-131- Mencacah Yuk! Bagian 2

Bismillah.

Kemarin kan saya lebih ke menerima, menjalankan, dan mengambil hikmah dari tugas saya mencacah. Setiap kegiatan apapun itu kan harus dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan pada akhirnya mengharap ridho-Nya. InsyaAlloh.

Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengoreksi ke arah yang lebih baik kan? Lha ini kan kerjaan kita masa ada yang terasa ganjil dibiarkan saja turun temurun tanpa ada perubahan?

Sudah banyak sih perubahan dari sisi kuantitas kerjaan yang makin menggila banyaknya, isi kuesioner yang makin berlembar padahal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang baik, dan mmm tuntutan pola kerja yang “katanya” harus profesional. Profesional hal ketepatan waktu pelaksanaan, kecepatan mengerjakan kerjaan, ketepatan isian, semua SOP yang harus dilaksanakan dengan waktu yang kadang tidak masuk akal dibandingkan jumlah sumber daya yang ada, intinya harus cepat dan tepat.

Well, memang harus begitu: cepat dan tepat dalam hal kerjaan. Eitts tapi menurut saya hal ini harus didukung dengan ketersediaan waktu, pikiran, dan tentu saja tenaga.

Dengan kuesioner yang berlembar, pertanyaan yang tak tanggung-tanggung, mengaharap ingatan responden dalam jawabannya, berharap satu hari clear disetor kemudian diperiksa dan di edit dan di entri, mungkin kamu tidak memperhatikan kondisi fisik si pencacah. Karena yakinlah tidak semuanya bisa dijawab oleh responden. Pencacah akan lebih membutuhkan waktu untuk memperbaiki isian kuesioner dibandingkan ketika ia mencacah.

Tapi masalahnya bukan pada waktu yang hendak diminta untuk ditambah. Menurut saya masalah utamanya ada pada kuesionernya itu sendiri, apakah rancangan kuesioner yang berlembar dengan pertanyaan njelimet itu sudah merupakan desain terbaik tanpa harus dikembalikan kepada yang mengkritik dengan, “ya sudah coba kamu yang bikin, bisanya cuma protes!”. Artinya kita tidak siap menerima masukan apalagi datangnya dari bawah.

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”-Steve Jobs

Padahal menurut saya kicauan yang datangnya dari bawah dalam arti si pelaksana akan lebih berarti karena mereka yang lebih tahu dengan merasakan ketika bertanya ini itu di lapangan. Harusnya kicauan dari bawah menjadi indikator bahwa rancangan kuesioner sudah baik secara tujuan yang ingin dicapai dan kesanggupan seseorang dalam hal bertanya secara wajar lebih-lebih bertamu di rumah penduduk yang pastinya mereka memiliki kegiatan yang lain. Mana setelah ditanya berjam tak ada tanda terima kasih pula, kadang kita yang bertanya ada rasa enggak enak, paling tidak tanda terimakasih dalam wujud yang sederhana misal payung atau bahkan hanya taplak meja itu akan membuat si penanya dan penjawab merasa “enak”. Menetralisir suasanalah setelah berjibaku dengan waktu dan hati.

Baru-baru ini saya juga ada bantu survei pengunjung perpustakaan yang mana saya dibuat kaget plus bingung ketika bertanya. Gimana tidak, hampir setiap pertanyaan harus diterjemahkan kepada pengunjung dan lagi-lagi berlembar dan saya perhatikan lebih banyak pertanyaannya dibanding tahun lalu. Ya wassalam karena tidak semua pengunjung memiliki waktu yang longgar dan mungkin ribet denger pertanyaan liabilitas, validitas, akhirnya, “sudah mba puas saja semua deh, bagus kok pelayanannya”. Iya buk bener juga saya juga belepotan nanyanya 😛

Apakah untuk tahu bahwa seseorang puas atau tidak harus diberondong dengan pertanyaan yang sebegitu banyaknya?

“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex; you have to work hard to get your thinking clean to make it simple.” _Steve Jobs

Mungkin kita harus belajar dari seorang Jobs yang mana kalo kamu pake produknya, hal pertama yang dirasa adalah: simple dan elegant. Hidup itu sudah rumit berpikirlah lebih lama agar tidak mempersulit, hehe.

menuju sebuah desa…*ssn2017*. Masih ada yang seperti ini.

-130- Mencacah Yuk!

Bismillah.

Siapa sih yang suka panas-panasan di lapangan? mengetuk pintu penduduk satu persatu kemudian meminta kesediaan untuk ditanya ini itu yang mana bisa berjam-jam?

Ada loh. Sahabat saya di Sulawesi senang melakukan hal seperti ini. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai Koordinator Statistik Kecamatan (KSK). Padahal sahabat saya ini perempuan. Perempuan yang boleh saya bilang lembut banget. Bicaranya saja kadang tidak kedengaran saking halusnya.

Saya mengenalnya di Kabupaten Kolaka. Dan dia orang pertama yang saya temui di kota itu. Dia pula di sela capeknya ke lapangan masih sempat nganter saya kesana kemari nyari kosan. Dan dia selama saya di sana tidak pernah terdengar keluh kesahnya. Kalau capek dia hanya tidur blas tapi itupun masih mau digangguin saya yang numpang istirahat di kamarnya. MasyaAlloh.

Satu dua kali saya temani dia melakukan pendataan ke rumah-rumah. Dan sekali waktu saya sempat ketiduran saking lama ditambah cuaca pesisir yang sepoi-sepoi masyaAlloh saya tak tahan untuk tidak tertidur 😀 .

Tapi saya banyak belajar dari dia sahabat saya ini. Terutama dalam hal teknik mewancarai, kesabaran untuk tidak melompati pertanyaan, kesabaran dalam menghadapi muka responden yang sudah tak menentu :p . Dia sangat apik ketika bertanya dan dia tidak pernah melihat jam ketika wawancara, tau-tau sudah sejam aja tapi kan selesai…

Iya selesai satu responden. Paling banter sehari dia mewawancarai dua sampai empat responden. Yap karena dia butuh waktu yang lumayan untuk bertanya dan menggali pertanyaan.

Pindah ke Jawa saya tidak ubahnya sahabat saya yang KSK itu. Mencacah iya hampir tiap bulan. Awalnya berat sekali tapi masak iya saya nyerah? cemen bangetlah, segala ujian itu kan sudah diukur oleh Alloh SWT sesuai kemampuan kita. Saya harus mencoba sebelum pada akhirnya saya mengibarkan bendera putih.

Dan alhamdulillah sampai hari ini saya nulis bendera putih masih tersimpan rapi. Ini baru ukur-ukuran kemampuan. Tiba saatnya saya tidak mampu saya tidak akan ragu untuk mengibarkan bendera tanda saya butuh me time!

Preambule di atas adalah curhat :p

Jadi saya harus nyacah Bulan April ini empat blok. Di mana satu bloknya adalah listing. Listing artinya saya harus mengetuk setiap pintu tanpa terkecuali di blok tersebut. Dan alhamdulillah hasil listing kemarin ada 100an rumah tangga/usaha yang 90% saya ketuk pintunya. Gile kan! Dan itu saya lakukan nonstop dari jam 9.00 WIB sampai 14.00 WIB. Saya ditemani aparat desa setempat untuk mengurangi rasa curiga penduduk artinya saya tidak perlu memperkenalkan diri panjang lebar. Lima jam itu sudah ada andil si aparat desa.

Capek sudah pasti. Tapi kemudian saya tahu saya senang telah menyelesaikannya. Saya jadi tahu aparat desa yang menemani. Kita paling tidak jadi berteman.

Kemudian sisa tiga blok saya harus nyacah yang artinya saya harus melakukan wawancara ke rumah tangga responden. Kalau dilihat kuesionernya, lumayan berlembar. First impression sih down wkwkwkw. Secara beberapa lembar gitu mau berapa jam nih? mau selesai kapan tiga blok? Cuma yang bikin tenang jawabannya merupakan persepsi artinye kagak ada bener salah. Harusnya sih bisa lebih cepat.

Blok pertama di pedesaan. Rumah tangga pertama alhamdulillah baik banget sampai saya keasyikan bertanya ngobrol kesana kemari lupa deh bahwa dese baru ruta pertama. Ngobrol. Yes satu hal saya belajar bahwa bener banget kalau orang Indonesia itu ramah-ramah sukanya ngobrol yang gak kenal saja disapa minimal, “mau kemana mba?” atau paling minimal senyum dan senyumnya senyum ramah yang bibirnya lebar gitu.

Saking senangnya ngobrol kita tuh banyak loh perbendaharaan dongeng. Kemungkinan besar menurut teori saya 😛 munculnya dongeng-dongeng salah satunya karena kita suka ngobrol suka cerita yang mana kendali kita akan bumbu kadang tidak terasa sangat kurang. Ya bumbu membumbui cerita akhirnya cerita yang sampai pada generasi setelahnya apalagi generasi yang sudah jauh akan sangat berbeda sembilan puluh derajat dengan cerita mula-mula. Coba saja.

Dari rumah tangga satu sampai sepuluh isinya kebanyakan cerita. Saya ngisi kuesioner sambil dengerin cerita mereka. Dan mereka sepertinya tidak terasa kalau lagi di tanya-tanya. Ada yah yang begini.

Intinya saya pancing satu isu tentang kehidupan mereka, tentunya setelah melihat-lihat kondisi. Dan cerita pun tanpa diminta akan mengalir begitu saja.

Misal nih, “eh bu, kenapa tidak kerja?”. Jawabanya bukan satu dua tapi mbrebet kemana-mana sampai ke anak sakit lah dan lain-lain. Alhamdulillah kalau ketemu responden kayak gini mereka super welcome, super ramah. Ada juga yang curhat belum dapat kartu BPJS. Pas mau bikin sendiri bayar sendiri maksudnya eh ternyata namanya sudah tercantum di database BPJS, tapi kartunya tidak bisa ia dapatkan, sudah mengadu ke BPJS ke Kantor Lurah, jadi iki piye?

Tapi diantara ramahnya responden yang saya temui terselip juga cerita satu dua yang menyedihkan diiih. Ada bapak-bapak yang marahin saya padahal bukan responden. Enak bangetlah dia bilang, “buat apa sih mba tanya-tanya lha wong tidak ada manfaatnya buat kita!”, “masih lama wawancaranya? dia(responden) lagi disuruh bikin kopi loh!”. Ya udah saya senyum dan bilang baik-baik ala saya.

Ada juga ibu-ibu yang takut diwawancarai dikiranya saya saleswoman. Hiiy macem-macemlah tapi alhamdulillah banyakan senengnya kok. Banyak tahu kondisi masyarakat dari yang ekonomi terbawah sampai yang paling tinggi. Semua memiliki cerita yang kadang saya berfikir kita tidak pantas untuk men-judge.

Mereka memiliki kehidupan yang mereka perjuangkan. Kata orang Jawa sawang sinawang, melihat si A kaya sepertinya hidupnya enak melihat si B miskin kayaknya nelangsa padahal mungkin sekali apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang mereka alami.

Saya pernah mewawancarai rumah tangga yang kalau secara materi jauh banget tapi mereka sangat bahagia dan saya pun yang melihat langsung berbicara langsung merasakan kebahagaiaan itu terpancar dari mereka. Sampai kepala kantor saya yang kebetulan ikut untuk pengawasan complain ke saya untuk dicek kembali angka kebahagiaan rumah tangga tersebut.

-129- Kesenangan Minum Teh

Bismillah.

Rapelan nulis mumpung Maryam lagi bobo siang 😀 . Hari ini saya dan suami tidak pergi kantor karena jalanan sulit dilalui.

Banyak hal berkelebatan kalau lagi di rumah gak begitu kerja yang mikir. kadang sembari nyuci baju tiba-tiba kepikiran apa. Begitulah yang apa-apa dipikirin 😛

Mikirin banjir, mikirin rumah, kerjaan yang ke sini semakin menghabiskan waktu bersama si kecil, dan semua mua sampai kepikiran kopi dan teh 🙂 . Saya pernah nulis tentang kopi, saya penikmat kopi dari kecil. Tapi itu dulu sejak maag, saya tidak berani lagi minum kopi kecuali kepepet kepingin seperti seminggu yang lalu. saya nyeruput kopi nescafe bawaan hotel dicampur krimer dan gula dua sobekan kertas hotel: Alhamdulillah nikmat sekali.

Terakhir kali minum kopi yang menyiksa waktu di Stasiun Gambir nunggu kereta. Kopinya nikmat sangat tapi sayang baru seteguk lambung sudah tak tahan, seperti ada sekepalan gas yang naik dari lambung menuju tenggorokan ingin dikeluarkan. Kopi mihil itu tak habis saya minum.

Sejak itu saya tidak minum kopi sampai seminggu kemarin dan tidak berlanjut. Sekarang saya minum teh. Minuman yang sebenarnya biasa, maksudnya saya sudah kenal dari kecil. Di kampung kalau bertamu atau ada hajatan ya suguhannya teh ini: teh tawar hangat kadang dicampur gula seadanya tidak sampai maiiissss. Rasanya sepet tapi seger.

Di sini di Desa Sitanggal, Brebes, iya di rumah mertua, minum teh layaknya minum obat sehari tiga kali. Awalnya saya cuma minum alakadarnya, eh, kelamaan jadi nagih. Kalau di rumah oran tua kan teh tawar ataupun pakai gula ya tidak semanis di sini masih kerasa tehnya gitu, di sini lain harus mesti pakai gula dan mesti manis. Dan saya tidak bisa, sampai dua sendok makan untuk segelas belimbing, mesti saya kurangi setengahnya.

Dan teh hangat manis ini menurut saya ya, yang enak buatan mertua ini. Tapi, kelamaan saya kurang greget dengan tehnya. saya suka yang ada sepet-sepetnya plus aroma melati. Jadilah saya nyari yang seperti di rumah dulu.

Di rumah orang tua dulu biasanya pakai teh tubruk merk ayam jago yang mana itu sulit ditemukan di sini bahkan di rumah orang tua sekarang pun agak sulit. Kemudian adik saya melipir ke teh merk tong tji dan itu sungguh enak, enak! Sepetnya, melatinya, aromanya, hmmmm duh segerrrr alhamdulillah….Saya pun mencarinya di sini yang mana buanyak banget, jangan takut kehabisan deh.

dscn3575

Cara nyeduhnya biar enak dan aroma si teh keluar harus pakai air mendidih, kata mertua begitu. Bahkan menurut Ibu (panggilan untuk mama mertua saya) air panas di dalam termos pun tidak mantap untuk bikin teh, harus pakai air yang baru mendidih baru enak dan terasa semua bawaan tehnya: aroma dan sepet-sepetnya.

Serpihan tehnya harus dimasukan ke dalam gelas*yang ini menurut saya pribadi*, biar kata mengapung di gelas tapi itu menurut saya jadinya cantik. Sensasi minum teh manakala bubuk tehnya masih ngapung *melayang* itu indah. Susah saya menggambarkannya 😀

dscn3574

Ini gelas teh saya tadi siang. Walaupun panas tapi tetep minumnya teh hangat. Tidak terasa minum teh segelas belimbing begitu. Tapi, kalau gelasnya agak gedean berasa kelebihan kalau nambah jadinya biasa, jadi ini sudah yang paling pas menurut saya.

dscn3576
yang ini punya Abahnya. Bubuk teh yang mengendap dan melayang itu sensasinya aduhai, heheh

Kata sebuah iklan, “Mari selesaikan semuanya dengan ngeteh…”.

Ohya ingat iklan teh jadi ingat kalau teh sekarang yang dijual banyak yang sudah pakai kantung. Ada yang di celup-celup ada juga yang gak perlu dicelup tinggal taruh saja kantungnya lalu seduh.

Jadinya praktis dan katanya pas minum teh gak keganggu dengan bubuk teh yang kata saya cantik tadi 😛 . Ya, balik ke selera masing-masing 🙂

Happy tea time.

-128-Banjir Brebes Awal 2017

bismillah.

Innalillahi…Sejak kemarin kawasan Brebes banjir. Mulainya hari Rabu 15 februari kemarin persis di hari pencoblosan. Siang hari lumayan terik. Waktu itu saya dan Maryam ikut suami yang sedang tugas melakukan pencacahan sakernas di Jatibarang. Sesiangan sampai sore cuaca sangat mendukung. Tiba waktu ashar hujan turun disertai kilat dan guntur memekakan telinga. Saking kerasnya guntur saya menjerit kenceng ketika suami mendata di salah satu rumah penduduk terakhir. Tak ayal kami berempat (dua lagi responden) kaget dan tertawa geli: Ya kali emak-emak teriak, maafkan kenorakan ini 😀 .

Saya ingat persis hujan turun beberapa saat sebelum adzan ashar. Dan hujan tidak berhenti sampai entah saya tidak ingat lagi karena pulang rumah langsung tepar jam enam. Menurut informasi hujan baru reda sekitaran jam 9 malam. Selama itu kawasan Brebes dan sekitar diguyur hujan deras, kali (sungai) yang entah karena termakan usia akhirnya tak kuasa menahan debit air dan memuntahkannya tak tanggung-tanggung.

Keesokan harinya kami semangat berangkat ke kantor. Walaupun sungai depan rumah mertua luber membanjiri sampai halaman rumah dan motor tidak bisa melaluinya kami tetap berangkat dengan memutar arah: jalannya lewat dapur, di sana masih bisa lewat motor.

Sampai di pertigaan lampu merah Jatibarang ada peringatan dari polisi ditulis besar-besar di jalan arah jatibarang, tapi ya, kami tetap melaju. Pikirnya, “Ah, palingan setumit bisa dilewati”. Sampai di Desa Buaran kendaraan tumplek tidak bisa melanjutkan perjalanan. Semua berputar arah, jalan tidak bisa dilewati ternyata banjir sudah sampi satu meter: tidak ada harapan. *Nih lagi kejadian penting kayak gini saya lupa bawa hape, kamera dan segala alat yang bisa mendokumentasi*.

Akhirnya kami berputar dan tetap niat masuk kantor. Kami ambil jalan lewat Desa Rengaspendawa. Saya lupa persis di mana, di jalanan ini pun air mencapai sebetis orang dewasa waktu kami lewat. Tapi, kami tetap melaju sembari harap-harap cemas takut motor tua yang kami naiki mogok. Sepanjang jalan, masyaAlloh tanaman bawang dan padi penduduk terendam air. Saya pun kepegelan hampir sejam nangkring di motor.

Sampai di kantor alhamdulillah aman dan kita pun bekerja seperti biasa, makan siang seperti biasa, semua berjalan biasa. Sampai sore jam empat ba’da ashar persis kami semua bersiap pulang ke rumah, cuaca kembali gelap pertanda hujan tidak lama akan segera turun. Semua cemas dan berusaha menyelipkan do’a semoga hujan tidak menambah parah keadaan tadi pagi.

Tapi Alloh berkehendak lain yang insyaAlloh selalu ada hikmah di balik semuanya, banjir tadi pagi barulah awal. Kami yang tadi pagi masih bisa lewat Rengaspendawa, pulangnya harus terus melalui pantura dan belok di Klampok. Jalan melalui Klampok tidak benar-benar banjir ketika kami lewat hanya genangan air tinggi akibat guyuran hujan yang lumayan deras. Hujan deras tidak lama tapi rintik setelahnya.

Dan malam harinya informasi berdatangan, semua mengabarkan banjir melanda Brebes. Brebes tidak pernah banjir separah ini dalam kurun dua puluh tahun terakhir. Banjir karena tanggul yang jebol sulit diatasi kecuali hujan reda beberapa waktu untuk perbaikan. Kami dan semua masyarakat Brebes hari ini berdo’a semoga air cepat surut dan perbaikan tanggul yang jebol bisa segera dilakukan, aamiin.

Teruntuk saudara-saudara kami yang terkena bencana banjir malahan sebagian dievakuasi di Gedung DPRD, semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan diganti semuanya dengan yang jauh lebih baik, aamiin Allohumma aamiin.

-127- Semarang Pertama Kali

Bismillah.

Siapa sih yang tidak terpana melihat bangunan tua jaman belanda masih berdiri kokoh sepanjang jalan. Melempar jauh kenangan ke masa meneer dan noni-noni cantik Belanda. Saya jadi ingat novel tetralogy karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satunya Bumi Manusia. Bercerita sosok Minke seorang pribumi bersekolah di HBS dan kemudian jatuh hati pada Annelies anak dari seorang Nyai.

Penggambaran di novel tersebut tampak nyata di kepala. Rumahnya yang besar, peternakannya, kereta kudanya, dan semua yang diceritakan bagai masuk ke jaman itu. Demi apapun saya sangat ingin melihat kondisi di masa itu.

Sedari berkenalan dengan novel-novel semacam bumi manusia saya selalu ingin melihat benda dalam bentuk apapun dari masa itu. Apakah itu bangunan, marka jalan, atau bahkan benda kecil sebangsaning pulpen, uang koin, apapun lah.

Dan Desember kemarin, berhubung saya dan suami harus menghadap ke kantor BPS Jateng. Namapun pegawai pindahan baru yah minimal ketemu dulu sama atasan kita di provinsi. Untuk pertama kalinya saya ke Semarang.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan ke samarang. Kalaupun saya punya bucket list kota-kota yang ingin saya kunjungi maka Semarang tak pernah masuk.

Dalam benak saya, Semarang itu panas, gersang, dan saya agak males berkunjung ke tempat-tempat yang terik seperti itu kecuali tanah suci dan kota-kota di sekitarnya, wkwkwk. Jadi, sekalinya ada kesempatan ke Semarang ya, saya biasa-biasa saja.

Naik Kereta Api dari Cirebon. Urusan naik moda transportasi satu ini saya tidak menolak. Saya paling suka naik KA. Tempat duduknya luas, bisa bobo selonjoran dan bisa jajan. Katanya beli makanan di kereta itu sensasinya tak terlukiskan. Berlebihan memang, tapi kamu harus nyoba sekali-sekali beli makanan di KA. Saya sudah beberapa kali sih beli dan emang menyenangkan. Asik saja gitu.

Ohya satu hal KA kan mirip-mirip pesawat soal ketepatan waktu berangkat. Jadi mesti teliti dan rencanakan seefektif mungkin kalau tidak bisa jadi ditinggal. Saya kemarin hamper saja ditinggal. Alhamdulillah masih rejeki.

KA berangkar jam 7.01 WIB, dari rumah disopiri adek kita berangkat jam 17.00 WIB. Yah, biasanya kan Cikijing-Cirebon bisa ditempuh kurang dari dua jam. Jadi, agak santai sampai pada suatu titik jalanan mendadak melambat. Mobil di kanan-kiri padat. Ternyata jalanan ke arah Cirebon tak seperti dulu lagi. Kini tak ubahnya Jakarta.

Namanya masih rejeki adek saya pinter-pinter nyari jalan tikus sampai akhirnya sampai stasiun jam tujuh teng. Saya dan suami berlari langsung ke penjaga pintu masuk KA. Dan Alhamdulillah si kereta masih ada di sana. Masih ada kesempatan beberapa menit.

Petugas jaga amat sangat membantu menukarkan tiket online kami dengan tiket KA resmi dan menghubungi bagian dalam KA agar menunggu kami sebentar. Akhirnya kami berdua lari sekencang-kencangnya menuju gerbong yang tertera di tiket. Bukan main capeknya. Saya sampai salah masuk gerbong.

Padahal sebenarnya ya, tidak apa-apa masuk dari ekornya gerbong kalau semisal gerbong kita di kepala. Kan keretanya sambung menyambung. Jalan saja santai seharusnya di dalam kereta. Yah, begitu deh kalau lagi bingung jadi gak bisa mikir. Walaupun sudah diingatkan, “masuk saja Bu”. Tapi saya kayak yang denger gitu terus saja berlari. Sampai di kursi bukan main lelahnya emak-emak yang jarang olahraga ini.

Turun di Stasiun … kita naik taksi menuju hotel. Nah, waktu di taksi ini melewati kota lama dan masyaAlloh jejeran bangunan tua jaman Belanda melambai-lambai cantik ke arah saya. Ohhh ini toh Semarang yang tidak ada di bucket list saya, ternyata masyaAlloh cantik sekali kotanya, eksotis.

Besoknya kita ke simpang lima sepulang dari kantor. Dan bersih. Rapi. Kita bisa duduk-duduk santai. Kita pun pulang jalan kaki ke hotel. Jauh tapi senang bisa jalan-jalan di Semarang

Saya sempat beli siomay. Sebagai orang Jawa Barat ya pastinya tidak asing dengan namanya siomay. Eh, di Semarang ini rasa siomaynya jauh dari rasa yang saya kenal: manisss banget. Sudah s-nya banyak pake banget lagi. Rasanya ini bumbu siomay gula semua.

Dekat hotel ada yang jualan nasi kucing. Oke coba lagi. Enak. Tapi kalau disuruh milih saya mau nasi lengko dekat rumah mertua saja 😀

Nasi kucing ini ya karena porsinya amat kecil seperti makanan kucing. Lauknya macem-macem tinggal milih. Ada tempe, cumi, udang dan lainnya, ditambah bakwan atau gorengan lainnya. Ya oke lah buat yang lagi diet seperti saya 😉

Siangnya kita pulang deh.

Sampai Jumpa Semarang…

-125- Speech Delay pada Anak oleh dr. Hardiono

Bismillah.

Lagi males sekali nulis. Tapi yang ini kudu banget di tulis euuurrrr…

Malam di minggu-minggu ini saya ada nonton seminarnya dr. Hardiono via channel dr. Tiwi di you tube. Lumayan begadang malam-malam, tapi topiknya memang menarik dan sayang buat tidak nonton malam karena kan harus fokus. Sesiangan tahu lah ya emak-emak bagaimana.

Topiknya tentang Speech Delay.

Speech delay itu bukan diagnosis ya ibu-ibu, telat ngomong, iya, cuma bahasa inggrisnya saja. Gak boleh lah seorang dokter mendiagnosis telat ngomong sebelum melakukan skrinning, begitu kata dokter nya.

baby-behind-1767804__180
pixabay.com

Apa itu terlambat bicara pada anak atau speech delay ?

Ketika anak tidak mampu apa yang dilakukan anak-anak lainnya di umur yang sama, ini bisa dikatakan si anak mengalami keterlambatan. Jika anak tersebut tidak bisa menguasai sejumlah kata dan kurang lihai berkomunikasi pada usia tertentu di mana anak lain yang seusianya mampu maka anak ini dapat kita katakan mengalami keterlamabatan bicara.

Namun, hal ini bukanlah diagnosis. Karena tidak semua keterlambatan itu mengkhawatirkan. Ada keterlambatan pada anak yang dapat ditolerir atau di tunggu sehingga tidak memerlukan penanganan yang serius. Nah untuk menentukan apakah keterlambatan tersebut patut ditolerinr atau tidak memerlukan diagnosis dokter. Makanya kalau dokter hanya bilang speech delay kata dr. Hardiono jangan mau karena speech delay kan cuma terjemahan dari telat biacara, gitu.

Keterlambatan yang tidak bisa ditolerir biasanya sudah masuk ranah disorder atau adanya gangguan sehingga anak mengalami keterlambatan. Dokter biasanya membutuhkan waktu untuk memberi diagnosis karena harus dilakukan skrining untuk melihat ada gangguan atau tidak.

Keterlambatan yang dapat di tunggu menurut dr. Hardiono biasanya karena saraf di otak terlambat mature, seringnya pada anak laki-laki, biasanya ada riwayat telat bicara pada keluarga, dan keterlambatannya tidak parah biasanya akan menyusul pada usia 2-3 tahun. Kalau telatnya seperti ini di sebut delay fungsional atau keterlambatan bicara ekspresif dan ini masih bisa ditolerir jika diagnosanya belum sampai pada gangguan bahasa ekspresif. Namapun gangguan ya jadi harus memerlukan penanganan.

Terus kapan kita sebagai orang tua bisa menduga bahwa anak kita mengalami gangguan sehingga harus segera bertemu ahlinya. Menurut dr. Hardiono ada beberapa tahap di mana kita sebagai orang tua harus sigap dan jeli memperhatikan tumbuh kembang anak. Jika terjadi hal-hal berikut pada anak itu sudah menjadi warning bahwa kita harus segera menemui dokter anak dalam hal ini:

  1. Usia 12 bulan tidak babling, menunjuk, dan mimik;
  2. usia 16 bulan tidak ada kata meski satu dan bayi tidak faham maksud kata tersebut;
  3. 2 tahun tidak ada dua kata spontan yang terucap;
  4. hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkat umur

Nah, kalau semua tahapan terlewati dengan baik tapi masih belum jelas komunikasinya kemungkinan syarafnya belum matang. Dan jika memang begitu boleh di tunggu.

Adapun kita sebagai orang tua harus tetap merangsang anak untuk terus belajar bicara. Berikut adalah tips dari dr. Hardiono untuk mengajak anak bicara:

Tarik perhatiannya ⇒ ajak bicara ⇒ jeda/ tunggu anak memberikan respon ⇒ respon biasanya berupa kontak mata, imitasi, dan mimik ⇒ reinforcement atau pujian bisa juga berupa hadiah.

Jeda ini sangat penting kata dokter karena memberi kesempatan si anak untuk memahami. Jadi, jangan terburu-buru mengajak bicara pada anak, pelan-pelan penuh kesabaran.

Alhamdulillah banyak sekali manfaat, tulisan saya hanya garis besar yang saya tangkap untuk lebih jelas bisa langsung cus ke channel you tube nya dr. Tiwi. Selain seminar bersama dr. Hardiono ini banyak juga materi-materi lain yang tidak kalah menarik.

Semoga bermanfaat.

-126- Cerita Kepindahan

Bismillah.

Hallo….

Hmmm bingung mau mulai dari mana. Banyak cerita dan kejadian yang ingin saya tulis tapi satu yang pasti bingung yang mana dulu.

Saya pindah. Alhamdulillah pastinya bisa lebih dekat dengan orang tua dan keluarga besar. Besok kita tidak tahu. Bisa saja kembali merantau. Tapi, paling tidak kali ini kita sudah menentukan titik balik. Jika suatu saat nanti kembali merantau paling tidak kita tahu ke mana harus pulang.

Rumah orang tua akan tetap begitu tapi kita perlu juga tempat kan, tempat yang lebih kita, lebih pribadi, identitas diri, apalah apalah…

Ke mana?

Daerah suami: Brebes. Iya kalau ditanya saya maunya yang dekat dengan kampung halaman sendiri: Majalengka. Ya gimana di sana ademmmm. Setelah keluar dari rumah waktu SMA Tahun 2002 selalu dapat daerah panas. Ya kan kangen yang adem-adem tanpa perlu AC :green:

Mau flashback awal keluar rumah, sekolah di Majalengka yang agak panas, terus kuliah di Jakarta yang yah panas, dan penempatan kerja di Kolaka yang panas, terus pindah kerja ikut suami di Wakatobi yang panasss malah sempat dengar dari seorang teman: di Wakatobi ini matahari satu orang satu 😀 . Iya panas bo.

Dan sekarang alhamdulillah pindah ke Brebes. Kalau boleh saya bilang panasnya ini mirip-mirip Cirebon.

Cerita sedikit ya tentang kepindahan kita.

Ngajuin pindah sebenarnya sudah dari Tahun 2013. Dan sejak itu tiap tahun kita mengajukan surat pindah he he he… ya harus diperjuangkan dong kalau butuh. Kita ini emang butuh mengingat anak yang semakin besar dan orang tua yang inginnya kita dekat. Terus kalo nanti merantau lagi piye? nah yang kayak gini-gini tidak usah dipikirkan.

Akhir 2015 sempat hampir tembus surat pindah kita tapi belum rejeki. Dan tahun 2016 alhamdulillah akhirnya tembus.

Dan sekarang disinilah kami.Baru beberapa hari, masih perlu banyak beradaptasi dan satu, banyak euy pegawainya. Mudah-mudahan bisa jauh lebih baik, aamiin.

Dua Tahun di Kabupaten Kolaka yang tak terlupakan. Orang-orangnya, suasana kotanya, lautnya, makanannya, semuanya rasanya masih kemarin. Rasanya baru kemarin saya naik becak dari kosan ke kantor dengan jilbab hitam bunga-bunga. Dan hari ini saya merenungi itu semua, kenapa harus jilbab hitam bunga-bunga? 😀

Rasanya baru kemarin ketika usia belum menginjak 25 tapi dikira 17. Satu ini masih berlaku sepertinya 😛

Tahun 2012 ke Wakatobi ada rasa sepi yang menyayat, biasa efek lingkungan baru harus super adaptasi. Saya emang gitu kok orangnya, rada lama menyesuaikan diri dengan situasi baru atau malahan akhir-akhir ini saya bukannya beradaptasi dengan lingkungan tapi lebih ke menerima saya yang begini. Saya yang kadang lebih senang di kesunyian, mengamati orang satu persatu dan mencoba memahami semuanya dan kemudian pening sendiri ingin jalan-jalan ke gunung wkwkwk.

Di Wakatobi yang ternyata cukup panjang perjalanan membawa dan cukup sukses memaksa saya untuk belajar terutama menghadapi orang. Setiap manusia memiliki karakter berbeda-beda disanalah saya banyak belajar. Bagaimana menghadapi teman yang lagi esmosi, yang lagi sedih atau bahkan yang baik *yang ini bukan lagi ya*.

Perempuan lebih sering make perasaan ketimbang akal, hmmm menurut saya sih emang iya, kebanyakan kita ya. Tetapi karena itulah kita harus benar-benar belajar untuk tidak melulu main perasaan, adakalanya sesuatu itu harus dicuekin walau hati inginnya tak begitu 🙂

Senangnya saya di Wakatobi ini walaupun teman-teman ngobrol rata-rata adik kelas dan belum menikah tapi ya nyambung gitu, atau sayanya yang gak tua-tua 😆 Mulai ngomongin cita-cita, politik, jalan-jalan, bercanda gak penting, sampai bumbu dapur pun oke sama mereka. Tengkiu ya semuanya…hari-hari di Wakatobi penuh warna berkat teman-teman semua. Secara saya suka bingung kalau mau menyalurkan hobi jajan dan jalan-jalan. Jajan ya itu itu saja warungnya, jalan-jalan ya kalau yang mau lebih oke harus nyebrang dimana saya gak dapet izin selalu.

Hufff semua itu kenang-kenangan yang akan saya rindukan kemudian…

dscn2789