia akan lebih enak menurut lidah saya sekeluarga jika air yang digunakan lebihin sedikit dari kebiasaan.

Biasanya kan kalau nanak nasi air dilebihkan sebatas satu buku jari kan. Nah, beras yang satu ini lebihin dikit dari itu baru enak menurut saya. Di tambah daun salam atau jeruk atau serai mmm tambah mantap. Kata orang sini pakai garam biar enak gurih. Berhubung saya lagi diet jadi jauh-jauh dulu lah ya dari konsumsi garam berlebih. Sudah mah lauknya pakai garam ini nasinya ditambah lagi, kapan dietnya kaka…

Terus?

Dari bodinya yang gagah, dari dalemannya yang menjanjikan ternyata pas saya semangat menanak untuk pertama kali saya dibuat capek sama tombol nyala nya *plak!*. Itu si tombol yang dari luar terlihat besi pas dipencet rapuh sekali dan dia tidak seperti rice cooker saya yang dulu-dulu sekali pencet on untuk nanak nasi sudah. Ini saya harus berkali-kali sampai dia mengeluarkan bunyi klek tanda nasi sudah dalam proses tanak, sediiiih.

Kecewa untuk pertama kalinya dong? Gimana ya? Jujur sih iya, kenapa hal yang se urgent ini, tombol nyala kan vital banget, kok, seperti tidak mendapat perhatian lebih. Iya sih yang lainnya oke punya tapi kan sebel juga setiap kali mau nanak harus berkutat lebih dari sekali hanya untuk mencet tombol on off.

Menurut saya produk yang bagus itu harus memperhatikan sampai sedetail-detailnya dari perkara yang terlihat sepele sekalipun. Apalagi yang ambil porsi harus pake banget dipikirkan baik-baik.

Tapi karena hasilnya sejauh ini memuaskan oke lah tapi tetap saja tombol nyala itu harus diperbaiki untuk produksi ke depannya *philips kamu sebaiknya baca ini, beneran*.

Philips semoga kecewanya saya terhadap tombol nyalamu tidak berpengaruh terhadap performa lainnya. Semoga awet ya, aamiin.

-116- Surga yang Tersembunyi

Bismillah.

Hari sabtu sore sekitar jam setengah lima saya dan suami pun Maryam bermotor ke suatu tempat. Tempat yang sudah kami dengar sebelumnya. Menurut cerita yang kami dengar, tempat ini sangat indah. Sangat indah. Sepertinya tidak ada kata lain untuk melukiskannya. Begitulah yang selalu kami dengar. Sampai hari ini kami harus membuktikannya.

Lumayan jauh dari tempat kami. Perjalanan kurang lebih 15-20 menit dengan motor. Sampai di sekitar lokasi Sombu kami kebingungan menemukan lokasinya. Kami berhenti di depan pintu gerbang yang bertuliskan nua indah. Tapi yang kami cari bukan nama ini hanya kata nua yang sama.

Bertanya ke orang di sekitar yang kebetulan lewat, “Wasabi Nua?”. Si anak yang kami tanya kebingungan. Sampai muncul seorang yang mengarahkan telunjuknya pada papan nua indah. “Di sana, masuk saja”.

Kami pun masuk. Tempat yang bertuliskan nua indah ini sepertinya diperuntukkan awal sebagai tempat rekreasi alam yang dikelola individu masyarakat. Namun sayang tidak terawat. Ketika sudah sampai ke ujung barulah kelihatan lumayan banyak pengunjung. Kebanyakan anak muda berpakaian kekinian.

Tempatnya sendiri tidak ada yang istimewa menurut saya. Hanya hamparan tanah yang sesekali ditumbuhi pepohonan. Beberapa merupakan pohon menahun. Kesannya rimbun karena sekeliling area ditumbuhi pohon. Tapi tidak ketika kami mulai menuruni tanahnya dan menyibak jejeran pohon karena di sana ternyata laut dan di seberangnya tersembunyi cantik seonggok batu super besar seperti pulau super kecil yang indah masyaAlloh. Batu besar tersebut dihubungkan dengan jembatan kayu.

Air yang jernih di bawahnya adalah keindahan tanpa seorang pun menolak ditambah pulau kecil ini. Memang tidak ada kata lain selain MasyaAlloh indahnya…

Kata-kata sulit melukiskannya. Satu gambar akan bercerita banyak. Mungkin itu juga kenapa instagram begitu digandrungi *gak nyambung*. Gambar dapat bercerita banyak.

heaven!
heaven!
ala-ala menuju negeri dongeng
ala-ala menuju negeri dongeng

Keindahannya jangan di tanya. Datanglah ketika matahari akan tenggelam dan itu ah…masyaAlloh. Semburat merahnya melemparkan kita jauh ke khayalan yang paling romantis sekalipun.

masyaAlloh...
masyaAlloh…
see u tomorrow...
see u tomorrow…

Jangan khawatir batu besar ini telah didesain senyaman mungkin oleh pemiliknya. Entahlah sungguh beruntung kalau memang bisa dimiliki. Diatapi bagian tengahnya sehingga bisa menikmati sekalinya turun hujan. Ada layar cukup besar juga di bagian tengah dan di sekelilingnya disediakan bangku-bangku plus meja untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati menu yang disediakan. Tidak ada tiket masuk tapi kalau mau menikmati di bagian atas agar lebih nyaman dan puas menikmati laut dan matahari dan nelayan yang melintas dan semuanya kamu harus tahu diri beli makanan atau minuman yang memang harganya rada tinggi.

maunya leyeh-leyeh sambil baca novel misteri hhe...
maunya leyeh-leyeh sambil baca novel misteri hhe…

Ketika kita naik ke atas seorang pelayan akan sigap menyambut kita dengan deretan daftar menu dari yang berat, ringan sampai minuman. Wakyu itu karena ingin mencoba jadi kita pesan makanan berat sama minuman. Harga total lumayan tinggi dengan taste yang seperti itu tapi yah terobati dengan pemandangan luar biasanya. Saran saya jika ke sini pesan minum saja atau makanan ringannya saja.

jus jeruk buat maryam dan kelapa muda punya si abah, saya? biasa minuman kesehatan air putih...
jus jeruk buat maryam dan kelapa muda punya si abah, saya? biasa minuman kesehatan air putih…

Bisa juga gratis tanpa perlu beli makanannya. Caranya jangan naik ke bagian atasnya, cukup duduk-duduk canti di bawah karena ada disediakan bangku-bangku juga. Di sana tidak kalah mengasyikan tapi kalau bawa anak kecil ya repot, takut karena tidak ada pembatas ke laut. Atau cukup foto-foto di jembatannya epik sekali pokoknya.

ngobrol nglor ngidul dilatari laut ...
ngobrol nglor ngidul dilatari laut …

Dan segambreng foto lainnya. Semua poto credited to abah…

picture tells more…

DSCN2802

DSCN2785

DSCN2823

Sampai jumpa di edisi jalan-jalan berikutnya…

-115- Cerita Penyapihan Maryam

Bismillah.

arti sapih

Proses memperkenalkan dengan makanan kita orang dewasa sudah lama ya sejak usianya 6 bulan. Tapi untuk menghentikannya menyusu butuh waktu dan tenaga ekstra bagi saya.

Waktu usianya genap dua tahun saya pernah melakukan penyapihan dengan cara di titip di rumah ortu tiga hari. Dan hasilnya saya nangis tidak tega. Maryam sakit tidak ada semangat, katanya hampir sepanjang hari nempel terus di emih. Saya tidak mau mengulainginya lagi pada Maryam.

Di usianya yang hampir tiga saya pernah coba menggunakan makanan pedas. Saya olesi di PD dan itu bertahan sehari. Saya kembali tidak tega ketika Maryam meraung-raung minta nenen lagi *emak yang rapuh*.

Dan karena hari ini sudah genap tiga tahun mau tidak mau tega tidak tega saya harus. Saya kembali menggunakan si pedas *pake cabe* karena pernah sukses dulu itu. Hari pertama dan kedua meraung-raung setiap kali mau bobo. Dan sedihnya lagi dia tidak bisa tidur siang. Tapi kali ini tekad saya sudah bulat. Saya sudah mempersiapkan sebelumnya karena pernah berpengalaman sebelumnya.

Apa?

Butuh tenaga super gede! Iya mendengar jeritan tangisan anak, ibu mana sih yang tega? Karena itu saya harus punya ekstra tenaga untuk menenangkannya. Otomatis saya harus lembur lagi seperti dulu bayi. Lembur sampai Maryam terlelap. Siap terjaga karena di awal dia selalu terbangun, nangis, kemudian harus di garuk. Itu saya ulangi kurang lebih tiga harian. Seminggu kemudian tanpa nangis tapi badannya minta di garuk terus sampai terlelap. Ini kemajuan besar tentunya.

Tapi saya mikir masak iya harus di garuk terus? Satu siang saya pernah tiduran sama Maryam sambil saya membaca. Saya lupa buku apa. Tapi itu buku bacaan saya. Tidak lama Maryam terlelap dan itu pertama kali setelah saya sapih dia tidur siang.

Selanjutnya sampai hari ini setiap mau bobo saya selalu membaca. Berasa telat sekali dibanding ibu-ibu lain yang telah membacakan buku cerita pada anaknya semenjak bayi. Tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa juga melakukannya.

Ternyata niat saja tidak cukup. Tenaga, dukungan suami, dan tentu saja keteguhan hati sebagai seorang ibu. Karena menurut saya keteguhan hatilah yang sering kalah di tengah jalan. Tidak tega sering meruntuhkan niat demi mendengar jerit tangis yang membahana ditambah kalo nangisnya pake bumbu drama😀 .

Tenaga penting sekali apalagi bagi ibu yang bekerja. Bekerja full day yang datang kadang magrib, itu capeknya luar biasa. Belum mendengar tangisan anak, tubuh juga meronta minta jatah istirahat akhirnya menyerah. Makanya karena saya tahu harus ekstra tenaga. Sebulanan ini saya tidak lagi begadang, tidur cukup dan pulang kerja dipercepat.

Alhamdulillah sudah sebulanan Maryam tidak lagi ASI. Jadi resmi Maryam sudah berhenti ASI.

Gantinya?

Minum apa saja yang sehat dan halal. Untuk susu saya biasanya beli susu kotak ultra mimi tapi kalo lagi kosong pakai ultra jaya lain. Kesukaannya rasa stroberry sampai sekarang. Selain susu dia gandrung sekali minum teh. Ikut abah sepertinya. Saya buatkan yang tidak pekat dan kalo lagi stok tambah madu.

Banyak anjuran para ahli di luar sana tentang cara menyapih. Pada akhirnya kita orang tualah yang faham bagaimana cara terbaik unutk anak sendiri. Tapi catatan penting bagi saya adalah niatan yang kuat harus didukung oleh tenaga, dukungan dari keluarga, dan keteguhan hati.

-114- Makanan Favorit Keluarga

Bismillah.

Saya dan suami dalam hal makanan amat sangat berbeda. Sebenarnya tidak hanya makanan sih, hampir dalam segala hal kita berbeda. Ya, namapun katanya saling melengkapi hhee.

Saya suka yang asin-asin si abah suka yang manis-manis. Bahkan saya sering di buat geleng-geleng kepala, susu yang manis pun harus di tambah gula lagi. Belum teh manisnya yang menurut saya seperti larutan gula berwarna coklat keemasan. Gimana tidak merdeka itu para semut di rumah.

Saya suka yang bersantan gurih si abah sukanya yang kalo bisa kasih garam saja cukup. Dia yang di kasih tiap hari tempe dan kangkung akan super hepi dan saya yang walaupun masaknya gampang tapi lidah tak terpuaskan. Jadinya tiap masak kalau saya lagi rajin masak dua menu yang berbeda.

Bersyukur Maryam mengambil sebagian dari saya dan abahnya. Bayangkan jika Maryam pun memiliki selera makan yang sama sekali berbeda, duh saya bisa seharian di dapur😀 .

Tapi ada satu makanan yang mempersatukan kita. Saya bahagia sekali kalau soal makanan yang satu ini. Hemat waktu dan tenaga. Tidak lain tidak bukan dia adalah adonan kanji. Kok makanan? Iya karena adonan kanji ini sebenarnya sudah matang. Dia sudah di seduh air mendidij terlebih dahulu sebelum dieksekusi selanjutnya menjadi bentuk makanan yang lebih menjanjikan.

Dari adonan kanji ini selain bisa langsung di makan *ala Maryam* selanjutnya bisa di masak sesuai selera. Misal suami sukanya indil ya tinggal di rebus kemudian di beri sambal kacang. Saya suka cireng ya, tinggal di goreng dan di cocol sambal. Maryam? Dia suka semuanya…

Ini dia adonan kanji sampai menjadi rupa makanan lainnya yang enak dan tentunya kesukaan kita semua…

adonan kanji
adonan kanji

Adonan ini terdiri dari tepung kanji gr di campur 3 sendok makan tepung terigu dan di seduh dengan rebusan bawang putih, garam, dan merica. Air untuk merebus kira-kira segelas belimbing. Di aduk pakai sendok ketika masih panas. kemudian diamkan sebentar sampai agak hangat. Selanjutnya suka-suka untuk di olah menjadi apapun. Bisa cilok, cireng dan indil.

Ketika membentuk agar tidak lengket di tangan pakai tepung terigu. Dan ini yang baru-baru saya bikin dari adonan kanji.

ini cilok bisa juga di buat indil dengan cara di rebus menggunakan sambal kacang.
ini cilok bisa juga di buat indil dengan cara di rebus menggunakan sambal kacang.
cireng
cireng
yummy...
yummy…
sore-sore kayak gini...
sore-sore kayak gini…

Kalau soal makanan yang ini tak kenal waktu. Kapanpun saya buat langsung habissss…

Modifikasi resep dari berbagai sumber.

 

-113- Milestone

Bismillah…

DI usianya yang ke 3 banyak yang terasa sekali perubahannya. Salah satu yang membuat saya amazed melihatnya adalah kemarin.

Kemarin untuk yang ke dua kalinya saya melakukan perjalanan berdua saja dengan Maryam. Dulu ada saja di sepanjang perjalanan dia menangis bahkan dulu itu dia tidak mau duduk di kursinya. Sepanjang perjalanan di pesawat malah nemplok terus di saya. Dan iya saya pegel bukan main. Pernah juga dia tidak mau masuk ke dalam pesawat sambil jerit-jerit minta keluar *nguras keringet dan perasaan*.

Tapi itu dulu…

Sekarang tak sekalipun dalam perjalanan baik pergi maupun pulang dia minta di gendong. Antusias jalan sendiri, alhamdulillah. Gendongan pun menjadi tak berguna dan sepertinya akan segera dimusiumkan. Ya, karena selain tak di pakai bawanya pun jadinya menuh-menuhin barang bawaan.

Kemarin itu Maryam seperti ini:

  • Duduk manis di pesawat ala Maryam itu kaki diselonjorkan sambil buka majalah pesawat pakai ekspresi serius lagi baca plus sekali-sekali noleh ke umminya sambil ngasih senyuman super kiyut. Itu saya meleleh.
  • Menunggu di bandara ala Maryam adalah menikmati setiap menitnya sambil memperhatikan lantai bandara, duduk ngemper dan sesekali tiduran. Dan tidak peduli dengan orang banyak yang tak dikenalnya.
  • Menunggu baginya bukan masalah selama ada makanan dan minuman di bandara aman, alhamdulillah. Padahal saya sudah rempong sekali dikarenakan ada perubahan jadwal tiket sehingga harus mengurusnya dan itu lama menguras waktu dan emosi. Menjelang penutupan check in baru selesai itu tiket reschedule.

Perjalanan besar lainnya insyaAlloh akan datang padamu sehingga berbekallah dari sekarang. Semoga perjalanan selanjutnya lebih menyenangkan lagi, aamiin.

-112- Peribahasa

flower-887443_1920

“Karena nila setitik rusak susu sebelanga”

Akhir-akhir ini saya lagi kepikiran tentang pemimpin Wakatobi yang baru saja lengser. Bukan karena dilengserkan tapi dia sudah dua periode menjabat. Di akhir masa jabatannya komentar negatif tentang dirinya tak dapat dihindari. Iya dari kubu lawan yang kebetulan hari ini menang.

Saya bukan pihak pro atau kontra dengan gaya kepemimpinannya. Bukan juga tidak setuju dengan visi misi nya. Saya hanya penduduk biasa yang berusaha menerima semua keputusan yang telah diputuskan yang katanya sudah sesuai demokrasi.

Hanya saja kalau kita pikir *kebanyakan mikir yang belum tentu penting* pemerintah yang selesai dalam kondisi baik-baik saja masih dibicarakan kurang baik apalagi yang jelas-jelas melewati masa akhir jabatannya dengan huru hara.

Kemudian saya teringat Pak Harto. Tidak saya pungkiri ketika masa pemerintahannya saya merasa aman nyaman dan tentram pun sejahtera. Saya tahu iya jangan komplen dulu, saya tahu di luar sana banyak juga yang mengalami tindak kurang menyenangkan ketika masa pemerintahannya. Jadi jangan lupa ya akan kekerasan dan semua tindakan kurang menyenangkan itu walau bukan kita yang merasakannya. Iya saya tidak lupa akan semua pemberitaan itu.

Tapi, saya juga tidak mau lupa bahwa ada hal baik ketika masa pemerintahannya. Saya menolak lupa semua kebaikan yang telah saya rasakan. Saya hanya berusaha menempatkan pemimpin saya pada posisinya. Bapak pembangunan ya memang benar adanya pada masanya Indonesia sedang giat-giatnya membangun.

Pada masa Pak Karno juga begitu. Menurut buku-buku sejarah pada masa Pak Karno ini Indonesia begitu dikagumi dan dihormati. Pak Karno sendiri sangat disegani oleh pemimpin dunia lainnya. Di akhir masa jabatannya kita semua tahu terjadi hal yang kurang menyenangkan. Dan selama bertahun-tahun di bawah orde baru nama Soekarno tenggelam begitu saja. Tapi, lihatlah sekarang. Di atas keburukan yang muncul seharusnya kita bisa fair menyikapi kebaikannya.

Peribahasa di atas tentu sudah tidak asing lagi. Sebenarnya peribahasa ini ditujukan sebagai self reminder. Artinya kita harus hati-hati dalam hidup. Satu saja kesalahan bisa jadi merusak semua yang telah kita bangun.

Salah satu munculnya peribahasa adalah dari pengalaman dan kebijakan seseorang. Oleh karena itu, peribahasa tidak bisa kita anggap sepele. Karena boleh jadi, hal buruk telah terjadi pada seseorang di masa lalu. Dan diharapkan kita yang hidup setelahnya tidak mengulangi hal yang sama. Bukankah pengalaman selalu mengajarkan dengan baik?

Karena lebih ke pengingat diri jadi peribahasa di atas menurut saya tidak bisa digunakan sebagai generalisir atau bahkan menghakimi.

Jika kita pernah melakukan satu kesalahan dan saya yakin sebagai manusia kita pernah melakukannya, bukan berarti kita langsung di cap sebagai seorang pecundang kan? Bukankah di luar sana orang-orang besar tidak luput dari kesalahan dan mereka memperbaikinya sebaik yang mereka bisa?

Jika seseorang pernah melakukan kesalahan kita tidak bisa menghakiminya sebagai pecundang kan? Mungkin dia tidak ahli di satu bidang itu tapi kan dunia ini luas pun dengan keilmuannya.

Jika satu kelompok pernah melakukan kesalahan yang dilakukan salah satu anggotanya, bukan berarti kita bisa menghakimi kelompok itu sebagai kelompok yang salah kan?

Bahkan ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan yang terlihat mencolok bukan berarti dia tidak pernah berbuat baik kan? Bukan berarti dia tidak pernah berprestasi kan?

Bukankah menjadi pemimpin itu sendiri merupakan salah satu prestasi bagi dirinya. Terang saja tidak semua orang bisa menjadi pemimpin.

Apa artinya?

Tentu saja karena kita manusia bukan malaikat. Kita berbuat salah kemudian memperbaikinya. Orang lain berbuat salah kita belajar darinya.

Melihat sejarah pemimpin kita, peribahasa .di atas rasanya bukan lagi sebagai self reminder tapi lebih ke penghakiman.

Perlukah kita menista seseorang karena kesalahannya dan melupakan begitu saja semua prestasi bahkan pengabdian yang telah diberikan? Tentu itu tidak adil.

Dulu Pak Karno di caci tapi kemudian sejarah berbalik padanya hari ini. Hari ini Pak Harto di caci mungkin di depan sedang menunggu sejarah yang baik baginya.

Setiap pemimpin tentu pernah melakukan kesalahan. Tapi, sebagai masyarakat yang baik tentu kita tidak perlu melupakan apa yang pernah dibangunnya untuk negeri. Kita mengakui kesalahannya pun jangan lupa kita pun harus menerima setiap kebaikan yang telah ia torehkan.

Janganlah kesalahannya menutupi semua kebaikannya. Kalau hari ini banyak slogan menolak lupa akan keburukan yang telah dilakukan pemimpin kita maka, saya mau mengingatkan janganlah kita juga lupa akan kebaikan-kebaikannya.

Ajang pemilihan pemimpin baru tentunya bukan ajang buka aib pemimpin sebelumnya. Tapi, ajang bagi kita sebagai masyarakat untuk belajar. Belajar memilih dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Semoga dengan begitu suatu saat kita dijodohkan dengan pemimpin yang baik dan amanah. Aamiin.

Berusaha bersikap adil walau sulit. Sedang bunga saja yang tumbuh di tengah gersangnya tanah tetaplah bunga yang indah yang menyejukan mata siapapun memandang.