-142- Produk Ikea Pertama

Bismillah…

Sudah lama tahu tentang produk Ikea. Sempat juga lihat-lihat di web ikeahackers, lucu, keren, ya, karena saya suka barang-barang yang sederhana tapi tujuan manfaatnya tersampaikan dengan baik. Masalah selera saja. Banyak yang suka barang-barang besar dengan detail yang rumit, saya bukan salah satunya. Selembar papan yang diplitur dan di cat putih atau coklat ditopang dua papan lainnya, itu sudah cukup bagi saya.

Ikea yang saya beli ini sebenarnya punya kantor, buat kantor, pokoknya milik kantor lah (; Dua buah magazine file fjalla *susah bet nulis apalagi ngucapinnya* apa sih? tempat nyimpen majalah bisa juga buat dokumen, buku, berkas-berkas kerjaan saya, apalah pokoknya tempat penyimpanan. Beli di tempat belanja online seperti biasa, harganya tidak persis 130 ribu freong. Okelah ya buat percobaan.

Saya lupa kapan persisnya beli, tapi pas paketnya datang saya gak sadar itu si ikea. Waktu itu sore saya pikir dapat hadiah nih dari tempat belanja online saking loyalnya saya belanja disitu 😆 Bungkusan tipis kayak triplek, masak kaca? atau buku gambar ukuran A3? ah, waktu itu saya mikirnya yang tipis-tipis.

Pas dibuka kaget dong, simpel bangetlah pokoknya. Bahannya dari kertas yang bisa di daur ulang plus print cat akrilik yang membuatnya tampak kokoh. Makanya bisa dilipat bak origami terus dipacking setipis triplek hehe…Sayang, saking penasaran saya gak sempet mendokumentasikan paketannya. Tapi posisinya kurang lebih kayak gambar di bawah pas dibuka:

Ini kalo dipegang kayak gini tipisnya, kamu nyangka ini magazine file ? 😆

Ada nomor lipatan tinggal ikuti saja. Bagi pemula seperti saya pas melipat, harap diperhatikan di lipatan terakhir nomor 3. Kalau sekiranya susah ketika memasukan lipatan jangan dipaksakan, JANGAN!!! Saya melakukannya, alhasil sedikit sobek tapi alhamdulillah karena bagian bawah dan di dalam jadinya tidak kentara. Amanlah secara penampilan. Triknya, dorong ke dalam secara bersamaan lipatan nomor satu dan dua nah nanti akan ada perluasan lubang sehingga lipatan terakhir akan lebih mudah masuk. Selamat mencoba 👌😁

Bentuk jadinya kayak gini nih plus proses saya melipat :

Ketika lipatannya direnggangkan…
Ada nomor lipatan tinggal ikutin aja…
Jadi deeehhhh (:
Rapiiii

-0- postingan yang baru terselesaikan.

Advertisements

-141- Menjawablah dengan Ilmu

Bismillah…
Beberapa waktu yang lalu saya terlibat percakapan lumayan serius dengan seorang teman. Waktu itu teman saya ini cerita tentang pengajian yang kadang ia ikuti, di mana kalau mengucap tahlil dengan gerakan yang lumayan enerjik.

Waktu itu saya langsung bereaksi kurang setuju tapi InsyaAlloh masih sopan. Saya merasa belum pernah menemukan ustadz yang mengajarkan seperti itu. Saya melakukan itu karena saya merasa sayang dengan teman saya itu oleh karena dalam femahaman saya hal seperti itu tidaklah tepat. Tapi, sayang seribu sayang keilmuan saya cetek banget, saya tidak tahu dalilnya kenapa hal tersebut kurang tepat, saya hanya merasa hal tersebut kurang tepat. Yep masalah perasaan ini, kadang juga menuntun kita pada kebenaran tapi sayang jika harus berargumen dengan perasaan tanpa fakta dalam hal ini dalil, karena hanya akan membawa kita pada perdebatan tak berujung.

Akhirnya kita mengakhiri silang pendapat ini dengan tetap pada pendirian masing-masing yang tanpa dalil tapi kita saling menghormati, alhamdulillah.

Baru saja saya mendengarkan ceramahnya Ust. Adi Hidayat di Youtube channel Ceramah Pendek. Kebetulan ada bahasan tentang menggerakan tangan ketika duduk tasyahud. Tidak persis benar masalahnya tapi begitulah seharusnya menjawab, kalau tidak mampu cukuplah bilang wallohu’alam.

Pertama kali yang beliau jawab adalah membeberkan dalilnya: Hadits Muslim halaman 913 dan At Tirmidzi halaman 296 (yang saya catat). Dalam memahami hadits ini menurut beliau para ulama berbeda pelaksanannya. Menurut Imam Malik jari telunjuk diangkat dari awal bacaan tasyahud sampai akhir tanpa digerakkan. Menurut Imam Abu Hanifah jari telunjuk diangkat pas bacaan syahadat yang menunnjuk pada kata Alloh, lantas menjatuhkannya kembali. Sementara itu pendapat Imam Ahmad adalah mengangkat ketika syahadat dan terus sampai selesai.

Namun, dari ketiga ulama tersebut tidak satupun yang menyebutkan digerak-gerakkan, Allohu’alam. Kemungkinan besar yang digerak-gerakkan bersandarkan pendapat Imam Abu Hanifah di mana setiap menyebut nama Alloh jari telunjuknya di angkat, Allohu’alam. Sehingga kesimpulannya menurut Ust. Adi bahwasanya mengangkat tanpa menggerakan lebih kuat secara dalil.

Selain itu cara menggerakkan telunjuk pun ternyata ada caranya, yaitu dengan mempertemukan jempol dan jari tengah sehingga membuat lingkaran 🙂 . Eniwe biar lebih mantap bisa disimak ceramahnya beliau:

-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.

-139- Cerita Drama

Bismillah…

Ini tentang kejenuhan semingguan ini. Super jenuhnya sampai kacau beliau. Kepala mumet, demam di sore hari, yah gitulah…

Di sela-sela itu gak sengaja ketemu drama “Goddes Of Fire”. Ekspektasi saya tentang drama ini adalah jewel in the palace. Episode awal akhirnya saya tonton juga. Episode-episode ini selain bercerita tentang ibunya Jung Yi juga bercerita tentang masa remaja usia-usia SMP kayaknya.

Diceritakan tentang Pangeran Gwanghae dan Pangeran Imhae yang sedang berburu bersama raja. Namun, karena ulah Pangeran Imhae yang memukul pantat kuda Gwanghae membuat Pangeran Gwanghae bablas ke hutan mencari kudanya. Dan tak terduga masuk ke dalam perangkap. Lubang besar di hutan yang ditutupi ranting dan dedaunan untuk menjebak binatang hutang sejenis babi hutan.

Ternyata itu lubang yang bikin si Jung Yi. Pas dia datang bengong kan lubangnya ada isi tapi bukan binatang yang dia harapkan tapi sesosok. Mereka berdua saling berpandangan bingung. Dan terjadi percakapan lucu di sini yang intinya si pangeran nanya ini lubang kamu yang buat. Terus si Jung Yi nanya juga kenapa kamu masuk ke dalam lubang tanpa seizin dia si pemilik lubang.

Dari pertemuan ini konflik antara pangeran dan Jung Yi berlanjut sampai mereka gede. Waktu kecil si Jung Yi bantu memperbaiki guci karuhun yang pecah sama si Imhae. Dan akibat kejadian ini secara tidak langsung membuat Jung Yi kehilangan ayah (angkat) nya. Nanti kamu akan tahu bahwa ayah yang membesarkan Jung Yi dari kecil sebenarnya bukan ayah kandungnya *kalau nonton 😛 *

Oya Jung Yi ini hidup karena harapan besar ibunya yang ingin menjadikan anaknya sebagai ahli keramik pertama di dinasti jo seon. Maka, dia dengan susah payah belajar untuk menjadi ahli keramik sampai nyamar jadi lelaki karena perempuan gak  boleh jadi ahli keramik di kerajaan waktu itu. Karena penyamarannya ini banyak masalah membuatnya dekat dengan Pangeran Gwanghe.

Sampai nanti si pangeran tahu bahwa si Tepyong (lupa nulisnya) itu perempuan. Dan suatu saat nanti juga pangeran akan tahu bahwa si tepyong ini adalah Jung Yi. Gadis yang dia bingung mendeskripsikannya namun kata ibu ratu Jung Yi ini cinta pertama Gwang He *meleleh kan, tapi tahu mereka gak bakalan bersatu, siapa coba sanggup menyelesaikan kisahnya?* Aku enggak :p

Ceritanya nanti Jung Yi akan benar-benar jadi ahli keramik pertama. Tapi dia tidak akan pernah bisa membalas dendam atas kematian ayah angkatnya karena ternyata otak pembunuhannya adalah ayah kandungnya sendiri. Gitulah, konfliknya lumayan. Cuma menurut saya ada hal-hal aneh yang gak bener bangetlah, kayak si Jung Yi di suatu episode jadi buta eh, dia bisa ngeliat lagi tanpa diobati. Beda kayak Jang Geum yang misal hilang indra penyecapnya dia pake sejenis binatang apa gitu untuk mengembalikan indra penyecapnya.

Harusnya yang kayak gini bisa diolah lebih ilmiah. Maksudnya sembuhnya itu bisa dijangkau akal bukan yang mejik mejik gitu hihihi.

Jadi okelah ini drama bagus banget mirip-mirip Jewel in the palace aka Dae Jang Geum. Bukan karena ceritanya, karena kalau cerita sudah pasti beda. Tapi soalan sopan santun di film. Kamu gak akan nemu yang namanya sentuhan kulit berlebihan apalagi kissing. Dan ini ya dari semua film atau drama korea yang saya tonton kenapa harus ada adegan kissing padahal itu sangat mengganggu apalagi kalau nontonnya bareng keluarga.

Dan saya paling suka nonton cerita seperti ini, mengajarkan kerja keras, tidak mudah menyerah, selalu kejar cita-citamu setinggi langit weleh weleh hiihihi. Tapi kalau dae Jang Geum saya bisa nonton sampe selesai selain saya menikmati setiap ceritanya pun karena saya tahu akhirnya happy ending. Alamat saya dapat spoiler akhir Goddes of Fire menyayat hati hiks hiks menggantung gak bisa dijangkau, saya gak sanggup. Saya sampai sekarang belum nonton episode terakhirnya ep 32. Nunggu hati siap dulu kali ya…

 

-138- Maryam Pergi Sekolah Lagi

Bismillah…

Wah sudah lama sekali ya saya gak nulis. Biasalah soalan mood 🙂 . Oh ya sekarang saya lagi sibuk banget di kantor, berangkat pagi benar dan pulang menjelang magrib 😦 . Sedih sudah pasti tapi kan hidup seperti itulah, sedih senang bergumul tiap harinya.

Ehm…rada kagok saya mau nulis, mikirnya agak lama dan jemari tidak seluwes dulu hehehe…

Sudah seminggu alhamdulillah Maryam sekolah di TK Danawangsa plus penitipan sampe jam 13.00. Rewelnya seperti waktu dulu awal-awal sekolah di Wakatobi. MasyaAlloh, fiuuuh!

Tidak mau ditinggal, nangis nemplok terus saya gak bisa gerak. Jam sudah jam 7 lewat, alhasil dua harian saya dan suami telat terus sampai kantor. Sampai akhirnya saya dan suami sepakat kalo yang antar om nya saja. Soalnya beberapa kali diantar om nya dia nurut. Yah, walaupun manyun.

Dan mulai hari rabu atau kamis, saya lupa tepatnya, Maryam sudah mulai menerima kondisinya. Ketika saya dan suami berangkat ke kantor dia sudah mulai sweet, “hati-hati ya…dadah…!”. Jadi anak yang salih ya nak. Aamiin.

Diantar tatapannya yang sebenarnya saya tahu dia sedih tapi saya yakin Maryam harus kuat, Maryam anak yang kuat dan sabar insyaAlloh, itu rasanya gado-gado.

Semoga berbicaranya tambah lancar ya Maryam. Sosialisasinya juga💕

Baru-baru ini Maryam ikut outbond ke markas TNI di Slawi. Saya temani karena hari sabtu, saya libur. Maryam senaaaang sekali. Walaupun pas jalan agak kelelahan minta digendong. Ya gimana keluling markas di siang bolong nan terik. Saya juga seneng liat Maryam berani mengikuti rintangan seperti berjalan di atas kolam untuk melatih keseimbangan. Tapi tidak semua rintangan dia suka. Kayak yang merangkak di atasnya ada kawat berduri Maryam sama sekali gak mau nyoba. Tapi kalo urusan ketinggian, manjat-manjat gitu dia super seneng, kayak siapa coba😄

Di sekolahnya tidak begitu banyak, sekitar 20 orang, dibandingkan TK umumnya ini termasuk sedikit. Ya karena sedikit berharap gurunya lebih fokus. Maryam pun tidak begitu kaget dengan suasana yang ruaame.

Tiap hari bawa bekal karena Maryam ikut penitipan sampe jam satu siang. Bekalnya minimal saya harus bawakan susu dan camilan, nasi kadang-kadang.

Itu dulu deh l

-137- Merenung saja

Bismillah…

Menulis terakhir kali yang panjang itu di sini tertanggal 18 Juni 2017, hampir dua bulan. Dan itu terasa amat panjang, kalo boleh lebay rasanya sudah setahunan lebih tidak nulis. Dua balan ini penuh cerita dan air mata yang tidak mungkin diceritakan gamblang di sini.

Hari ini…sebenarnya sama saja seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan mungkin yang dulu-dulu. Saya berangkat ke kantor meninggalkan Maryam bermain sendiri dan kemudian tenggelam dengan kesibukan kantor sampai matahari beranjak ke peraduan. Tapi siang ini karena mau bersilaturahim dengan teman yang akan berangkat haji saya dan beberapa teman keluar kantor tidak dalam rangka tugas.

Disinilah saya siang hari terik di depan BRI menunggu jemputan teman. Memperhatikan manusia yang lalu lalang, sibuk dengan harinya, iya begitulah saya, kamu, dan kita semua. Sibuk mencari rizki di siang hari.

Kadang merasa harus menari nafas dalam dan pikiran seakan buntu. Suasana ini mungkin karena sayanya aja yang lagi mmm, Entahlah…

Keramaian ini rasanya jauh…

Hari-hari tidak akan pernah sama lagi. Saya harus bergerak berfikir untuk melanjutkan ini semua. melanjutkan episode kehidupan. Ini bukan akhir tapi ujian hidup yang membuat tersadar sesadar-sadarnya bahwa hidup hanyalah sebentar, sebentar…